Home / Agama / Kajian / Merekonstruksi Kedatangan Ya’juj dan Ma’juj Menurut Syaikh Imran Hossein

Merekonstruksi Kedatangan Ya’juj dan Ma’juj Menurut Syaikh Imran Hossein

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Dalam al-Quran, kata Ya’juj dan Ma’juj hanya disebut 2 (dua) kali. Pertama dalam QS. Al-Kahfi: 94, dan kedua dalam QS. Al-Anbiya’: 96. Di penyebutan yang pertama, Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai kelompok yang melakukan pengrusakan di muka bumi. Sedangkan di penyebutan yang kedua, Ya’juj dan Ma’juj dikabarkan akan menyebar ke berbagai penjuru setelah mereka berhasil menghancurkan tembok penghalang yang didirikan Dzul Qarnain.

Teks kedua ayat tersebut adalah:

قَالُوْا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِنَّ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلٰٓى اَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا ۞

“Mereka berkata, “Wahai Zulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj adalah (bangsa) pembuat kerusakan di bumi, bolehkah kami memberimu imbalan agar engkau membuatkan tembok penghalang antara kami dan mereka?” (QS. Al-Kahfi [18]: 94)

حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ ۞

“Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi”. (QS. Al-Anbiya [21]: 96)

Siapa Ya’juj dan Ma’juj sehingga perlu untuk menaruh perhatian terhadapnya?

QS. Al-Kahfi mengisahkan perjalanan Dzul Qarnain hingga bertemu dengan suatu kaum yang berada di antara dua gunung dan tidak memahami pembicaraan. Kaum tersebut meminta bantuan kepadanya untuk dibuatkan tembok penghalang yang mampu melindungi mereka dari sifat merusak Ya’juj dan Ma’juj. Dikabarkan bahwa tembok penghalang tersebut (atas rahmat Allah SWT) tidak akan hancur sampai waktu yang dijanjikan tiba.

Quraish Shihab menafsirkan bahwa janji tersebut adalah menjelang datangnya hari kiamat (Shihab: 376). Pada saat itu, tembok tersebut akan hancur rata dengan tanah (Al-Qurthubi: 390). Ia juga bisa bermakna ketidakfungsian tembok tersebut sebagai penghalang sebab pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Thabathaba’i: 397-398). Jika merujuk ke pendapat terakhir, maka keluarnya Ya’juj dan Ma’juj mempunyai benang merah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah tembok penghalang tersebut hancur? Jika sudah, kapan? Apa buktinya? Dalam sebuah hadits yang sudah teruji nilai kesahihannya, disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW terbangun dari tidurnya dengan wajah yang memerah. Beliau SAW kemudian berkata,

لآ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهِ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرِّ قَدْ اِقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمُ مِنْ سَدِّ “يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ” مِثْلَ هَذِهِ، وَحَلَقَ بِإِصْبِعِهِ الْإِبْهَامَ وَالَّتِيْ تَلِيْهَا، قَالَتْ لَهُ زَيْنَبٌ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أَنْهَلَكَ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ (رواه البخاري) .

“Tiada Tuhan selain Allah SWT Celakalah orang-orang Arab karena keburukan sudah dekat. Hari ini, benteng Ya’juj dan Ma’juj telah dibuka seperti ini. Lalu beliau SAW melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuk.”

Sebagai Nabi akhir zaman, pengabaran beliau SAW mengenai mulai terbukanya tembok penghalang Ya’juj dan Ma’juj dapat bermakna telah dekatnya hari yang dijanjikan (kiamat). Menyikapi kabar ini, ulama berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj saat ini masih belum keluar dari tembok penghalang yang didirikan Dzul Qarnain, sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj sudah keluar dan menyebar ke berbagai penjuru untuk ‘kembali’ melakukan pengrusakan di muka bumi.

Dalam tulisan ini, penulis akan mengungkap identitas Ya’juj dan Ma’juj menurut penafsiran Imran Hossein. Alasannya adalah selain bahwa tokoh yang mengkaji Ya’juj dan Ma’juj terbilang minim, Imran Hossein mempunyai penafsiran yang di luar mainstream pandangan umat Islam. Bermula dari pra-pemahaman dan penggunaan metodologi yang ia gunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, ia kemudian menghasilkan produk tafsir yang bisa dibilang provokatif.

