Home / Agama / Kajian / Merindukan Pemimpin Bijak

Merindukan Pemimpin Bijak

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn“.

Melanjutkan artikel saya terdahulu yang berjudul “Jadi apa, tidak jadi apa-apa, tidak apa-apa” maka saya lanjutkan tentang figur pemimpin yang diharapkan.

Tentang figur seorang pemimpin yang bijak, Mursyid kami mengatakan bahwa seorang pemimpin bijak biasanya adalah seorang pemimpin yang diangkat tanpa pernah mempunyai ambisi untuk menjadi pemimpin namun benar-benar seperti air mengalir, yang diangkat terdorong oleh umatnya yang menghendaki untuk dipimpin. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلَّاكَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّا وَاللّٰهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ ۞

“Dari Abu Musa al-Asy’ari ra., ia berkata: bersama dua orang saudara sepupu, saya mendatangi Nabi Saw. kemudian salah satu diantara keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, berilah kami jabatan pada sebagian dari yang telah Allah kuasakan terhadapmu”. Dan yang lain juga berkata begitu. Lalu beliau bersabda: “Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pejabat karena memintanya, atau berambisi dengan jabatan itu”.”

Demikian juga Rasulullah SAW yang mulia bersabda :

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلَّاكَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ الْآخَرُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ۞

“Dari Ibn Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah SAW Berkata: ”Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelola harta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu, kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.”

Kisah Khalifah Harun Ar-Rasyid dapatlah menjadi gambaran dan contoh bagi kita tentang seorang sosok pemimpin bijak.

Pada satu malam musim panas di Baghdad, Khalifah Harun Ar-Rasyid berniat meninjau keadaan masyarakat secara langsung. Dia ditemani menteri sekaligus teman kecilnya, Ja’far Al-Barmaki. Mereka menyamar sebagai kafilah pedagang dari jauh.

Khalifah mendekati toko seorang penjual pisau belati buatan Suriah.

“Berapa harga belati ini?” Tanya Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Pedagang itu menjawab, “Delapan Dirham.”

Khalifah Harun Ar-Rasyid tercengang oleh harga semahal itu untuk sebilah belati. Penjual itu hanya bisa mengeluh. Dia harus membayar pajak yang selalu naik. Ditambah pula, tingginya harga sewa toko dan pungutan uang keamanan.

Dia juga dipaksa memberi amplop kepada setiap pejabat agar urusannya cepat ditangani. Tidak ada pilihan selain menaikkan harga dagangan. Tak segan, orang Arab penjual itu mencela Khalifah Harun Ar-Rasyid karena sibuk membangun istana baru dengan dinding-dinding emas dan perak. Lagi pula, ia juga tidak pernah melihat wajah Khalifah.

Sebelum pergi, khalifah yang sedang menyamar itu memberikan sekeping Dirham emas keluaran terbaru. Karena ragu, penjual itu sampai menggigitnya untuk membuktikan keaslian emas yang baru saja diterimanya.

Keesokan hari, Harun Ar-Rasyid mengadili semua pejabat yang berwenang dan aparat penjaga keamanan yang terbukti memeras dan menerima suap. Dia juga memerintahkan aturan perpajakan dievaluasi ulang agar tidak memberatkan rakyat.

Keputusan Khalifah Harun Ar Rasyid di atas tidak mungkin terjadi seandainya ia tidak mengetahui kondisi rakyatnya. Sebagai pemimpin, ia menyadari kekuasaan adalah amanat. Jalan terbaik mempertanggungjawabkannya adalah dengan mengayomi masyarakat. Setiap tanda tangan yang dibubuhkan di surat keputusan, tidak akan luput dari pengadilan akhirat kelak.

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyat yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Pemimpin yang merakyat akan mengorientasikan setiap kebijakan pada asas keadilan yang bercermin pada kondisi masyarakatnya. Bukan sebaliknya, merebut hati rakyat di awal pemilihan, lalu melupakannya ketika sudah menduduki kursi jabatan. Yang diharapkan rakyat dari pemimpinnya adalah berlaku adil dan berbuat baik. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۞

“Rendahkanlah sikapmu kepada orang yang mengikutimu dari kaum mukminin.” (QS. As-Syu’ara’ [26]: 215).

Pemimpin yang merakyat akan dicintai rakyat karena memudahkan urusan yang dipimpinnya. Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada setiap pemimpin untuk memperhatikan setiap kebutuhan rakyat dan melarang mempersulit urusan mereka.

Dari Abdurrahman bin Syimasah, ia berkata: “Aku menemui Aisyah istri Rasulullah SAW untuk menanyakan tentang suatu hal. Dia berkata: “Akan aku sampaikan padamu apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah SAW, bahwa dia pernah berdoa di rumahku: “Ya Allah, barangsiapa yang menguasai urusan umatku lalu mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia dan barangsiapa yang menguasai urusan umatku lantas bertindak lemah lembut pada mereka, maka kasihilah dia”.” (HR Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhus Shalihin menerangkan bahwa sesuai petunjuk Hadits di atas, setiap pemimpin berkewajiban berlemah lembut kepada rakyat, berbuat baik dan mewujudkan kemaslahatan bagi mereka.

Semoga kita dikaruniai pemimpin yang merakyat dan bijaksana, yang bekerja sepenuhnya untuk rakyat, seperti yang telah dilakukan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

___________________

*Dr. Supardi, SH., MH., Kepala Kejaksaan Tinggi Riau.

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...