Home / Agama / Kajian / Nabi Khidir dan Lima Pesan Misterius

Nabi Khidir dan Lima Pesan Misterius

“Khidir AS merupakan seorang nabi. Kisahnya dengan Nabi Musa AS diceritakan dalam al-Quran. Ada pula kisah-kisah lainnya yang berkaitan dengannya. Di antaranya termaktub dalam Jurnal 1001 Kisah Teladan Muslim”.

Oleh: Hasanul Rizqa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wasshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn“.

Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi mendapat perintah. Perintah tersebut berbunyi: “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi mengarah ke barat.” Begitu bunyi bait pertama kepada Nabi Khidir.

Masih di dalam tidurnya, Nabi Khidir AS menerima lima perintah yang harus dikerjakannya dengan segera jika ingin mendapatkan ridha Allah SWT. “Engkau juga dikehendaki berbuat, pertama apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua engkau sembunyikan, ketiga engkau terimalah, keempat jangan engkau putuskan harapan, dan yang kelima larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi Khidir AS itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat. Baru beberapa kilometer keluar dari rumahnya, Nabi Khidir AS dipertemukan dengan perintah pertama. Namun, Nabi Khidir AS bingung karena yang diperintahkan pertama itu adalah memakannya. Sementara yang ia temui adalah sebuah bukit.

Karena kebingungan itu, ia bergumam dalam hatinya: “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika ia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti.

Maka Nabi Khidir AS itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Ia pun mengucapkan syukur.

Alhamdulillah, perintah pertama sudah aku kerjakan semoga Allah SWT memudahkan pelajaran yang tersirat ini,” katanya.

Setelah menyelesaikan perintah pertama, Nabi Khidir AS meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas.

Ia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan. Untuk itu ia bersegera menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu dan kemudian ia tinggalkan begitu saja.

Setelah meninggalkan beberapa langkah. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar seperti semula. Nabi itu pun menanamkannya kembali. Kejadian itu berulang-ulang hingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi Khidir AS. “Aku telah melaksanakan perintah-Mu ya Allah.”

Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Anehnya, ia kembali mengalami peristiwa serupa. Tanpa disadari, Nabi Khidir AS melihat mangkuk emas tersebut untuk kesekian kalinya, keluar dari tempatnya ditanam. Namun, Nabi Khidir AS kali ini tidak mempedulikannya.

Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba ia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian burung kecil yang terlihat kelelahan itu menghampiri Nabi Khidir dan berkata. “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku,” pintanya dengan napas tersengal-sengal .

Mendengar permintaan burung yang memelas itu. Nabi Khidir pun langsung meraih burung itu dan memasukkan ke dalam bajunya agar tidak diterkam burung elang yang sedang lapar itu.

Namun, burung elang mengetahui kalau mangsanya telah disumbunyikan oleh Sang Nabi. Elang pun datang menghampiri Nabi Khidir AS dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu, janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Karena keduanya membutuhkan pertolongannya, Nabi Khidir pun sempat kebingungan. Namun ia teringat pesan dan arahan keempat yang muncul dari mimpinya, yaitu hendaknya ia tidak memutuskan harapan.

Akhirnya ia membuat keputusan untuk mengambil pedang lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu.

Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dan melepaskannya ke alam bebas.

Usai kejadian itu, Nabi Khidir AS meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya. Ia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup aroma yang sangat menyengat itu.

Setelah menemui kelima peristiwa itu, Nabi Khidir pulang ke rumahnya. Pada malamnya, Nabi Khidir AS pun berdoa. Dalam doanya ia berkata, “Ya Allah, aku telah melaksanakan sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini,” katanya dalam doanya di malam hari itu.

Tidak lama setelah berdoa Nabi Khidir AS tertidur dan kembali bermimpi. Dalam kesempatan mimpi kali ini, ia mendapatkan jawaban atas keseluruhan perintah yang ditujukan kepadanya itu.

“Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya tampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis dari pada madu. Kedua, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan tampak juga. Ketiga, jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat, jika orang meminta kepadamu, berusahalah membantunya, meski sejatinya engkau tengah ada suatu kepentingan. Kelima, bau yang busuk itu ialah ghibah atau menceritakan hal seseorang. “Maka larilah dari orang orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah,” kata Allah.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

____________

Source: Republika.Co.Id

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...