Friday , April 23 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Mengenal Siliwangi dalam Hakekat Perbuatan

Mengenal Siliwangi dalam Hakekat Perbuatan

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Pada hari ini, alhamdulillah, mendapat pelajaran berharga setelah “ngobrol batin” dengan sahabat saya Abah Jatnika yang apabila diringkas seperti berikut ini :

(Namun demikian untuk mendalami tentang hal berikut sangat dibutuhkan seorang Guru Mursyid agar ajaran agung ini tidak menjadi fitnah adanya).

Nyiliwangikeun Gusti

Arti dari Nyiliwangikeun Gusti adalah kita berbuat (berakhlak) dengan Akhlak Allah yang tercermin dari Asmaul Husna nama-namaNya yang Maha Sempurna dan Maha Mulia sebagaimana diperintahkan dalam hadits Qudsi :

تَخَلَّقُوا بِأَخْلَاقِ‏ اللّٰهِ

Takhallaquu bi akhlaaqillaah

“Berakhlaklah dengan akhlak Allah swt”.

Apakah yang dimaksud dengan berakhlak dengan akhlak Allah swt?

Kita menyakini bahwa Allah swt adalah Dzat yang maha sempurna. Artinya tidak ada sifat dan perbuatan tercela pada Diri-Nya. Semuanya indah dan penuh hikmah. Kita bisa melihat keindahan sifat dan perbuatan-Nya melalui “Asmaul Husna” (Nama-nama yang Indah). Di dalamnya ada ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-‘Afwu (Maha Memaafkan), dan lain sebagainya.

Berakhlak dengan akhlak Allah swt adalah berusaha untuk memiliki sifat-sifat kesempurnan-Nya dan berperilaku seperti perilaku-Nya. Artinya segala perbuatan yang kita lakukan sesuai dengan kehendak dan keridhaan-Nya, bukan berdasarkan kehendak dan kepuasan diri kita. Dalam ‘irfan, keadaan ini disebut dengan fana dalam perbuatan-Nya, yang mana seorang pesuluk sudah tidak memiliki kehendak dan iradah kecuali kehendak-Nya. Para ‘arif melihat bukan lagi dengan matanya, akan tetapi dengan mata Allah swt. Begitu juga dengan telinga, tangan, dan kakinya.

Mereka ini adalah manifestasi atau cermin dari akhlak dan perbuatan Allah swt. Dalam Hadist Qudsi, Allah swt berfirman:

قالَ اللّٰهُ عَزَّ وَ جَلَّ مَنْ اَهانَ لِىَ وَلِيّاً فَقَدْ اَرْصَدَ لِمُحارَبَتى وَ ما تَقَرَّبَ اِلَىَّ عَبْدٌ بِشَيْئ اَحَبَّ اِلَىَّ مِمّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَ اِنَّهُ لَيَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنّافِلَةِ حَتّى اُحِبُّهُ فَاِذا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذى يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذى يُبْصِرُ بِهِ وَلِسانَهُ الَّذى يَنْطِقُ بِهِ وَ يَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِها اِنْ دَعانى اَجَبْتُهُ وَ اِنْ سَأَلَنى اَعْطَيْتُهُ..

“Barangsiapa menghina salah satu dari kekasihku, berarti ia telah mengumumkan peperangan dengan-Ku. Dan tidak ada yang lebih baik untuk mendekatkan seorang hamba kepada-Ku melainkan dengan mengerjakan apa yang aku wajibkan kepadanya. Dan dengan melaksanakan yang sunah ia akan dekat dengan-Ku hingga Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, dan Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat, dan Aku akan menjadi lisannya yang dengannya ia berkata, dan Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia beraktifitas. Jika ia memanggil-Ku maka Aku akan memenuhinya dan jika ia meminta sesuatu kepada-Ku maka Aku akan memberinya”.

Nyiliwangikeun Qalbu

Arti Nyiliwangikeun Qalbu adalah kita harus menyadari bahwa Allah tidaklah jauh dari Qalbu kita. Maka dari itu, setiap hari isilah hati kita dengan niat untuk menyebarkan kasih sayang sesama manusia (“Siliwangi Pergaulan”).

Guru sufi menerangkan kepada Mursyid kami Syeikh Abu Yazid, “Kau pikir Allah itu ada dalam Ka’bah? Apa kalian pikir Allah itu bisa kalian kurung dalam sebuah bangunan?”

“Jauh sekali engkau mencari Allah. Padahal Dia ada dalam hati seorang mukmin. Dia dekat, lebih dekat dari urat leher. Kau tawaflah aku saja, karena Allah ada dalam qalbuku,” kata sang guru.

Dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan bahwa “qalbu seorang mukmin adalah baitullah“. Qalbu para sufi adalah qalbu yang senantiasa mengalami muraqabah. Allah bersemayam dalam qalbu yang seperti itu.

Sementara qalbu manusia biasa justru menjadi sarang syaitan. Karena jarang bahkan tidak pernah mengalami proses penyucian (suluk).

Kata guru sufi ini, “Allah tidak pernah masuk ke dalam baitullah sejak itu didirikan. Namun Allah tidak pernah keluar dari qalbuku sejak ia dibangun oleh-Nya.”

Nyiliwangikeun Rasa Pangrasa

Yaitu kita kembali kepada tugas hidup manusia sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

Innamaa bu’istu liutammima makaarimal akhlaaq

“Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak.”

Surah Al-Ahzab, ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيرًا

Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjullaaha wal-yaumal-aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Allah SWT juga berfirman:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ، فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Laqad jaa`akum rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum ḥariishun ‘alaikum bil-mu`miniina ra’uufur raḥiim. Fa in tawallau fa qul ḥasbiyallaahu laa ilaaha illaa huw, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘adziim.

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.” (QS. At Taubah: 128-129).

Maka mencari, mencontoh, dan berpola hidup Rasulullah di dalam hati kita itulah yang dikatakan “Siliwangi” yang juga bermakna saling menebar kasih sayang, saling menebarkan kebaikan dan menjauhi sikap saling mencela. Perbuatan aktif untuk menemukan hakekat “Siliwangi” dalam diri dengan mengamalkan prilaku baiknya adalah “Nyiliwangi”. Selamat mengamalkan…!!!

About admin

Check Also

Kitab Tanwir al-Qulub: Penerang Hati dalam Kegelapan (Pegangan Pengikut Tarekat Naqsyabandiyah)

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...