Home / Relaksasi / Renungan / Menumbuhkan Cinta Kasih Allah

Menumbuhkan Cinta Kasih Allah

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn“.

Ketika kita mencintai seseorang, hewan atau apapun itu, termasuk mencintai suatu barang, sudah tentu memahami seperti apa dia; bentuknya (ada), fungsinya, pancarannya, keindahannya, ketulusannya dan hal-hal lain yang membuat hati menjadi terpesona. Kita menjadi tertarik sehingga mencintainya.

Demikian halnya dalam mencintai Allah. Hal paling mendasar dalam mencintai Allah, harus tertanam dalam keyakinan  (sesuai bukti-bukti ilmiah penciptaan-Nya), bahwa Allah SWT itu Ada, Sang Pencipta alam semesta termasuk isinya, yang menguasai kita, yang Awal dan yang Akhir.

Meskipun demikian, Allah bukanlah makhluk atau barang sebagaimana bayangan ketika manusia mencintai sesuatu yang kasat mata. Allah bukan makhluk yang dapat dibayangkan oleh akal manusia, yang sama dengan salah satu makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada satu makhlukpun di bumi ini yang setara atau menyerupai-Nya.

Allah telah tegaskan itu di dalam Al-Qur’an:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ ۞ اللّٰهُ الصَّمَدُ ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ۞

Qul huwallãhu ahad. Allãhush shamad. Lam yalid wa lam yûlad. Wa lam yakul lahû kufuwan ahad.

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (Qs. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ۞

Fãthirus samãwãti wal-ardhi, ja’ala lakum min anfusikum azwãjaw wa minal an’ãmi azwãjay yadzra’ukum fîhi laisa kamitslihî syai’uw wa huwas samî’ul bashîr

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. As-Syura ayat 11).

Dialah Allah. Tuhan yang Tunggal, tiada yang berhak disembah selain Dia, yang memiliki Nama-Nama yang baik (al-Asma al-Husna). Diantara Nama-Nama-Nya yang baik adalah Yang Maha Esa, Maha Besar, Maha Wujud, Maha Kekal, Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Agung dan lain sebagainya. Jumlahnya sangat banyak -meskipun secara umum sering terdengar 99 Nama yang baik (al-Asma al-Husna).

اللّٰهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۞

Allãhu lã ilãha illã huwa lahul asmãul husnã

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmã al-husnã (nama-nama yang baik)“. (QS. Thãhã [20]: 8)

وَلِلّٰهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ۞

Wa lillãhil asmãul husnã fad’ûhu bihã wa dzarul ladzîna yulhidûna fî asmãihi sayujzauna mã kãnû ya’malûn

Hanya milik Allah Nama-Nama yang baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut-Nya (al-Asmã al-Husnã) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’rãf [7]: 180)

Setelah meyakini bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat seperti tersebut di atas, lalu pahamilah bahwa Allah SWT ada sesuai dengan keberadaan-Nya. Allah SWT tidak dapat ditangkap dengan indera dan pikiran manusia. Karena itu, manusia tidak perlu memikirkan bagaimana wujud Allah SWT. Otak manusia tidak sanggup menjangkau seperti apa wujud Allah SWT. Jangankan wujud Allah, untuk menjangkau alam semesta saja kemampuannya terbatas.

Rasulullah SAW memberikan tuntunan:

تَفَكَّرُوْا فِي الْخَلْقِ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي الْخَالِقِ فَإِنَّكُمْ لَا تُقَدِّرُوْنَ قَدْرَهَ

“Berpikirlah tentang ciptaan dan jangan berpikir tentang Pencipta, karena kamu tidak akan mampu memikirkan-Nya.”

Allah SWT tidak terpisah antara eksistensi dan kehendak-Nya. Kehendak (irãdah) dan eksistensi (wujûd) merupakan satu kesatuan. Alam semesta, termasuk manusia, merupakan manifestasi dari eksistensi dan kehendak-Nya. Eksistensi (wujûd) dan kehendak (irãdah), keduanya adalah sifat Allah yang melekat dan menyatu pada Dzat-Nya. Kedua sifat itu berbeda satu sama lain namun berada dan melekat pada satu Dzat Tunggal.

Segala sesuatu (ciptaan) adalah milik Allah, dan segala sesuatu itu pasti kembali kepada Allah (innã lillãhi wa innã ilaihi rãji’ûn). Semua yang tercipta adalah manifestasi kehendak dan kuasa Allah. Karena itu, semua ciptaan itu harus tunduk kepada hukum-hukum-Nya, baik hukum alam maupun hukum yang mengatur kehidupan manusia. Ciptaan Allah selain manusia tidak memiliki akal. Karena itu mereka tidak memiliki pilihan, hanya tunduk dan patuh pada mekanisme hukum alam. Mereka bertasbih berdasarkan kejadian dirinya masing-masing.

Namun untuk ciptaan Allah yang bernama manusia, diberikan akal untuk bisa memilih, mana yang baik dan mana yang buruk. Karena itu, ketika manusia menggunakan akalnya untuk menjaga keselarasan dirinya dengan alam, maka hal itu bukanlah ketundukan yang bernilai sama dengan ketundukan hewan dan tumbuhan bahkan malaikat sekalipun. Pada sisi itulah manusia dinilai lebih mulia daripada makhluk lain. Karena ketundukan manusia adalah hasil pilihan akal terbaiknya.