Imran Hosein: Pra-Pemahaman dan Metodologi Penafsiran

Pemikiran keagamaan Imran Hossein sangat dipengaruhi oleh gurunya, Fazlur Rahman Ansari. Ketertarikannya bermula dari ceramah Ansari yang menghubungkan antara Islam dan Sains, termasuk kemampuannya dalam ‘mengungkap’ fakta di balik kemajuan peradaban Barat. Keterpengaruhan inilah yang nantinya tampak dalam penggunaan metodologi ketika ia menafsirkan al-Quran .

Mengenai al-Quran, Imran Hossein meyakini bahwa ayat-ayatnya memiliki keterkaitan satu dengan lainnya; tidak berdiri sendiri. Keterkaitan antar ayat ini menurutnya hanya bisa diketahui oleh apa yang ia sebut sebagai ‘sistem makna’ (Hosein: 69). Kemampuan dalam mengetahui sistem makna ayat-ayat al-Quran berimplikasi pada kemampuan memahami weltanschauung ayat tersebut.

Dalam proses menafsirkan al-Quran, Imran Hossein menetapkan aturan dalam penggunaan sumber penafsiran. Pertama, sebelum menggunakan sumber penafsiran lain, ia selalu mendahulukan keterhubungan antar-ayat. Kedua, menggunakan hadits sejauh ia tidak bertentangan dengan al-Quran. Ketiga, melakukan pentakwilan atas ayat-ayat mutasyabihat. Keempat, menggunakan data-data eksternal (kitab suci agama lain dan data-data sejarah).

Yang menarik dari Imran Hosein adalah penggunaan takwil dalam proses penafsirannya. Hal ini merupakan implikasi dari penafsirannya terhadap QS. Ali Imran: 7. Menurutnya, bukan hanya Allah SWT yang mampu mengetahui takwil atas ayat-ayat mutasyabihat, tetapi mereka yang diberi kebijaksanaan dan kebaikan dari Allah SWT pun mampu (Hosein: 73-74).

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۞

“Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ulul-albab”. (QS. Ali Imran [3]: 7)

Lebih spesifik, ‘mereka’ yang dimaksud oleh Imran Hosein adalah kaum sufi. Yakni mereka yang diberi kemampuan untuk melihat realitas melalui mata eksternal dan mata internal, layaknya Khidr as. Mereka melihat dengan nur Allah. Mereka inilah yang mampu menghubungkan kemungkinan makna ayat al-Quran dengan peristiwa yang berlangsung sepanjang jalannya sejarah.

Keterangan tersebut jelas memperkuat klaim kemanusiaan Ya’juj dan Ma’juj, dan menolak penisbatan karakteristik Ya’juj dan Ma’juj yang digambarkan layaknya monster

Identifikasi Ya’juj dan Ma’juj

Secara terminologi, Ya’juj dan Ma’juj dibentuk dari akar kata yang bisa berarti nyala api, sesuatu yang sangat panas, atau air yang sangat asin. Selain itu, ia juga bisa berarti berjalan dengan cepat layaknya sedang menyerang musuh (Ibn Mandzur: 30-31). Sedangkan posisinya sebagaimana dimaksud dalam al-Quran,  ia bermakna dua umat atau dua qabilah yang hidup di belakang tembok penghalang yang dibangun Dzul Qarnain (Ath-Thabari: 388).

Pada dasarnya, pendapat tersebut masih bersifat problematis. Belum ada kesepakatan final. Misalnya, ada juga yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj mempunyai akar kata bahasa China, yakni “Ya Jou” (Ya: Asia, Jou: Benua) dan “Ma Jou” (Ma: Kuda, Jou: Benua). Pendapat ini diungkapkan oleh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid. Perbedaan pendapat ini bisa dibilang wajar, sebab al-Quran  sendiri tidak pernah menjelaskan secara spesifik.

