Tuesday , September 28 2021
Home / Agama / Kajian / Mengenal Habib Abdullah bin Mukhsin al-Atthas (Kramat Empang Bogor)

Mengenal Habib Abdullah bin Mukhsin al-Atthas (Kramat Empang Bogor)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Kawasan Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat an-Nur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.

Di Kompleks Masjid an-Nur itulah, al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas dimakamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu al-Habib Muhsin bin Abdullah al-Atthas, al-Habib Zen bin Abdullah al-Atthas, al-Habib Husen bin Abdullah al-Atthas, al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthas, Syarifah Nur binti Abdullah al-Atthas, dan makam murid kesayangannya yaitu al-Habib Alwi bin Muhammad Bin Thahir.

Dalam Manakibnya disebutkan bahwa al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas adalah seorang “Waliyullah” yang telah mencapai kedudukan mulia dekat dengan Allah SWT. Beliau termasuk salah satu Waliyullah yang tiada terhitung jasa-jasanya dalam sejarah pengembangan Islam dan kaum muslimin di Indonesia. Beliau seorang ulama “Murabbi” dan panutan para ahli tasawuf sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi semua kelompok manusia maupun jin.

Al-Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husen bin Syeh al-Quthb, al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas adalah seorang tokoh rohani yang dikenal luas oleh semua kalangan, baik umum maupun khusus. Beliau adalah “Ahli kasyaf” dan ahli Ilmu Agama yang sulit ditandingi keluasan ilmunya, amal ibadahnya, kemuliaan maupun budi pekertinya.

Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, beliau asli dari Yaman Selatan dilahirkan di desa hawrat, salah satu desa di al-Kasar, Kampung Huraidhah, “Hadhramaut” pada hari Selasa, 20 Jumadi Awal 1275 Hijriah. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dan perhatian khusus dari Ayahnya. Beliau mempelajari Al-Qur’an di masa kecilnya dari Mu’allim Syeh Umar bin Faraj bin Sabah.

Dalam Usia 17 tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an. Oleh Ayahnya, beliau diserahkan kepada ulama terkemuka di masanya. Beliau dapat menimba berbagai cabang ilmu Islam dan Keimanan.

Diantara guru–guru beliau, salah satunya adalah as-Sayyid al-Habib al-Quthbi Abi Bakar bin Abdullah al-Atthas. Dari guru yang satu itu, beliau sempat menimba berbagai ilmu ruhani dan tasawuf. Beliau mendapatkan do’a khusus dari al-Habib Abu Bakar al-Atthas, sehingga beliau berhasil meraih derajat kewalian. Diantara guru ruhani beliau adalah Yang Mulia al-Habib Shalih bin Abdullah al-Atthas, seorang penduduk Wadi A’mad.

Habib Abdullah pernah membaca Surat al-Fatihah di hadapan Habib Shaleh dan Habib Shaleh mentalqinkan Surat al-Fatihah kepada al-‘Arif billahi Habib Ahmad bin Muhammad al-Habsyi. Ketika melihat al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas yang waktu itu masih kecil, beliau berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang yang mulia kedudukannya.

Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas pernah belajar Kitab Risalah karangan al-Habib Ahmad bin Zen al-Habsyi kepada al-Habib Abdullah bin ‘Alwi Alaydrus dan beliau sering menemui Imam al-Abrar al-Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar. Selain itu, beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyullah yang tingal di Hadhramaut seperti al-Habib Ahmad bin Abdullah al-Bari, seorang tokoh Ahlus Sunnah dan Atsar, dan Syeh Muhammad bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syeh Muhammad Basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.

Pada tahun 1282 H., Habib Abdulllah bin Muhsin al-Atthas menunaikan ibadah haji yang pertama kalinya. Selama di Tanah Suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama–ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang masyhur.

Setelah dirasa cukup, maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa keberkahan yang tak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadhramaut untuk mengunjungi para Wali dan para Tokoh Agama Ahli Tasawuf baik dari keluarga al-‘Alawi maupun dari keluarga lain.

Pada tahun 1283 H., beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai pelosok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulia bagi seorang yang berjiwa mulia. Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga al-‘Alawi, antara lain al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah al-Atthas.

Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad, beliau mendapatkan Ma’rifat. Dan di awal kedatangannya ke Tanah Jawa, beliau memilih Pekalongan sebagai kota tempat kediamannya. Guru beliau, Habib Ahmad bin Muhammad al-Atthas banyak memberi perhatian kepada beliau, sehingga setiap kali gurunya mengunjungi Kota Pekalongan, beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas.

Dalam setiap pertemuan, Habib Ahmad selalu memberi pengarahan ruhani kepada Habib Abdullah bin Muhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat ruhani yang sulit untuk dibicarakan di dalam tulisan yang serba singkat ini.

Dalam perjalanan hidupnya, Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas pernah dimasukkan ke dalam penjara oleh Pemerintah Belanda, mungkin pengalaman ini telah digariskan Allah. Sebab, Allah ingin memberi beliau kedudukan tinggi dan dekat dengannya. Nasib buruk ini pernah juga dialami oleh Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa Masyhur yang telah memenjarakannya.

Karamah Habib Abdullah

Selama di penjara kekeramatan Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung ke penjara tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para Kepala penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah di penjara.

Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah bin Muhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau. Mereka lalu mengusulkan kepada Kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan itu ditawarkan kepada Habib Abdullah, beliau menolak dan lebih suka menunggu sampai selesai masa hukumannya.

Pada suatu malam, pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas seraya berkata, “jika kamu ingin keluar dari penjara, keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah”. Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara.