Pada sisi lain, ketika manusia tidak menggunakan akal terbaiknya untuk bisa tunduk dan taat pada hukum Allah, maka manusia akan lebih rendah dari hewan, tumbuhan dan para malaikat. Ketidak-tundukan manusia kepada hukum Allah karena tidak menggunakan akalnya dinilai sebagai sebuah tentangan. Manusia telah menjelma sebagai penentang Penciptanya sendiri. Bahkan seringkali manusia, tanpa sadar, memakai “Jubah Ketuhanan”. Mengklaim dirinya seperti Tuhan dengan prilaku sombong.

Ketika manusia menjelma menjadi sosok penentang Tuhan, maka manusia telah melupakan kodratnya sebagai manifestasi dari kehendak-Nya. Manusia yang tidak menaati perintah Allah sama saja dengan menyalahi hukum dan kodrat Allah dan akan melepaskan diri dari kehendak Allah. Mungkinkah?

Sosok manusia yang menjelma sebagai penentang akan ditentang balik oleh Allah dengan sebuah pengusiran. Sebagaimana pernah Allah wahyukan kepada Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihimas salãm:

يَا مُوْسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ وَلَمْ يَشْكُرْ نَعْمَائِيْ فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرْضِيْ وَسَمَائِيْ وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبًّا سِوَائِيْ

“Wahai Musa, barangsiapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku, tidak sabar dengan ujian-Ku dan tidak bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia keluar dari antara bumiku dan langitku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku”. (Hadits Qudsiy)

Manusia yang menentang Tuhan tak ubahnya sub-struktur yang telah keluar dari organ induknya. Ketika kaki si Banu dipotong, maka kaki yang terpotong tidak dapat disebut lagi sebagai si Banu. Sebab yang disebut si Banu adalah rangkaian sub-fungsi bagian tubuh yang saling melengkapi dalam satu rangkaian struktur tubuh secara utuh sehingga memerankan orang yang bernama si Banu. Demikian pula dengan manusia yang menentang Allah, maka ia termasuk telah keluar dari kehendak Allah. Manusia ingkar tidak mungkin bisa mencintai Allah.

Manusia sebagai  bagian kehendak Allah memiliki arti bahwa keberadaan manusia sebenarnya adalah ketiadaan. Tanpa kehendak Allah, manusia tak ‘kan pernah ada. Kita ada karena kehendak Allah, tanpa kehendak-Nya kita tidak akan ada dan memiliki keberadaan. Oleh karena itu, manusia dalam memanfaatkan keberadaannya harus sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah bagi manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Semua perbuatan (ibadah) baik yang berkategori mahdhah (murni) maupun qhairu mahdhah (tidak murni) hanyalah untuk Allah.

Ibadah yang dikehendaki oleh Allah untuk diaktualisasikan oleh manusia bukanlah dimaksudkan untuk pamrih sesuatu selain Allah, tetapi semata-mata untuk mencapai ridha Allah. Artinya, apapun yang dilakukan oleh manusia harus berdasarkan keikhlasan dalam rangka ibadah (ridha Allah), bukan untuk mencari sesuatu keuntungan sesaat dan lahiriah terkait kebesaran di dunia. Wong pamrih surga saja masih dikatakan selain Allah, apalagi pamrih dunia.

Ketika kita bekerja, niat pertama yang harus ditanamkan adalah ibadah mencari rezeki untuk membiayai keluarga. Adapun efek positif lain terkait dengan kebaikan bekerja, itu adalah semacam ‘bonus’ yang semata-mata bergantung pada kehendak Allah. ‘Bonus’ itulah yang disebut sebagai ‘berkah Allah’. Bekerja tanpa ‘berkah Allah’ adalah sebuah akibat dari sikap yang pragmatis, tanpa jiwa. Biasanya, orang yang bersikap pragmatis akan menemukan dirinya selalu berada pada kesusahan karena tak pernah puas terhadap hasil yang diterimanya. Tak pernah puas paralel dengan tak pernah bersyukur.

Bekerja baik dengan tujuan agar menjadi orang sukses, naik jabatan terus sampai pada pucuk pimpinan tertinggi, maupun agar menjadi orang kaya, ini namanya bukan bekerja untuk tujuan ibadah karena Allah SWT. Bila bekerja terbesit dalam hatinya agar terkenal, biar mendapat jabatan ini dan itu, maka yang akan diperoleh hanya terkenal dan jabatan. Apa yang diniatkan dalam setiap pekerjaan, hanya itulah yang ia dapatkan. Artinya, ia seperti robot, tak ada jiwa yang menyertai setiap pekerjaannya. Kondisi ini, membuat ia semakin jauh untuk bisa mencintai Allah SWT. Syahdan, keberkahan pun menjadi hilang.

Banyak hal yang dapat dijadikan contoh untuk mengukur keikhasan diri dalam melakukan setiap perbuatan. Apakah dalam rangka untuk menjalin kecintaan kepada Allah atau untuk tujuan dunia (terkenal, kelihatan hebat, sukses, dll). Dengan menjalankan kebiasaan menanamkan cinta kepada Allah, maka Allah akan lebih cinta kepadanya. Dengan kuasa-Nya, Allah akan memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang diniatkan oleh orang tersebut.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

Mari kita tutup artikel ini dengan do’a:

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ ۞

Allâhumma innî as-aluka ĥubbaka wa ĥubba man yuĥibbuka wal-‘amalal ladzî yuballigunî ĥubbaka, Allâhummaj’al ĥubbaka aĥabba ilayya min nafsî wa ahlî wa minal mâil bâridi.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin”.

Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn…

___________________

*Dr. Supardi, SH., MH., Kepala Kejaksaan Tinggi Riau.

About admin

Check Also

Taqwa Kepada Tuhan

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa* بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ ...