Home / Agama / Kitab Klasik / Mengenal Teks Manuskrip Kaifiat Qulhu dari Dayah Tanoh Abee
Teks Manuskrip Kaifiyat Qulhu Tanoh Abee, Aceh

Mengenal Teks Manuskrip Kaifiat Qulhu dari Dayah Tanoh Abee

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Manuskrip teks Kaifiat Qulhu atau Silsilah Qulhu merupakan salah satu naskah koleksi Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar. Naskah ini bercerita tentang amalan surat al-Ikhlas dan keuntungan (fadhilah) mengamalkannya.

Menurut naskah ini, surat al-Ikhlas atau dalam naskah disebut surat qul huwa Allah ahad dibaca sepuluh ribu kali. Bacaan surat ini diperuntukkan bagi diri sendiri, ibu, bapak dan orang yang telah meninggal masing-masing sepuluh ribu kali. Jika dikalikan, maka jumlah pengulangan bacaan surat al-Ikhlas sebanyak empat puluh ribu kali.

Tercatat bahwa teks ini disalin pada tahun 1328 H atau kira-kira sekitar tahun 1910 M oleh seorang yang bernama Muhammad Ali. Figur Muhammad Ali juga tidak asing bagi kalangan Dayah Tanoh Abee. Hal ini dikarenakan bahwa persis di tahun 1900-an ada tokoh bernama Muhammad Ali yang merupakan generasi ke-8 sebagai pimpinan Dayah ini.

Yang menarik dari konten naskah ini terletak pada penyandaran amalan surat al-Ikhlas tersebut pada Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang guru dari tarekat Alawiyyah yang hidup sekitar abad ke-17, tepatnya tahun 1634-1720. Padahal, dalam catatan Hermansyah, salah seorang pimpinan Zawiyah yakni Syekh Abdul Wahab Tanoh Abee yang dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee dan merupakan pimpinan generasi ke enam adalah mursyid Tarekat Syattariyah setelah masa Syekh Abdurrauf.

Menguatkan pandangan Oman Fathurrahman, hal ini menandakan karakter Islam Nusantara yang adaptif dan dialogis terhadap berbagai bentuk perbedaan praktek keagamaan khususnya Islam.

Sejarah Singkat Dayah Tanoh Abee

Dayah Tanoh Abee adalah lembaga pendidikan dan perpustakaan yang terletak di Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar Provinsi Nangroe Aceh Darussalam kode pos 23951. Melihat penulusuran google map, Dayah Tanoh Abee dengan nama Pondok Pesantren Tgk. Chiek Tanoh Abee terletak di sebelah tenggara Kota Banda Aceh dengan jarak kurang lebih 50 km dan dengan jangka tempuh sekitar satu jam satu menit lewat jalur darat menggunakan kendaraan roda empat.

Saat ini, Dayah Tanoh Abee atau disebut juga Zawiyah Tanoh Abee diurus oleh Umi, istri dari wazir dan pimpinan generasi kesembilan Tgk. Muhammad Dahlan (1943-2006) atau Abu Dahlan Tanoh Abee yang telah lebih dahulu wafat pada tahun 2006. Menurut sumber internet dalam akun facebook Dayah Tanoh Abee, dalam merawat Dayah Umi dibantu salah seorang menantunya yang bernama Teungku Ridwan Tanoh Abee.

Dayah Tanoh Abee sendiri dalam catatan Oman Fathurahman didirikan oleh keluarga keturunan Fairusy Al-Baghdady, ulama imigran asal Baghdad yang menetap di Aceh sekitar tahun 1627 M. Tepatnya pada masa Sultan Iskandar Muda bertahta (1607-1636 M). Fairusy al-Baghdady berkedudukan sebagai qadi atau hakim yang bertugas memutuskan masalah keagamaan di kesultanan Aceh (Fathurahman, Vol. 1, No. 1, 2011).

Diyakini bahwa cikal bakal Dayah Tanoh Abee adalah berupa gubug kecil yang dibangun pertama kali oleh putra Fairusy al-Baghdadi, Syekh nayan, pada sekitar tahun 1666-an. Syekh Nayan sejak belia telah dipersiapkan menjadi pemuka agama dengan diantarkan berguru kepada Syekh Baba Dawud al-Jawi bin Ismail bin Agha Mustafa bin Aga Ali al-Rumi, tokoh ulama keturunan Turki yang merupakan murid dari Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansyuri (1615-1693) atau yang oleh Azyumardi Azra disebut Abdurrauf Singkel, mursyid tarekat Syattariyah di wilayah Nusantara (Fathurahman, Vol. 1, No. 1, 2011).

