Thursday , December 9 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Merasa Dikhianati? Engkau Tidak Sendiri

Merasa Dikhianati? Engkau Tidak Sendiri

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Salah satu hal yang perlu selalu kita pahami, sadari, dan kita yakini sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, dalam kehidupan kita, tidak pernah terlepas dari pengaturan (hukum) Allah SWT Yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, dan lain-lain.

Semua peristiwa tidak cacat dalam pengaturan Allah SWT.

Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hati, kita harus segera kembali pada diri sendiri. Kita lakukan tugas kita: evaluasi diri sendiri– apa saja yang telah dilakukan selama ini; lalu koreksi.

Jika ada orang yang berbuat dzhalim, aniaya, dan menyakiti kita, segeralah kita sadari sepenuh hati, bahwa sekalipun orang tersebut sudah menyakiti dan mencabik-cabik hati kita sedemikian rupa, tetapiyang mengatur dan menentukan itu semua, hingga ia bisa “sukses” menyakiti kita, bukanlah dirinya ia yang dzhalim itu, tetapi Allah SWT.

Imam Ibnu Qayyim menggambarkan bahwa gangguan dan rasa sakit yang ditimbulkan oleh manusia pada kita sama seperti udara panas dan dingin. Tak ada satu pun di antara kita yang bisa menghindar dan menolaknya. Orang yang marah-marah akibat cuaca panas dan dingin, berarti hatinya masih belum stabil, belum mantap. Padahal, semuanya sudah berjalan di atas ketentuan Allah SWT. Hanya saja, caranya dan penyebabnya saja yang berbeda-beda.

Dengan keyakinan seperti itu, hati kita tentu akan menjadi teduh, damai, dan tenang dalam menghadapi persoalan hidup.

Sebab, sama sekali tidak ada manfaatnya kita marah-marah, murka, dendam, dan segala sifat kekanak-kanakan dan kekonyolan lainnya yang hanya menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri.

Segeralah kembalikan pada Allah SWT. Biarlah Allah SWT Yang mengatur kita. Kita tidak perlu melelahkan hati dan pikiran untuk ikut mengatur apa yang sudah diatur dengan baik dan sempurna oleh Allah SWT. Ini adalah salah satu cara agar kita bisa nyaman dan bahagia menjalani hidup ini.

Sedih dan kecewa boleh, namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dan apa yang kita lakukan saat kita sedang sedih dan kecewa. Rasul juga sedih dan menangis, sebab itu adalah manusiawi. Orang bijak mengatakan bahwa hidup ini penuh penderitaan; tetapi mereka mengatakannya sambil tersenyum.

Sakit, kesedihan, penderitaan, patah hati, kemiskinan, dan lain-lain, merupakan sebagian dari proses pematangan diri yang sangat efektif. Bagi kebanyakan kita, akan lebih banyak merenung, berpikir, bahkan bertanya ketika sedang dalam kegelisahan, kesulitan, atau menderita daripada senang dalam kenikmatan dan kebahagiaan.

Pasti, ada pelajaran dan hikmah luar biasa yang sedang Allah SWT siapkan untuk kita dalam setiap ujian yang kita hadapi. Bagai pepatah mengatakan, “Setelah kena getah, kita akan mendapatkan nangka.” Setelah gelap, pasti terang. Setelah malam, pasti siang. Setelah tanjakan, pasti turunan. Setelah kesulitan, pasti datang kemudahan.

Untuk apa terlalu lama “bertapa” dalam kesedihan? Tak ingatkah bahkan sejak kecil sudah diajari oleh gurumu: “buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya”?

Setelah mengembalikan semuanya kepada Allah, lalu tahap berikutnya yang paling berat adalah tetap berbuat baik pada orang yang menyakiti. Setelah memaafkan, tidak menyimpan dendam, menganggap semua yang terjadi atas kehendak, izin, dan dalam pengaturan Allah Swt, kita diharuskan tetap berbuat baik pada orang tersebut dengan kebaikan yang lebih tinggi daripada kebaikan kita kepadanya sebelum-sebelumnya. Inilah yang dicontohkan oleh para nabi. Inilah level sabar sejati.

