Sunday , October 17 2021
Home / Agama / Kajian / Nasehat Penghindar Berburuk Sangka

Nasehat Penghindar Berburuk Sangka

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang sangat ku kasihi, terinpirasi dari maraknya berburuk sangka kepada orang lain sebagai cara untuk mempopulerkan diri melalui Media Sosial yang memang menjadi alat konspirasi untuk menghilangkan Budaya Santun dan meruntuhkan Jiwa Sosial bergaul bahu membahu maka alangkah baiknya aku mengingatkan kembali nasehat ulama-ulama terdahulu untuk menyegarkan kembali ingatan kita agar menjauhkan prasangka buruk.

Dalam kitab Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Imam Abu Na’im al-Ashbahânî (330-430 H) mencatat sebuah riwayat tentang nasihat Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani:

“Ketika Bakr bin Abdullah (al-Muzani) melihat orang (yang lebih) tua (darinya), ia berkata: “Orang ini lebih baik dariku. Ia telah menyembah (beribadah kepada) Allah lebih dulu dariku.” Ketika ia melihat orang (yang lebih) muda, ia berkata: “Orang ini lebih baik dariku. Aku telah berbuat dosa lebih banyak darinya.”

Bakr bin Abdullah al-Muzani pum pernah berkata: “Berpeganglah kalian pada perkara (amal) yang jika kalian benar, kalian mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian tidak mendapatkan dosa. Berhati-hatilah dengan setiap perkara yang jika kalian benar, kalian tidak mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian mendapatkan dosa.”

Seseorang bertanya (kepada Bakr al-Muzani): “Apa itu?” Bakr al-Muzani menjawab: “Prasangka buruk (su’udzh-dzhan) terhadap manusia. Karena sesungguhnya, meskipun kalian benar, kalian tidak akan mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian mendapatkan dosa.” (Imam Abu Na’îm al- al-Ashbahânî, Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 120)

Dengan nasihatnya, Imam Bakr al-Muzani hendak menjaga manusia dari merasa lebih baik dari lainnya. Hal ini terlihat dari kebiasaan Imam Bakr al-Muzani yang selalu memandang orang lain lebih baik darinya. Karena seberapa buruknya manusia, pasti mereka pernah berbuat baik.

Kemudian Imam Bakr al-Muzani menjelaskan kebiasannya, bahwa manusia harus menjauhkan dirinya dari berprasangka buruk. Karena prasangka buruk tidak ada gunanya. “Benar tak mendapat pahala; salah mendapat dosa.” Oleh karena itu, daripada menjadi hamba yang merugi, alangkah baiknya memandang orang lain dengan prasangka baik (husnudzh-dzhan). Apalagi, jika kita renungi dalam-dalam, kita tidak selalu bersama dengan orang yang kita nilai buruk tersebut. Bisa jadi dari 24 jam waktunya, ia melakukan sesuatu kebaikan yang kita tidak ketahui. Bisa saja kebaikannya itu lebih banyak dari satu keburukan yang kita nilai seketika, bahkan mungkin lebih banyak dari kebaikan kita. Daripada terjerumus dalam kesombongan diri, kita lebih baik berprasangka baik kepadanya, apalagi jika yang kita tuduh macam-macam adalah orang yang beriman.

Imam Bakr al-Muzani menawarkan cara pandang yang menarik ketika bergaul dengan orang lain. Tidak melulu mulia-hina dan baik-buruk. Apalagi yang dihadapi adalah manusia, makhluk hidup yang terus berkembang kejiwaannya. Bukan makhluk statis yang berpikir dan berpendapat sama sejak lahir sampai mati. Karenanya, menilai manusia harus menilai seluruhnya. Jikapun harus menilai kesalahannya, nilailah dengan maksud memperbaiki, bukan sekedar menghardik dan mengutuk.

Berprasangka buruk kepada seseorang, menurut Imam Bakr al-Muzani, ialah perbuatan yang harus dihindari. Karena tidak ada gunanya jika dilihat dari sudut pandang pahala, dan sangat dekat dengan dosa. Lebih lagi, ini hanyalah “prasangka” (dzhan), bukan fakta yang benar-benar terjadi, sehingga mengandung dua kemungkinan, “benar” dan “salah.” Apalagi jika prasangka buruk itu sudah disebarkan kepada orang lain, tarafnya bisa naik menjadi fitnah jika prasangka itu salah.

