Tuesday , September 28 2021
Home / Agama / Kajian / Mengenal Sosok Ulama Kharismatik Asal Petamburan; Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi
Masjid Jami' al-Islam Petamburan, sudah berusia 300 tahun

Mengenal Sosok Ulama Kharismatik Asal Petamburan; Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, masih dalam lingkup wilayah Jakarta dengan suku utamanya adalah Betawi. Jaringan Ulama di wilayah ini sedemikian penting bagi perkembangan dakwah-dakwah Islam di abad 17-19.

Adalah Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi, seorang ulama Betawi yang memiliki peran penting bagi dakwah Islam di Asia Tenggara, khususnya di Jakarta. Beliau adalah guru utama dari Sayyid Usman bin Yahya, pengarang Kitab Adabul Insan dan Sifat 20 yang kemudian dikenal sebagai seorang Mufti Betawi.

Sayyid Usman bin Yahya sendiri adalah gurunya para ulama Jakarta pada abad ke 19 Masehi. Dalam usia 3 tahun Sayyid Usman sudah dididik langsung oleh Syeikh Abdurrahman al-Mashri sampai usia 18 tahun. Kedekatan Sayyid Usman dan Syekh Abdurrahman al-Mashri adalah hal yang wajar mengingat ibu Sayyid Usman adalah putri dari Syekh Abdurrahman al-Mashri. Artinya, Sayyid Usman adalah cucu dari Syeikh Abdurrahman al-Mashri.

Sayangnya, harus diakui dalam kurun waktu abad 18 dan 19 tidak banyak diketahui informasi keberadaan ulama-ulama Jakarta yang pernah mengharumkan nama Jakarta pada masa itu khususnya di wilayah Mekkah, Madinah, Mesir atau Yaman yang saat itu menjadi pusat pembelajaran ilmu agama.

Pada masa itu, ulama-ulama Nusantara yang belajar di Mekkah dan Madinah lebih dikenal dengan sebutan al-Jawi. Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa laqob (sebutan) al-Batawi pada masa itu tidak dikenal. Sebutan al-Batawi sendiri muncul di akhir abad 19. Referensi itu dapat ditemukan pada kitab al-Fatawi.

Syeikh Abdurrahman al-Mashri ini adalah termasuk kategori ulama yang memegang peranan penting dalam silsilah keilmuan. Rentang waktu beliau hidup tidak jauh masanya dari Syekh Junaid al-Batawi yang berasal dari Pekojan.

Saat belajar di Mekkah dan Mesir, Syeikh Abdurrahman al-Mashri dikenal bersama sahabat-sahabatnya yang lain sebagai “Empat Serangkai Ulama Jawi” yang diakui kapasitas keilmuwannya. Keempatnya terkenal sering bersama-sama baik dalam memilih guru maupun menuntut ilmu. Keberadaan mereka cukup disegani ulama-ulama Mekkah Madinah pada masanya.

“Empat Serangkai Ulama Jawi” itu terdiri dari;

1. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datuk Kalampayan).
2. Syeikh Abdusshamad al-Falimbani al-Madani dari Palembang, Sumatra Selatan.
3. Syeikh Abdul Wahab Bugis Makassar, Sulawesi Selatan.
4. Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi.

Dalam semua biografi tiga ulama selain Syeikh Abdurrahman, mereka selalu menyebut nama Syeikh Abdurrahman al-Mashri sebagai ulama yang kapasitasnya diakui. Keempatnya kelak akan mendapatkan mandat sebagai Mursyid  Tareqat Sammaniyah.

Mengenai nasab beliau, sampai saat ini masih dalam penelitian para ahli sejarah. Karena belum ada keterangan yang bisa diolah secara mendalam. Sedangkan laqob al-Mashri kebanyakan ilmuwan berkeyakinan karena beliau lama belajar di Mesir dan juga untuk mengambil keberkahan dari guru-gurunya yang berasal dari Mesir.

Ada beberapa hal menarik untuk dikaji lebih mendalam bahwa letak makam beliau seolah menegaskan tentang nasab ulama ini. Di dekat makam Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi yang terletak di depan Masid al-Islam Jalan KS. Tubun No. 61 Kelurahan Petamburan, ternyata banyak juga dimakamkan bangsawan Minangkabau. Dan yang cukup mengejutkan pendiri masjid ini bernama Sultan Raja Burhanuddin Syeikh al-Mashri.