Akan tetapi, di balik ragam pendapat itu, ada kesepahaman bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari bangsa manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj merupakan anak keturunan Nabi Nuh dari jalur Yafits. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa argumentasi mufasir yang menyebutkan ciri Ya’juj seperti bangsa Turki, atau seperti bangsa Tatar dan Mongol.

Keterangan tersebut jelas memperkuat klaim kemanusiaan Ya’juj dan Ma’juj, dan menolak penisbatan karakteristik Ya’juj dan Ma’juj yang digambarkan layaknya monster. Penggambaran Ya’juj dan Ma’juj layaknya monster di antaranya dibahas dalam Jewish Encyclopedia yang ditulis Emil G. Harch dan Mary W. Montgomery.

Dalam ensiklopedia tersebut disebut Ya’juj dan Ma’juj memiliki tubuh yang ‘berbeda’ dengan manusia normal lainnya. Misalnya disebutkan bahwa saking lebarnya daun telinga mereka, satu sisinya bisa dijadikan alas, sementara sisi yang lain bisa dijadikan selimut. Terkesan berlebihan, tetapi nyatanya memang terdapat pendapat yang demikian.

Proses Identifikasi (1)

Identitas Ya’juj dan Ma’juj bisa diketahui melalui pelacakan ke wilayah mana Dzul Qarnain melakukan perjalanan. Menurut Imran Hossein, mulanya Dzul Qarnain menempuh perjalanan ke wilayah Laut Hitam. Sedangkan perjalanannya yang kedua ke wilayah Laut Kaspia. Bagaimana Imran Hossein bisa berkesimpulan demikian?

Menurutnya, lokasi di mana tembok penghalang tersebut dibangun harus berada di sebelah utara Yerussalem. Hal ini didasarkan pada informasi dalam sebuah hadits yang menyebut Ya’juj dan Ma’juj akan melewati Danau Tiberias untuk selanjutnya menuju ke Yerussalem. Secara geografis, Danau Tiberias berada di antara Yerussalem dan Laut Hitam-Laut Kaspia. Lalu untuk apa Ya’juj dan Ma’juj menuju Yerussalem? Tiada lain kecuali untuk merebut kembali ‘Tanah Terjanji’.

Proses Identifikasi (2)

Lalu ke mana Dzul Qarnain dan pasukannya melakukan perjalanan yang ketiga? Keterangan yang bisa digali dari al-Quran hanyalah Dzul Qarnain menempuh perjalanan hingga sampai di celah di antara dua gunung. Di sana ia bertemu dengan suatu kaum yang tidak memahami pembicaraan.

Berangkat dari keterangan tersebut, Imran Hossein mengambil kesimpulan bahwa perjalanan ketiga Dzul Qarnain adalah ke wilayah Pegunungan Kaukakus. Ada dua syarat yang harus dipenuhi jika menetapkan lokasi perjalanan Dzul Qarnain yang ketiga. Pertama, pegunungan tersebut harus mempunyai celah (antara dua gunung) yang membentang jauh. Kedua, harus ada suatu kaum yang bahasanya terisolir dari daerah sekitarnya.

Pegunungan Kaukakus memenuhi syarat pertama. Pun demikian dengan syarat yang kedua.

Proses Identifikasi (3)

Menurut Imran Hossein, arah perjalanan Dzul Qarnain yang ketiga adalah utara. Implikasinya adalah, di sebelah selatan Pegunungan Kaukakus harus ada suatu kaum yang tidak memahami pembicaraan. Di sekitar Pegunungan Kaukakus terdapat satu bahasa yang terisolir dari daerah lainnya, yakni bahasa Georgia. Diduga, bahasa Georgia masuk dalam rumpun bahasa pra-Indo-Eropa, dan terisolir selama kurang-lebih 5000 tahun.

Komunikasi mereka terputus sebab masing-masing di antara mereka tidak memahami pembicaraan satu sama lain. Ada yang mengatakan, mereka kemudian berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa mereka berkomunikasi setelah berusaha memahami pembicaraan satu sama lain.

