Saturday , July 24 2021
Home / Agama / Kajian / Nasab Nabi Muhammad SAW dari Garis Ayah dan Ibunya

Nasab Nabi Muhammad SAW dari Garis Ayah dan Ibunya

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudara-saudaraku dan para sahabatku, marilah kita tengok sejenak nasab silsilah atau kakek-nenek moyang seorang Manusia Pilihan, Kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad SAW. Hal ini sangat penting untuk kita telaah, agar kita bisa mengambil i’tibar dan agar terbentuk spektrum berpikir tentang Ketuhanan dari sisi penciptaan sosok manusia yang menjadi Pilihan-Nya. Ketinggian ruhaniyahnya sudah kita ulas pada beberapa artikel belakangan ini. Lalu, coba kita lihat apakah pembentuk jasadiyah beliau dari sisi nasab juga merupakan orang-orang pilihan?

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi SAW terlahir dari nasab dan keturunan orang-orang mulia dan suci. Tidak ada satupun dari mereka yang berperilaku tercela. Ada beberapa Hadits yang menyatakan bahwa Nabi SAW dilahirkan dari nasab dan keturunan orang-orang mulia.

Nabi SAW bersabda;

مَا وَلَدَنِيْ شَيْءٌ مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمَا وَلَدَنِيْ إلَّا نِكَاحٌ كَنِكَاحِ الْإِسْلَامِ ۞

“Sedikitpun aku tidak dilahirkan dari perzinahan orang-orang ahli Jahiliyah dan tidak pula aku dilahirkan kecuali dengan nikah seperti nikahnya Islam”. (HR. Imam Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no.10812 10/329)

Pada Hadits lain Nabi SAW bersabda;

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى أَنْ وَلَدَنِي أَبِي وَأُمِّي، لَمْ يُصِبْنِي مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ شَيْءٌ ۞

“Aku lahir dari pernikahan dan tidaklah aku dilahirkan dari perzinaan mulai dari Nabi Adam sampai aku dilahirkan oleh ayah ibuku. Tidak ada kebejatan jahiliyah sedikitpun dalam nasabku”. (HR. Al-Ajurry dalam kitab Al-Syari’ah no. 957. Syaikh Al-Albani menilainya Hasan. Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, 1/613).

Berikut ini kami kutipkan nasab ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hisyam dalam kitab Al-Sirah Al-Nabawiyah. Adapun nasab Nabi SAW dari jalur ayahnya adalah sebagai berikut;

هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللّٰهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ – وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ بن هَاشِمِ – وَاسْمُ هَاشِمِ: عُمَرُو بن عَبْدِ مَنَاف – وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ: المغِيْرَةُ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مَالِكِ بن النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ – واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَّ – ويقالُ أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ – خَلِيْلُ الرَّحْمَنِ – بن تَارِحْ – وهوَ آزَر – بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذْ بن سَامْ بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ – وَهُوَ إِدْرِيْسُ النَّبِيّ – وَكَانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِيَ النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ – ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ۞

Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib -nama asli Abdul Muttalib adalah Syaibah bin Hasyim- nama asli Hasyim adalah Umar bin Abdu Manaf -nama asli Abdu Manaf adalah Mughirah- bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah -nama asli Mudrikah adalah ‘Amr- bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan bin Udda -dilafalkan juga Udada- bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim -Khalil al-Rahman- bin Tarih -dia adalah Azar- bin Nahur bin Sarug bin Ra’u bin Falikh bin Aybar bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh bin Lamakh bin Mattu Syalakh bin Akhnukh -dia adalah Nabi Idris, bani Adam pertama yang dianugerahi kenabian dan baca tulis- bin Yard bin Malayil bin Qainan bin Yanisy bin Syits bin Adam ‘alaihis salam.

Adapun dari jalur ibunya adalah sebagai berikut;

هِيَ آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ ( وَأُمُّهَا بَرَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْعُزَّي بن عُثْمَانَ بن عَبْدِ الدَّارِ بن قُصَيِّ بن كَلَاب). وَأُمُّهَا أُمُّ حَبِيْبِ بنت أَسَد بن عَبْدِ الْعُزَّى بن قُصَيِّ بنِ كِلَاب ۞

Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. (Ibunya Sayidah Aminah adalah Barrah binti Abdul ‘Uzza bin Utsman bin Abdul Dar bin Qushay bin Kilab). Ibunya Barrah binti Abdul ‘Uzza adalah Ummu Habib binti Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab.

