Home / Agama / Improvisasi Salik / Menjernihkan Akal Atau Mengosongkan Pikiran?

Menjernihkan Akal Atau Mengosongkan Pikiran?

“Dalam kajian hakikat, seringkali kita mendengar istilah mengosongkan pikiran. Apa maksudnya? Bagaimana caranya? Mungkinkah pikiran bisa dikosongkan?”.

Oleh: Ahmad Baihaqi*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wasshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn“.

Akal Pikiran di Dalam Al-Qur’an

Saudaraku dan kekasihku yang dirahmati Allah SWT. Akal pikiran adalah salah satu ciri seorang manusia itu hidup. Akal adalah mesin dan pikiran adalah produk yang dihasilkan oleh akal. Sedangkan istilah berpikir adalah sebuah proses menggunakan akal untuk menghasilkan pikiran.

Allah SWT menekankan manusia untuk menggunakan akalnya. Banyak sekali ungkapan di dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan akal pikiran manusia. Ungkapan itu di antaranya;

  1. afalã ta’qilûn (tidakkah kalian menggunakan akal?),
  2. afalã tatafakkarûna (tidakkah kalian berpikir?),
  3. afalã tatadzakkarûna (tidakkah kalian mengambil pelajaran?),
  4. afalã yatadabbarûna (tidakkah mereka merenungkan?),
  5. afalã yandzhurûna (tidakkah mereka melihat (memperhatikan dengan mata)?),
  6. afalã tasma’ûna (tidakkah kalian mendengar (memperhatikan dengan suara)?),
  7. afalã tubshirûna (tidakkah kalian melihat (mengobservasi)?), dst.

1. Menggunakan akal

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۞

Ata’murunan nãsa bil-birri wa tansauna anfusakum wa antum tatlûnal kitãb, afalã ta’qilûn.

“Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

2. Berpikir

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللّٰهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ ۞

Qul lã aqûlu lakum ‘indî khazãinullãhi wa lã a’lamul ghaiba wa lã aqûlu lakum innî malak, in attabi’u illã mã yûhã ilayya, qul hal yastawil a’mã wal-bashîr, afalã tatafakkarûn.

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’am [6]: 50)

3. Mengambil Pelajaran

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّٰهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ۞

wa hãjjahu qaumuhu qãla atuhãjjûnnî fillãhi wa qad hadãn, wa lã akhãfu mã tusyrikûna bihi illã ay-yasyã’a rabbî syai’ã, wasi’a rabbî kulla syai’in ‘ilmã, afalã tatadzakkarûn.

“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am [6]: 80)

4. Merenungkan

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ۞

Afalã yatadabbarûnal Qur’ãn am ‘alã qulûbin aqfãluhã

“Apakah kalian tidak memikirkan (merenungkan) isi al-Qur’an, atau hati mereka terkunci”. (QS. Muhammad [47]: 24).

5. Memperhatikan dengan mata

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ۞ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ۞ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ۞ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ ۞

Afalã yandzhurûna ilal ibili kayfa khuliqat, wa ilas samã’i kayfa rufi’at, wa ilal jibãli kayfa nushibat, wa ilal ardhi kayfa suthihat.

“(17) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, (18) Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? (19) Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (20) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”. (QS. Al-Gasyiyah [88]: 17-20)

6. Memperhatikan dengan telinga

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللّٰهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللّٰهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ ۞

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”. (QS. Al-Qashshash [28]: 71)

7. Mengobservasi

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللّٰهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللّٰهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ۞

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. (QS. Al-Qashshash [28]: 71)

Memahami Akal Pikiran

Pikiran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “pikir” artinya akal budi, atau ingatan. Ia merupakan hasil berpikir (memikirkan). Penggunaan “pikiran” (thought) atau “pemikiran” (thinking) dapat dikaitkan dengan berbagai macam aktivitas psikologis. (Wikipedia)

Pengertian secara umum, pemikiran adalah proses menggunakan akal untuk mempertimbangkan sesuatu. Ini mencakup berbagai proses mental yang berbeda, seperti mempertimbangkan ide atau proposisi atau menilai itu benar. Dalam pengertian ini, memori dan imajinasi adalah bentuk pemikiran tetapi persepsi tidak. Dalam pengertian yang lebih terbatas, hanya kasus-kasus yang paling paradigmatik yang dianggap sebagai pemikiran. Ini melibatkan proses sadar yang konseptual atau linguistik dan cukup abstrak, seperti menilai, menyimpulkan, pemecahan masalah, dan pertimbangan.