Setelah mampu berkomunikasi, kaum tersebut meminta Dzul Qarnain dan pasukannya untuk membuatkan tembok penghalang (saddun) yang mampu melindungi mereka dari perilaku merusak Ya’juj dan Ma’juj dengan menawarkan imbalan. Sebagai pemimpin yang bijaksana, Dzul Qarnain menolak tawaran imbalan tersebut, namun tetap membangunkan sebuah tembok penghalang yang lebih kuat (radmun) dari yang diharapkan kaum tersebut.

Proses Identifikasi (4)

Setidaknya ada dua informasi dari al-Quran  yang tidak bisa/boleh dikesampingkan ketika hendak melanjutkan proses indentifikasi Ya’juj dan Ma’juj. Pertama, di QS. Al-Kahfi: 85 dijelaskan bahwa Allah SWT memberi anugerah kekuatan kepada Dzul Qarnain. Kedua, di ayat 94 dan seterusnya, dikabarkan bahwa Dzul Qarnain sepakat untuk membuatkan tembok penghalang sebagaimana diminta oleh kaum yang bersangkutan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Dzul Qarnain tidak menindak tegas pelaku pengrusakan (Ya’juj dan Ma’juj), alih-alih membuatkan tembok penghalang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya menaruh perhatian pada informasi yang ada dalam hadits. Disebutkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj merupakan makhluk yang tidak ada kekuatan manapun yang mampu mengalahkannya kecuali Allah SWT sendiri sebagai Sang Maha Pencipta.

Lalu siapa Ya’juj dan Ma’juj? Berangkat dari identifikasi lokasi tadi, Imran Hossein menyimpulkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari suku Khazar Eropa Timur. Mereka dikenal sebagai suku penunggang kuda yang ganas. Terbukti mereka mampu menghentikan laju ekspansi umat Islam (dan Bizantium) di wilayah Eropa Timur.

Dalam artikelnya “Khazars”, Roman K. Kovalev menyebut agama Shamanist-Tari sebagai agama yang dipeluk mayoritas suku Khazar. Meskipun, sekitar abad 8 dan 9 masehi, banyak di antara mereka yang beralih ke agama Yahudi (Eropa). Dalam analisisnya, Kovalev menyatakan beralihanya mereka ke agama Yahudi merupakan bentuk ‘independensi’ dari dua kekuatan besar saat itu (Nasrani dan Islam).

Ya’juj dan Ma’juj Sudah Lepas?

Berbeda dengan analisis Kovalev, Imran Hossein berpendapat bahwa suku Khazar berkonversi ke agama Yahudi dan Kristen Eropa. Menurutnya, hal ini telah diisyaratkan Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi: 99.

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ يَّمُوْجُ فِيْ بَعْضٍ وَّنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا ۙ ۞

“Pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka (Ya’juj dan Ma’juj) berbaur dengan sebagian yang lain. (Apabila) sangkakala ditiup (lagi), Kami benar-benar akan mengumpulkan mereka seluruhnya”. (QS. Al-Kahfi [18]: 99)

Ia menerjemahkan, “and on that Day We shall (begin a process which would eventually) cause some of them to surge like waves (that merge with or crash againts) others of them and the trumpet (of judgment) would be blown, and We shall gather them all together”.

Menurut Imran Hossein, fakta bahwa terjadi perjanjian damai antara Yahudi dan Kristen Eropa setelah berselisih panjang merupakan isyarat yang termuat dalam ayat tersebut. Mereka (Ya’juj dan Ma’juj) akan bersatu dan kemudian menerjang bagaikan gelombang. Atau dalam makna yang lain berarti adanya potensi benturan di antara keduanya, yakni antara Ya’juj dan Ma’juj. Mereka akan menghancurkan satu sama lain.

Keterangan di atas menunjukan posisi Imran Hosein, yang secara tegas menyatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj saat ini sudah lepas. Bahkan menurutnya, isyarat lepasnya mereka dimulai sejak bermimpinya Nabi SAW yang mengabarkan mulai hancurnya tembok penghalang yang dibangun Dzul Qarnain.