Sultan Raja Burhanuddin Syeikh al-Mashri adalah bangsawan Minangkabau yang juga merupakan ulama besar pada waktu itu. Beliau datang ke Batavia dalam rangka ingin melihat langsung kehidupan masyarakat pedagang Tenabang (Tanahabang) sekaligus dalam rangka dakwah Islamiyyah. Laqob al-Mashri yang dimiliki Sultan Burhanudin dan Syeikh Abdurrahman mengindikasikan kalau keduanya ada hubungan. Bisa jadi Syeikh Abdurrahman ini adalah anak atau cucu Sultan Burhanudin (Wallaahu A’lam). Masjid Jami’ al-Islam sendiri didirikan tahun 1770 Masehi. Artinya, pendirian Masjid tersebut bertepatan dengan kehidupan Syeikh Abdurrahman al-Mashri.

Berdirinya masjid al-Islam itu adalah sebuah indikator yang semakin memperjelas hubungan antara Sultan Raja Burhanudin dan Syeikh Abdurrahman. Salah satu cucu Syeikh Abdurrahman, yaitu Habib Usman bin Yahya adalah salah seorang ulama yang memegang peranan penting dalam perkembangan masjid al-Islam. Begitupun Syeikh Abdurrahman dalam hidupnya juga banyak melakukan aktifitas keagamaannya di Masjid Jami al-Islam. Bahkan Syeikh Abdurrahman pernah mengajak sahabatnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdusshamad al-Falimbani untuk safari dakwah di tanah Betawi. Bahkan mereka sempat membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Betawi.

Ulama Empat Serangkai itu memang pada masanya sangat menguasai ilmu Falak. Hal ini disebabkan karena ilmu Falak sangat penting untuk navigasi dalam perjalanan jauh, berkenaan dengan pengetahun tentang perbintangan sebelum era modern. Ilmu Falak adalah perlengkapan yang harus dimiliki untuk mendukung perjalanan dan aktfitas mereka dalam mengarungi lautan untuk mobilisasi antar-negara.

Fakta lain yang juga tidak kalah menarik bahwa keluarga Habib Usman bin Yahya ada yang dimakamkan di masjid al-Islam. Dalam hal nasab, kakek Habib Usman dari jalur ayah dapat dipastikan akan mencari jodoh yang sekufu. Sebagaimana tradisi yang mengakar kuat di kalangan ‘Alawiyin yang sangat menjunjung tinggi kafa’ah dalam pernikahan. Artinya, Syeikh Abdurrahman al-Mashri ini memiliki track record yang terang benderang tentang keberadaan nasabnya.

Pada awalnya, makam Syeikh Abdurahman al-Mashri berada di komplek pemakaman Karet Tenabang. Tapi atas instruksi Gubernur DKI Jakarta (saat itu Ali Sadikin), makam beliau kemudian dipindah ke Masjid al-Islam demi kepentingan umum. Memang tidak dijelaskan bagaimana kondisi Jasad Syeikh Abdurrahman ini. Tapi yang jelas kain kafannya masih ada padahal usia makam tersebut sudah lebih 100 tahun.

Sedangkan makam Sang cucu (Habib Usman bin Yahya) yang berada di samping makam Syeikh Abdurrahman, hilang tidak berbekas termasuk kain kafannya, padahal sudah digali sedalam 4-6 meter. Sedangkan makam-makam kerabat Habib Usman dan Syeikh Abdurrahman kemudian dipindahkan ke masjid Jami al-Islam. Seolah Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi “pulang kampung”, kembali ke Masjid al-Islam.

Syeikh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi adalah salah satu mutiara Ulama Betawi yang patut kita kenang dan kita jadikan contoh dalam kehidupan ini. Berkat tangan dinginnya, telah lahir seorang Ulama Besar Bangsa ini yaitu Sayyid Usman bin Yahya yang telah berkedudukan sebagai Mufti Betawi di masa itu.

Mari kita berdo’a dan membaca Surat al-Fatihah untuk beliau:

نَسْأَلُ اللّٰهَ بِأَنَّهُ يَتَغَشَّاهُ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَيُسْكِنُهُ الْجَنَّةَ، وَيَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهٖ وَأَنْوَارِهٖ وَعُلُوْمِهٖ وَنَفَحَاتِهٖ وَبَرَكَاتِهٖ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، آمِيْنَ، وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَلْفَاتِحَةَ أَثَابَكُمُ اللّٰهُ … ۞

“Kami mohon kepada Allah, bahwa sesungguhnya Allah menganugerahi kepada beliau rahmat, ampunan, dan memberikan tempat di surga, dan dapat limpahan manfaat kepada kami segala rahasia-rahasianya, cahaya-cahayanya, ilmu-ilmunya, harum semerbak kedudukannya dan keberkahannya dalam agama, dunia dan akhirat, Ya Allah perkenankanlah doa ini, dan dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW, bacalah Surat al-Fatihah semoga kalian mendapat balasan…”

Wallâhu A’lam

About admin

Check Also

Legalitas Takwil pada Ayat-ayat Mutasyabihat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...