Dalam kitab ‘Allimû Aulâdakum Mahabbat Rasûlillâh, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Nabi Muhammad terlahir dari keturunan yang dijaga oleh Allah swt.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّهُ كَانَ نُوْرًا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ تَعَالَى قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، يُسَبِّحُ ذَلِكَ النُّوْر، وَتُسَبِّحُ الْمَلَائِكَةُ بِتَسْبِيْحِهِ، فَلَمَّا خَلَقَ آدَمَ أَلْقَى ذَلِكَ النُّوْرُ فِي صُلْبِهِ ۞

“Dari Ibnu Abbas RA; sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah cahaya yang telah dijaga oleh Allah SWT selama dua ribu tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam AS, lalu ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS, Ia meletakkan cahaya tersebut di tulang sulbi Nabi Adam AS”.

Perbincangan mengenai silsilah Nabi Muhammad SAW sudah mencuat bahkan sejak masa awal kenabiannya. Kaum Yahudi ketika itu meragukan Muhammad sebagai utusan Allah. Mereka meragukan nasab silsilah beliau. Sebab menurut keyakinan mereka, nabi yang diutus belakangan haruslah berasal dari keturunan Bani Israil. Nah, Bani Israil itu sendiri merujuk pada keturunan Yahuda bin Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim.

Dengan nada ketus orang Yahudi bertanya-tanya, “Siapa sih Muhammad ini? Berani-beraninya dia mengaku sebagai utusan Tuhan.”

Namun orang Quraisy membuktikan melalui silsilah bahwa Muhammad SAW juga merupakan keturunan Ibrahim AS. Hal ini kemudian meruntuhkan keraguan kalangan Yahudi atas status kenabian Muhammad SAW.

Rasulullah SAW menegaskan nasabnya;

عَنْ أَبِيْ عَمَّار بن شَدَّاد أَنَّهُ سَمِعَ وَاثِلَة بن الْأَسْقَع يَقُوْلَا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ اللّٰهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةِ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِم وَاصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ هَاشِم ۞

Dari Abi Ammar bin Syaddad bahwa Ia mendengar Watsilah bin Asqa’ berkata saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt telah memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail a.s dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim”. (H.R Muslim)

Perhatikan penjelasan garis nasab Rasulullah SAW secara komprehensif baik dari ayahnya maupun dari ibunya oleh filolog muslim:

Para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat mengenai rincian nasab Rasulullah di atas Adnan. Jumhur ulama sepakat tentang silsilah dari Abdullah sampai Adnan, sedangkan silsilah dari Adnan ke atas, para ulama berbeda pendapat.

Misalnya, dalam riwayat yang dikutip oleh Imam Ibnu Hisyam, Adnan merupakan anak Udda yang terkadang disebut dengan Udada, sedangkan dalam riwayat Sayyidina Ibnu Abbas, Udda merupakan anak dari Udada. Padahal sebenarnya Udda dengan Udada dari segi mujarrad tashrîfiy (perubahan kepada bentuk asli) adalah sama saja.

Selain itu, banyak perbedaan penulisan nama dari mulai Adnan ke atas. Pasalnya, kebanyakan dari nama-nama tersebut adalah nama non-Arab sehingga dalam penulisannya para periwayat terdahulu hanya bisa memperkirakan. Padahal keraguan itupun sudah jelas terjawab dan hal itu (penyerapan bahasa Semitik menjadi bahasa Arab) memang sudah sewajarnya terjadi. Sebab induk dari bahasa Arab adalah bahasa Semitik yang sudah muncul dan dipakai sejak zaman Nabi Nuh AS. Al-Qur’an pun banyak pula menggunakan istilah-istilah yang berasal dari rumpun bahasa Semitik, seperti Ibrani, Suryani, Aramik, dsb.

Sahabatku, mengetahui nasab silsilah Nabi Kita Muhammad SAW sangat penting artinya bagi kita. Supaya kita bisa bercermin tentang arti pentingnya keturunan yang dilahirkan dari prosesi pernikahan yang sah, baik lahir maupun bathin. Bayangkan, jika sebuah bangsa tidak menata cara berketurunan yang baik serta melalui prosesi yang juga baik dan benar. Akan seperti apa jadinya jika sebuah bangsa dipimpin oleh anak-anak bangsa hasil perzinahan? Na’ûdzu billâhi min dzâlik (Kita berlindung kepada Allah dari hal itu).

Semoga kita selalu dibimbing oleh Allah SWT untuk berpegang teguh pada nilai-nilai yang membentuk pandangan-pandangan visioner dalam hal berketurunan sesuai tuntunan-Nya, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

About admin

Check Also

Tuntutan Berkorban Demi Cinta

Oleh: Ahmad Baihaqi بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...