Tetapi bagaimana bisa Ya’juj dan Ma’juj telah lepas sementara ada hadits yang menginformasikan kemunculan mereka setelah Nabi Isa as. berhadapan dengan Dajjal? Jika diteliti lebih jauh, ternyata urutan keluarnya tanda-tanda besar hari kiamat bersifat variatif. Dari perawi yang sama, yakni Hudzaifah bin Usaid, urutan munculnya Ya’juj dan Ma’juj dan Dajjal, berbeda. Maka bisa jadi, Nabi SAW memang tidak menyebutkan secara urut. Dan ini bukan tentang inkonsistensi.

Dampak Lepasnya Ya’juj dan Ma’juj

Imran Hossein menyebut setidaknya ada tiga dampak yang ditimbulkan ketika Ya’juj dan Ma’juj lepas. Pertama, mereka akan menyebar ke berbagai penjuru. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Anbiya’: 96. Mereka akan turun dari tempat-tempat yang tinggi dan menyebar ke berbagai penjuru dunia; melakukan pengrusakan dan menebar bibit-bibit permusuhan dan peperangan.

Kedua, mereka akan melakukan pengrusakan di muka bumi. Merujuk ke QS. Al-Baqarah, menurut Imran Hosein, mereka dengan culas menipu Allah SWT dan orang-orang beriman; mengaku beriman padahal sejatinya tidak; menganggap orang-orang beriman sebagai orang bodoh; mengumbar janji palsu; menganggap tindakannya sebagai upaya perbaikan, padahal esensinya adalah pengrusakan; dan melakukan tindakan-tindakan tersebut di bawah pimpinan setan.

Ketiga, mereka akan berusaha mengembalikan kaum Yahudi ke Tanah Suci (Yerussalem). Berbeda dengan mayoritas mufassir yang menafsirkan kata ‘qaryah’ dalam QS. Al-Anbiya’: 95 sebagai penduduk ‘kota’ dalam makna umum, Imran Hossein menafsirkan kata tersebut dengan lebih spesifik. Menurutnya, kota yang dimaksud adalah Yerussalem. Implikasinya adalah ketika Ya’juj dan Ma’juj lepas dan menyebar ke berbagai penjuru, di saat yang sama juga terjadi proses atau upaya mengembalikan Yerusalem ke tangan kaum Yahudi.

Lalu Siapa Sebenarnya Mereka?

Tiga dampak yang ditimbulkan ketika Ya’juj dan Ma’juj lepas tersebut tentunya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kekuatan besar dan tak terbendung. Mereka mampu mengontrol dan menguasai dunia dengan kekuatan super powernya. Siapa mereka? Setidaknya, masyarakat umum (kemungkinan besar) akan mengarahkan perhatian ke aliansi Inggis-Amerika-Israel dan aliansi Rusia-China.

Tapi tidak demikian halnya dengan Imran Hossein. Menurutnya, setelah Ya’juj dan Ma’juj lepas dan menyebar ke berbagai penjuru, mereka kemudian menjadi bagian dari aliansi besar Inggris-Amerika-Israil di satu sisi (Ya’juj), dan menjadi bagian dari Rusia Modern di sisi yang lain (Ma’juj). Seperti disebutkan di atas, mereka akan beraliansi (perjanjian damai Yahudi Eropa dan Kristen Eropa) atau menerjang satu sama lain (Ya’juj vs Ma’juj).

Baik ketika mereka beraliansi maupun ketika mereka menerjang satu sama lain, karakter merusak mereka tetap akan melekat. Karakter kepemimpinan mereka merupakan anti-tesis dari kepemimpinan ala Dzul Qarnain. Jika Dzul Qarnain menyebarkan kebijaksanaan dan kebaikan, maka Ya’juj dan Ma’juj menciptakan sebuah tatanan dunia yang korup dan disruptif. Nah, menurut Imran Hossein, tatanan dunia modern di mana kita menjadi bagian darinya merupakan tatanan dunia Ya’juj dan Ma’juj.

Wallahu A’lam.

Oleh: Sirajuddin Bariqi
Source: Artikula.Id

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...