Pada awal kelahirannya, akal manusia tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Ia seperti mesin yang baru jadi. Tak punya pengalaman dan tak punya produk yang disebut pikiran atau pemikiran. Meski begitu, manusia dengan potensi akalnya mulai belajar berpikir dan memahami data-data yang masuk melalui panca inderanya. Memahami bentuk, rupa dan warna melalui matanya, memahami arti dari suara (bahasa) melalui telinganya, memahami rasa manis, asin, pahit, asam, dll., melalui lidahnya, memahami wewangian dari hidungnya, hingga seterusnya yang kesemua pemahaman itu melibatkan seluruh anggota tubuhnya hingga akhirnya membentuk sebuah pikiran.

Dalam literasi fiqih, para ulama menyepakati bahwa seseorang disebut akalnya telah sampai (‘aqil baligh), jika bagi anak laki-laki, ia telah bermimpi basah (bersetubuh dengan lawan jenis), sedangkan bagi anak perempuan, ia telah mengalami menstruasi (haid). Akal yang telah sampai (‘aqil baligh) disebut akal yang telah sempurna dalam pembelajarannya untuk menghasilkan produk pikiran.

Pengalaman ‘Aqil baligh itu disimpulkan oleh para ulama sebagai proses yang lazim bagi seseorang untuk disebut sebagai mumayyiz (mampu membedakan baik-buruk dan salah-benar). Saat itulah, seseorang yang mumayyiz telah menjadi subyek hukum penuh (mukallaf) dan mulai berlaku bagi dirinya hukum-hukum taklifi yakni wajib (fardhu), sunnah (mandub), haram, makruh (karahah) dan mubah (halal).

Kesimpulannya, hukum syar’i berlaku bagi manusia jika akalnya sudah sempurna dalam pembelajarannya yang melalui pengalaman. Akal sempurna adalah akal yang dianggap sudah mampu memproduksi pikiran atau pemikiran. Ibarat komputer yang sudah sempurna diinstalasi software-nya beserta aplikasi-aplikasi pendukungnya dan siap digunakan untuk memproduksi sesuatu. Komputer hanya memproses data-data yang kompatibel dengan prosesornya. Jika tidak, maka systemnya akan rusak. Begitupun manusia.

Perbedaan manusia dengan komputer adalah bahwa manusia memiliki system berpikir yang menghasilkan apa yang disebut sebagai pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind).

Pikiran sadar (conscious mind) merupakan kecenderungan berpikir logis secara sadar berhubungan dengan penalaran maupun logika yang digunakan dalam keseharian, seperti berpikir ketika melakukan sesuatu, berpikir makan ketika lapar, dan lain sebagainya. Pikiran sadar menempati dan mempengaruhi pikiran seseorang hanya sebanyak 12%. (Wikipedia)

Pikiran bawah sadar (subconscious mind) adalah kecenderungan berpikir yang terkait dengan emosi dan tempat tersimpannya yang secara subyektif merespon apa yang disampaikan, seperti ingatan, kebiasaan, kepribadian, kepercayaan, dan sebagainya. Pikiran bawah sadar menempati dan mengendalikan tubuh manusia sebanyak 88%. (Wikipedia)

Mungkinkah Mengosongkan Pikiran?

Pertanyaan pada sub-judul di atas sebenarnya kurang tepat. Mengapa? Sebab pikiran itu sendiri adalah sebuah produk akal. Jadi semestinya, akal-lah yang harus dijernihkan untuk menghasilkan pikiran yang bagus dan sehat. Barangkali, banyak orang yang melontarkan ungkapan “mengosongkan pikiran” seperti di atas itu bermaksud “menjernihkan akal”.

Akal itu ibarat air yang berada di dalam sebuah wadah. Dan jiwa diibaratkan sebagai wadahnya. Air dan wadahnya saling mempengaruhi satu sama lain. Jika airnya kotor, maka wadah bagaimanapun bersihnya lama-lama akan ikut menjadi kotor. Demikian juga, jika wadahnya busuk dan kotor, maka bagaimanapun jernihnya air, ia akan ikut menjadi kotor.