Pada suatu malam, dalam ru’yahnya beliau didatangi oleh Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam dan Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani serta beberapa tokoh wali lainnya. Pada kesempatan itu, Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam memberikan sebuah kopiah. Ternyata, hingga pagi harinya, kopiah tersebut masih tetap berada di kepala al-Habib Abdullah padahal pertemuan tersebut hanya dalam mimpi.

Para pengunjung yang datang ke penjara semakin ramai, sehingga penjara itu seperti menjadi rumah beliau. Beliau pun sering mendapatkan berbagai kekeramatan di luar kebiasaan. Hal ini mengingatkan kembali pada kekeramatan yang pernah dimiliki para Ulama terdahulu seperti Syeikh Abu Bakar as-Sakran dan Syeikh Umar al-Muhdhar.

Di antara karamah yang beliau peroleh adalah sebagaimana disebutkan oleh al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi bahwa Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas ketika mendapatkan anugerah dari Allah SWT beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah SWT, hilang segala keterhubungannya dengan alam dunia dan segala isinya.

Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujungi Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas dalam penjara, aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihatku, beliau mengucapkan bait-bait sya’ir Habib Abdullah al-Haddad yang awal baitnya adalah; “Wahai yang mengunjungiku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang menebarkan berita fitrah”. Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami berpelukan dan menangis.

Karamah lainnya, setiap kali beliau memandang borgol yang membelenggu kakinya, maka terlepaslah borgol itu. Disebutkan juga bahwa ketika kepala penjara menyuruh bawahannya mengikat leher Habib Abdullah bin Muhsin dengan rantai besi, maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan kepala penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, hingga dokter tak mampu mengobati penyakitnya. Barulah kemudian ia sadar bahwa penyakit yang menimpanya dan keluarganya itu diakibatkan karena ulah dia sendiri yang telah menyakiti al-Habib Abdullah.

Lalu kepala penjara mengutus bawahannya untuk meminta do’a kepada Habib Abdullah agar penyakit yang diderita oleh kepala penjara dan keluarganya itu sembuh. Berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu, “ambillah borgol dan rantai ini, lalu ikatkan pada kaki dan leher kepala penjara itu, maka akan sembuhlah dia”.

Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit kepala penjara dan keluarganya seketika itu juga sembuh. Kejadian ini menyebabkan kepala penjara semakin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.

Perjalanan ke Empang, Bogor

Setelah beliau keluar dari penjara, beliau mencari tempat sunyi yang jauh dari keramaian manusia. Beliau memilih Bogor (Empang) sebagai tempatnya menyendiri. Di sana beliau membeli tanah dan membuat rumah sederhana.

Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh al-Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus, untuk menuju Kota Mekkah. Sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan shalat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Entah apa yang dimimpikannya, yang jelas keesokan harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.

Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Habib Ahmad bin Hamzah al-‘Atthas yang ada di Pekojan, Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya. Lalu Habib Ahmad bin Hamzah al-‘Atthas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang. Setelah dari sana, beliau melanjutkan perjalanan hingga sampailah beliau ke Empang, Bogor.

Saat datang ke Empang Bogor, di sana belum ada penghuninya. Namun dengan ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang. Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan di pinggiran Empang. Kebetulan kala itu datang seorang penduduk Bogor berkata kepada beliau “Habib, kalau Anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukkanlah kepada saya kekeramatannya”.

Kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas sedang makan seekor ikan yang tinggal separuh lagi. Maka Habib Abdullah pun berkata: “Yaa samak Anjul ilaman Tabis,” (Wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah), maka atas izin Allah SWT, seketika itu ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke Empang. Konon ikan tersebut sampai sekarang dikabarkan masih hidup.

Kerap Dikunjungi Peziarah

Acara pengajian rutin setiap malam Jumat, selalu diadakan pembacaan kitab Maulid Nabi Ad-diba’i, karya Syekh Abdurrahman Ad-diba’i, yang dibacakan di dalam masjid, tepatnya di ruang tengah yang hanya dibuka saat pengajian malam Jumat.

Setiap tahun, acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di masjid ini selalu ramai oleh para jamaah, bahkan dari luar daerah Bogor. Beberapa kali juga, Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono turut hadir saat beliau masih menjabat. Jajaran ulama, dai, hingga tokoh politik pun acap kali terlihat hadir saat maulid diselenggakan di Masjid Empang.

Jika ingin berziarah dengan tenang, baiknya jangan datang saat malam Jumat, dikarenakan amat ramai oleh para peziarah, juga banyak orang yang berjualan di sekitar Masjid Empang. Tetapi, jika ingin hadir saat pengajian dan mengikuti pembacaan maulid Nabi, datang saja hari malam Jumat.

Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen al-‘Atthas . Di dalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan dzikir beliau. Bahkan di sana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat, gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.

Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jami’at khair atau di Rabithah”, Tanah Abang, Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Fathurrabbaniah” konon kitab itu hanya beredar di kalangan para ulama besar.

Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Atthas dan Ratibul Haddad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap maghrib oleh beliau kepada murid-muridnya di masa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas menganjurkan supaya tetap dibaca.

Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam dibaca sebanyak seribu kali, dengan kitab Shalawat yang dikenal yaitu “Dalail al-Khairat” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 H., di awal waktu dzuhur  atau bertepatan dengan 26 April 1933 M., pada usia 86 tahun. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Shalat Dzuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut menshalatkan jenazahnya. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid an-Nur Empang.

Sumber: Kitab Manakib al-Habib Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas

About admin

Check Also

Legalitas Takwil pada Ayat-ayat Mutasyabihat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...