Kemudian Dayah Tanoh Abee dikembangkan oleh para ahli warisnya berturut-turut setelah Syekh Nayan oleh Syekh Abdul Hafiz (generasi ke-3), Syekh Abdurrahim (generasi ke-4), Syekh Muhammad Saleh (generasi ke-5; w. 1855 M), Syekh Abdul Wahab (generasi ke-6; w. 1894 M), Tgk. Muhammad Said (generasi ke-7), Syekh Muhammad Ali (generasi ke-8, penulis teks manuskrip kaifiat qulhu tahun 1910) dan terakhir oleh Tgk. Muhammad Dahlan (generasi ke-9; 1943-2006).

Dari generasi ke generasi terjadi dinamika akibat situasi geopolitik yang tidak menentu setelah kedatangan Belanda ke bumi Rencong. Masa kejayaan Dayah Tanoh Abee terjadi ketika zaman Syekh Abdul Wahab. Karena ambisinya yang ingin mendirikan perpustakaan terbesar se-Nusantara, terkumpul ribuan naskah dari berbagai koleksi keilmuan. Tetapi akibat peperangan, sebagian besar naskah yang terkumpul menghilang dan lapuk di zaman Muhammad Sa’id. Kemudian Syeikh Muhammad Ali memulai menata ulang perpustakaan Dayah Tanoh Abee dan menyalin kembali naskah-naskah tersebut dan sampai sekarang dirawat oleh Umi, istri Abu Dahlan Tanoh Abee generasi kesembilan. Belum diketahui pasti siapa yang akan menjadi ahli waris generasi kesepuluh Dayah Tanoh Abee ini.

Manuskrip Kaifiat Qulhu

Manuskrip kaifiat qulhu atau silsilah qulhu adalah manuskrip koleksi Dayah Tanoh Abee yang telah digitalisasi oleh Oman Fathurahman dengan nomor 07_01327-MS Tanoh Abee_Silsilah Qulhu-tarekat habib Abdullah b Alawi b Muhammad Haddad_silsilah Abdul Wahab (00009)_nisfu syaban. Nama kaifiat qulhu diambil penulis dari kalimat awal bunyi naskah yang bunyinya: “bismillahir-rahmanir-rahim faidah inilah kaifiyat diamalkan qul huwa Allah ahad …

Adapun nama yang disematkan dalam nomor naskah adalah silsilah qulhu. Nama silsilah qulhu disandarkan pada paragraf terakhir dari isi teks dengan redaksi: “tanbihan inilah silsilah surat qul huwa Allah ahad dst …”

Pada dasarnya kaifiat qulhu hanyalah bagian dua halaman dari satu bundel manuskrip sebanyak dua puluh dua halaman ditambah dua halaman cover. Tepatnya dua halaman berisi teks kaifiat qulhu terletak pada halaman kesembilan dan kesepuluh. Adapun teks lainnya berisikan doa laa ilaaha illa Allah (8 halaman awal), syarat dan posisi saksi dalam persidangan berjudul bab da’wa (halaman sebelas dan dua belas), rajah penangkal hama (halaman 13-14), amalan kaf empat puluh (halaman 15), ayat al-Quran berisi Q.S al-Baqarah [2]: 246; Ali Imran [3]: 181; Al-Nisa [4]: 77; al-Maidah [5]: 27; al-Ra’du [13]: 16 (halaman 16), silsilah tarekat syattariyah (halaman 17), amalan surat yasin (halaman 18), rajah tanpa keterangan (halaman 19), silsilah Tarekat Syattariyah dari syekh Abd al-Wahhab (halaman 20), dan sesisanya adalah coretan-coretan yang tidak teridentifikasi.

Adapun penomoran-penomoran di atas didasarkan pada susunan versi digital. Sedang dalam naskah tidak tercantum penomoran halaman. Penulis sendiri tidak mempunyai akses kepada manuskrip asli teks ini. Oleh karena keterbatasan ini, sulit bagi penulis mendeskripsikan kondisi fisik manuskrip termasuk di dalamnya jenis dan kualitas kertas, mengidentifikasi tanda air (watermark), kualitas tinta dan lain-lain. Warna tinta manuskrip sendiri secara keseluruhan berwarna hitam terkecuali pada ayat al-Quran di halaman 16 menggunakan warna merah. Adapun ukuran dari manuskip hanya dapat teridentifikasi panjangnya berukuran 18 cm, adapun lebarnya tidak diketahui karena tidak ada skala pengukurannya dalam versi digital. Wallahu A’lam.

Oleh: Wildan Imaduddin Muhammad
Source: Tafsir al-Qur’an

 

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...