Air yang jernih, permukaannya seperti cermin. Ia akan menghasilkan gambar yang jelas dan terang. Gambar yang jelas dan terang itu disebut sebagai ‘produk’ dari air yang jernih. Jika keruh airnya, maka gambarnya pun akan menjadi buram. Akal yang jernih akan menghasilkan ‘produk’ pikiran yang sehat, positif, rasional dan logis. Sebaliknya, akal yang keruh akan menghasilkan ‘produk’ pikiran yang tidak sehat, kotor, irrasional dan menyesatkan.

Lalu, bagaimanakah cara menjernihkan akal agar menghasilkan pikiran-pikiran positif?

Sebagaimana perumpamaan di atas, bahwa jiwa adalah wadah dari akal. Dalam bahasa ilmiahnya, jiwa itu adalah pikiran bawah sadar (subconscious mind) yang terkait dengan emosi dan sebuah tempat penyimpanan dari produk akal yang secara subyektif merespon apa yang disampaikan, seperti ingatan, kebiasaan, kepribadian, kepercayaan, dan sebagainya. Jika jiwa berisi produk-produk akal yang kotor dan sakit, maka jiwa akan merespon segala sesuatu dengan produk akal atau pikiran yang kotor dan sakit. Jiwa yang seperti ini adalah jiwa yang sempit. Sebagai wadah dari produk akal, jiwa yang sempit tidak akan mampu menampung pikiran yang beraneka macam. Ia akan selalu overload dan tidak mampu menampung keanekaragaman pengetahuan.

Karena jiwa adalah wadah dari akal, maka semakin besar jiwa akan semakin besar pula daya tampungnya. Jiwa yang besar adalah jiwa yang di dalamnya tersimpan keanekaragaman data yang diproduksi oleh akal. Semakin besar jiwa, ia akan semakin kaya akan keanekaragaman pengetahuan. Jiwa yang besar tidak mudah goncang dan tidak akan overload akan pengetahuan. Allah SWT memberikan sinyalemen bahwa jiwa yang besar akan banyak memberikan kemudahan:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ ۞ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ ۞ الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ ۞ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ ۞ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۞ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ۞ فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ۞ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ۞

“(1) Bukankah Kami telah lapangkan untukmu dadamu (Nabi Muhammad), (2) dan telah Kami ringankan bebanmu, (3) yang memberatkan punggungmu, (4) dan telah Kami tinggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu? (5) Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, (6) sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, (7) Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain), (8) dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!” (QS. Al-Insyirah [92]: 1-8)

Kesimpulannya, karena pikiran adalah produk akal, seperti permukaan air yang bisa menangkap gambar di atasnya, maka ia tidak bisa dikosongkan atau dihilangkan. Apapun benda yang berada di atas air, gambarnya tidak akan bisa dihilangkan. Artinya, pikiran tidak mungkin bisa dikosongkan selama seseorang berada dalam keadaan terjaga. Suatu kondisi yang membuat akal pikiran berhenti bekerja adalah kondisi tidur, pingsan, atau mati.

Akal pikiran tidak bisa dikosongkan, ia hanya bisa dialihkan. Salah satu konsep dasar dari kekhusyu’an shalat adalah mengalihkan pikiran-pikiran liar dengan memfokuskan pada apa yang diucapkan oleh lisan dalam bacaan shalat. Itu kekhusyu’an shalat tingkat pemula. Sedangkan kekhusyu’an shalat tingkat lanjut adalah terfokusnya seluruh pikiran dan anggota tubuh kepada Allah SWT baik secara sadar (conscious mind) maupun di bawah sadar (subconscious mind) bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan-Nya.

Perumpamaan di atas dapat dijadikan landasan untuk memahami bagaimana pikiran dan jiwa bekerja mengendalikan sesosok manusia dengan segala atribut yang menjadi anggota tubuhnya. Jiwa yang besar dan luas akan membuat air di atas semakin jernih dan tenang. Jiwa yang besar dan air yang tenang adalah satu kesatuan yang bisa mengalirkan esensinya kepada hakikat “keluasan haqiqi”. Allah SWT memberikan sinyalemen:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ۞ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ ۞ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ۞ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ ۞

“(27) Wahai jiwa yang tenang, (28) kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, (29) Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, (30) dan masuklah ke dalam surga-Ku!”. (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

 

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...