Wednesday , October 20 2021
Home / Downloads / Munajat Syeikh Ibnu Athaillah Assakandary di Kitab al-Hikam

Munajat Syeikh Ibnu Athaillah Assakandary di Kitab al-Hikam

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Kitab al-Hikam begitu populer di Dunia Islam bahkan sampai saat ini. Al-Hikam pada awalnya merupakan hasil pendiktean (imla’) yang dilakukan Syeikh Ibnu ‘Atha’illah kepada salah seorang muridnya, Syeikh Taqiyyuddin as-Subki (w 756 Hijriyah), yang juga bermazhab Syafii.

Belakangan, Syeikh Ahmad Zarruq (w 899 Hijriyah), seorang guru Tarekat Syadziliyah, menemukan hasil dikte ini dari seorang pakar hukum bermazhab Syafii, Syamsuddin as-Sakhawi pada 876 H di Kairo. Sanad atas al-Hikam telah ada sejak di tangan Syeikh Taqiyyuddin as-Subki.

Syeikh Ahmad Zarruq sendiri sudah menulis 30 syarah atas al-Hikam. Kitab ini diduga ditulis pertama ketika Syeikh Ibnu ‘Atha’illah masih berguru pada Syekh Abu al-Abbas al-Mursi pada 674 hijriah.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa al-Hikam ditulis dalam masa 12 tahun. Kata hikam merupakan bentuk jamak dari kata bahasa Arab, hikmah yang bermakna ‘bijaksana.’

Victor Danner dalam buku Mistisisme Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan, al-Hikam disusun dalam tiga bagian pokok, yakni aforisme, risalah, dan doa. Ada 262 aforisme dan 25 bab dalam keseluruhan al-Hikam. 

Kendati begitu, dalam bentuk awalnya al-Hikam tidak tersusun ke dalam bab-bab. Para murid Syeikh Ibnu ‘Atha’illah kemudian yang merasa perlu merapikannya. Tema dasar al-Hikam adalah makrifat dan tauhid, yaitu bahwa Allah adalah Zat yang al-Haq. 

Kitab al-Hikam diakhiri dengan untaian munajat yang bernilai puitis pula. Syeikh Ibnu ‘Atha’illah memandang munajat sebagai momentum yang urgen dalam membangun hubungan hablum minaallah.

Kuncinya adalah tersingkirnya kesombongan dalam qalbu manusia. Sebab, rasa cinta Tuhan hanya bisa diperoleh melalui sikap berserah diri secara utuh tanpa paksaan, tanpa pura-pura.

إِلٰهِيْ، مَا أَلْطَفَكَ بِيْ مَعَ عَظِيْمِ جَهْلِيْ، وَمَا أَرْحَمَكَ بِيْ مَعَ قَبِيْحِ فِعْلِيْ . إِلٰهِيْ، مَا أَقْرَبَكَ مِنِّيْ وَمَا أَبْعَدَنِيْ عَنْكَ .

“Tuhanku. Betapa lembut Engkau padaku meski besarnya kebodohanku. Tuhanku. Betapa kasih Engkau padaku meski buruknya perbuatanku. Tuhanku. Betapa dekat Engkau padaku dan betapa jauh aku dari-Mu.”

مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَكَ وَمَا الَّذِيْ فَقَدَ مَنْ وَجَدَكَ، لَقَدْ خَابَ مَنْ رَضِيَ دُوْنَكَ بَدَلاً، وَلَقَدْ خَسِرَ مَنْ بَغَى عَنْكَ مُتَحَوَّلاً .

“Apakah yang didapat oleh orang yang kehilangan-Mu, dan apakah yang dirasakan kurang bagi orang yang telah menemukan-Mu? Sungguh malang orang yang merasa puas dengan sesuatu selain-Mu, dan sungguh telah merugi orang yang ingin berpindah dari-Mu.”

Untuk lebih lengkapnya, silahkan download ebook “Munajat Cinta Imam Ahmad” berformat pdf., di bawah ini. Atau sekedar dibaca secara online:

About admin

Check Also

Nasehat Penghindar Berburuk Sangka

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...