Rasulullah SAW menjenguk orang sakit yang sebelumnya suka mencaci-maki dan meludahi beliau; nabi Yusuf a.s memaafkan semua saudara-saudaranya yang pernah berencana membunuh, menyiksa dengan kejam, dan memisahkannya dari ayahnya, dengan cara membuangnya ke dalam sumur terpencil di padang sahara; nabi Yaqub a.s mengampuni semua kesalahan anak-anaknya yang telah menyiksa batinnya akibat keterpisahannya dengan nabi Yusuf a.s.- putra kesayangan yang kala itu masih kecil, hingga kedua matanya nyaris rusak. Dan, masih banyak lagi kisah-kisah kasih sayang dan pemberian maaf tanpa pamrih yang diteladankan oleh para nabi dan para sufi.

Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW mendapatkan perlakuan yang keji dari orang-orang kafir Quraisy, termasuk dari orang-orang di Thaif, sampai malaikat penjaga gunung siap menghancurkan semua penduduk di sana jika nabi menginginkan, namun beliau justru mendoakan kebaikan untuk mereka: “Ya Allah, berilah petunjuk untuk kaumku, sebab mereka tidak mengetahui”.

Saat seperti itu, Rasulullah SAW juga pernah terkenang bagaimana perlakuan keji terhadap nabi Musa a.s oleh kaumnya yang terkenal sebagai kaum yang suka mengolok-olok, cerewet, sombong, dan lain-lain. Rasulullah Saw pernah bersabda, “Semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya pada Nabi Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih banyak dibandingkan yang saya alami ini. Tetapi ia tetap sabar.”

يَرْحَمُ اللّٰهُ مُوْسَى لَقَدْ أُوْذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبرَ ۞

Maka, dalam peristiwa tersebut, terdapat setidaknya tiga hal keluhuran :

1. Al-‘Afw, pemberian maaf atau ampunan untuk kejahatan yang mereka lakukan.
2. Al-Istighfar, permohonan ampunan pada Allah SWT atas kesalahan yang telah mereka lakukan.
3. Al-I’tidzar, penerimaan perlakuan mereka dengan hati yang lapang dan menganggap mereka melakukan hal tersebut disebabkan “ketidaktahuan” mereka.

Meski level sabar sejati ini berat, akan tetapi bila dengan kegigihan, usaha, perjuangan, serta latihan yang sungguh-sungguh, In sya Allah kita pada akhirnya juga akan sampai pada level ini. Kita bisa bayangkan, betapa bahagianya orang-orang yang sudah sampai di level ini. Hatinya telah menjelma samudera luas, sehingga tak ada kotoran apa pun yang sanggup menajiskannya. Meski banyak sampah berserakan di dalamnya, ia tetap akan memberikan ikan dalam jumlah besar, bahkan pada orang yang melemparkan sampah ke dalamnya.

Para nabi dan para sufi telah menjelma seperti matahari : menyinari siapa saja yang ada di muka bumi, baik atau jahat; seperti hujan, menyirami semuanya, baik atau jahat; seperti bumi, rela diinjak oleh siapa saja, dan menumbuhkan tanaman untuk siapa saja, baik atau jahat; seperti udara yang bisa dihirup oleh siapa saja, baik atau jahat; atau, seperti pohon buah, saat dilempar dengan batu, ia memberikan buah untuk yang melemparnya, baik atau jahat.

Saat disampaikan pada Imam Hasan al-Bashri bahwa ada orang jahat yang telah menggunjing kejelekannya, ia segera masuk ke dalam rumah, mengambil makanan, dan minta untuk menyampaikan makanan tersebut pada orang yang telah menyakitinya. Itu dilakukan sebagai ucapan terima kasih. Sebab, dengan ber-ghibah dan menyakitinya, berarti orang tersebut telah memberikan pahalanya kepadanya atau ia telah mengambil dosa darinya.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita untuk tetap bersabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena, atas kehendak-Nya pula kita bisa ditinggikan derajat kita ke posisi yang tidak bisa kita capai kecuali dengan bersabar dalam menjalani ujian yang diberikan-Nya. Aamiin.

Wallahu A’lam

Referensi tulisan: Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT) : “Spiritualitas Sabar dan Syukur; Tiada Rasa Takut dan Sedih dalam Hidup”, Dr. Abdul Wahid Hasan; Yogyakarta : DIVA Press, 2019.

Source: Demi Maha Cinta

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...