Dengan nasihatnya, Imam Bakr al-Muzani hendak menjaga manusia dari merasa lebih baik dari lainnya. Hal ini terlihat dari kebiasaan Imam Bakr al-Muzani yang selalu memandang orang lain lebih baik darinya. Karena seberapa buruknya manusia, pasti mereka pernah berbuat baik.

Dalam kitab Shaid al-Khâthir, Imam Ibnu al-Jauzi menulis sebuah tema berjudul al-Mu’min wa al-Dzanb (orang beriman dan dosa). Fasal ini menjelaskan bahwa orang beriman tidak mungkin terus-menerus berada dalam dosa (al-mu’min lâ yubâlighu fîdz-dzunûb). (Imam Ibnu al-Jauzi, Shaid al-Khâthir, Kairo: Dar al-Hadits, 2005, h. 99). Artinya, iman akan selalu bersuara di sanubari manusia. Ia akan terus berbisik memulihkan manusia. Hanya saja, kelalaian dan besarnya syahwat seringkali melirihkan suaranya.

Dalam kitab tersebut, Imam Ibnu al-Jauzi sangat optimis bahwa iman akan mempengaruhi manusia dengan cara yang luar biasa, dan akan semakin membesar ketika perlahan-lahan didengarkan.

Imam Ibnu al-Jauzi memberi contoh yang sangat menarik tentang pengaruh iman kepada manusia, yaitu kisah percobaan pembunuhan atas Nabi Yusuf oleh saudara-saudaranya. Ia menulis:

فَلَمَّا خَرَجُوْا بِهِ إِلَى الصَّحْرَاءِ هَمُّوْا بِقَتْلِهِ بِمُقْتَضِيْ مَا فِي الْقُلُوْبِ مِنَ الْحَسَدِ، فَقَالَ كَبِيْرُهُمْ: (( لَا تَقْتُلُوا يُوْسُفَ وَأَلْقُوهُ فِيْ غَيَابَتِ الْجُبِّ ))، وَلَمْ يُرِدْ أَنْ يَمُوْتَ بَلْ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ، فَأَجَابُوْا إِلَى ذَلِكَ

“Ketika mereka keluar membawa Yusuf ke padang pasir, mereka berkeinginan membunuhnya karena kedengkian yang ada di hati mereka. Kemudian saudara tertua mereka berkata (QS. Yusuf: 10): “Janganlah kalian membunuh Yusuf, masukanlah saja dia ke dalam sumur.” Ia tidak ingin Yusuf mati, tapi (berharap) sebagian kelompok musafir yang melintas akan memungutnya, dan saudara-saudara lainnya setuju pada usulan saudara tertua mereka itu.” (Imam Ibnu al-Jauzi, Shaid al-Khâthir, Kairo: Dar al-Hadits, h. 99)

Dalam pandangan Imam Ibnu al-Jauzi, hal itu terjadi karena adanya iman yang muncul sesuai dengan kekuatan diri seseorang. Artinya, selama orang itu beriman (muslim) potensi berbuat baik dan menjadi baiknya sangat besar. Dalam melakukan dosa pun, hatinya terombang-ambing antara konsisten terhadap rencana awal atau tidak, seperti yang terjadi pada saudara-saudara Yusuf (baca QS. Yusuf: 9-11).

Di sinilah terjadi pertarungan antara kedengkian dan kekuatan iman. Meskipun mereka tetap melakukannya, paling tidak, perbuatannya tidak sekejam yang direncanakan. Inilah salah satu contoh cara mengambil sisi baik dari perbuatan buruk orang lain. Perbuatan buruk yang sudah benar-benar terjadi (kisah saudara-saudara Yusuf), bukan sekedar prasangka yang kebenarannya masih belum pasti.

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbi innî a’ụdżu bika an as’alaka mâ laisa lî bihî ‘ilmun, wa illâ taghfir lî wa tar-ḥamnî akum minal-khâsirîn

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak ketahui hakikatnya. Jika Engkau tidak mengampuniku dan menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang merugi.”

Wallâhu A’lam bish-Shawwâb….

About admin

Check Also

Selalu Ada Alasan Bersyukur, Termasuk Hadapi Kematian

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...