Home / Agama / Kajian / Nafasnya Seorang ‘Arief Billah

Nafasnya Seorang ‘Arief Billah

Oleh: Dr. Supardi, S.H., M.H., als. Rd Mahmud Sirnadirasa*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Was-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Sahabatku, semoga Allah melapangkan dadamu dari himpitan kesulitan pikiran dalam menghadapi kehidupan ini, semoga engkau diberi kebahagiaan dalam berumah tangga hari ini dan seterusnya dengan keberkahan ilmu ma’rifat yang sedang engkau pelajari.

Telah berkata Mursyid kami yang mulia Abah Guru Sekumpul:

Abah Guru berkalam :

نَفَسٌ وَاحِدَةٌ مِنْ عَارِفٍ بِاللّٰهِ اَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْمُتَعَبِّدِيْنَ اَبَدًا سَرْمَدَا

Nafasun wãhidatun min ‘ãrifin billãhi afdhalu min ‘ibãdatil muta’abbidîna abadan sarmadan

“Sekali tarikan nafas seorang yang telah mengenal Allah (Arif Billah), lebih utama dari ibadahnya para ahli ibadah selama-lamanya.”

Tentunya kita sudah sering membaca dalam kitab-kitab bagaimana tingginya kedudukan orang berilmu di hadapan Allah SWT sebagaimana Sufyan bin ‘Uyainah RA berkata:

أَرْفَعُ النَّاسِ عِنْدَ اللّٰهِ مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللّٰهِ وَبَيْنَ عِبَادِهِ وَهُمُ الْأَنْبِيَآءُ وَالْعُلَمَآءُ

“Kedudukan tertinggi manusia di sisi Allah adalah para Nabi dan ‘Ulama (orang yang berilmu)”

Pujian kepada seorang ‘Arif Billah pun telah dilontarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana haditsnya :

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَوْمُ الْعَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi saw. bersabda, “Tidurnya seorang yang berilmu (yakni orang alim yang memelihara adab ilmu) lebih utama dari pada ibadahnya orang yang bodoh (yang tidak memperhatikan adabnya beribadah).”

Marilah bersama-sama kita menuntut ilmu dengan segenap kekuatan yang kita miliki, semoga Allah mencintai kita semua dengan sebab itu.

Mu’adz bin Jabal ra. Berkata:

تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ حَسَنَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ وَبَذْلُهُ قُرْبَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ

“Belajarlah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu adalah suatu kebaikan, mencari ilmu adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, membahas suatu ilmu adalah jihad, bersungguh-sungguh terhadap ilmu adalah pengorbanan, mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak memiliki pengetahuan adalah sedekah”

Saudaraku, sesungguhnya Allah itu Al-‘Ãlim (Maha Berilmu/Maha Mengetahui) dan Dia mencintai orang alim sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga memuji orang yang berilmu, sebagaimana tersebut dalam beberapa haditsnya, seperti yang terdapat dapat Kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din bab Adab al-‘Ilm, sebagai berikut:

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَوْحَى اللهُ إِلَى إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّيْ عَلِيْمٌ أُحِبُّ كُلَّ عَلِيْمٍ

“Diriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda: Allah SWT memberi wahyu kepada Ibrahim AS: sesungguhnya Aku ‘Alim (Maha Mengetahui), Aku (Allah) mencintai orang-orang yang berilmu”.

Ku tutup risalah kecil ini dengan do’a :

اَللّٰهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allãhumma innî as-aluka ‘ilman nãfi’an wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalã

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima”

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

Pekanbaru, 14 Maret 2023

_____________

* Kepala Kejaksaan Tinggi Riau

 

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...