Home / Agama / Kajian / Mengenal Badan Ruhani (7-Habis)

Mengenal Badan Ruhani (7-Habis)

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Assalãmu ‘alaikum wa rahmatu ‘l-Lãhi wa barakãtuh
Bismillãhi ‘r-Rahmãni ‘r-Rahîm. Al-hamdu lillãhi Rabbi ‘l-‘Ãlamîn. Allãhumma shalli wa sallim ‘alã Sayyidinã Muhammadin wa ‘alã ãlihî wa shahbihî ajma’în. Ammã ba’du.

Saudaraku yang dirahmati Allah dengan kesehatan, wal ‘ãfiãt, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mencintai Allah dengan sebaik-baiknya dan dicintai olehNya. Ãmîn yã Rabba ‘l-‘Ãlamîn.

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ۞

“.. jika Aku mencintainya, maka Akulah pendengaran baginya mendengar, dan pandangan baginya memandang, dan tangan baginya baginya memukul, dan kaki baginya berjalan, jika ia meminta kepadaKu, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepadaKu, pasti Kulindungi.”

Demikianlah Hadits Qudsi, yang diriwayatkan oleh Bukhari, yang telah diceritakan oleh Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah diceritakan oleh Khalid bin Makhlad, telah diceritakan oleh Sulaiman bin Bilal, telah diceritakan oleh Syarik bin Abdullah bin Abi Namir dari ‘Atha’ dari Abu Hurairah. Betapa jika hati telah menyatu dalam Cinta yang Hakiki kepada Allah niscaya Dia mencintai sang pecinta dengan Cinta Terbaik.

Hati manusia, yang dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan berada sejarak dua jari di antara Jari-Jemari Ar-Rahman, benar-benar dalam Genggaman-Nya. Teramat sangat mudah bagi Allah memberi petunjuk atau kesesatan kepada siapapun sesuai dengan KehendakNya.

Dalam Q.S. At Taghabun (64) : 11, Allah menjanjikan barangsiapa yang beriman kepadaNya niscaya mendapatkan penerang bagi hatinya, petunjuk menuju Kebenaran. Mengapa masih menyangkal?

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ۞

”Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya, berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Betapa merugi manusia yang Allah telah tutup pintu-pintu sambungannya terhadap badan ruhani. Padahal, jika sadar untuk menutupnya sendiri agar jiwanya tidak terdorong oleh hawa, sehingga hati tetap terjaga kemurniannya, manusia dapat menempuh perjalanan ruhaniah di dalam dirinya menuju Sirr, Nur, bahkan hingga Hayyu, untuk Berjumpa dengan Kesejatian. Bagaimana cara menutup pintu-pintu itu?

Dalam Carita Mintaraga Gancaran, yang digubah dari Serat Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa yang disarikan dari Epos Mahabarata, yang dibangun menjadi kisah wayang kulit purwa di masa awal Surakarta Hadiningrat, tersebutlah babahan hawa sanga atau pintu hawa yang sembilan. Pintu-pintu itu dua lubang telinga, dua ceruk mata, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang anus.

”Patrapipun semadi sila, asta kekalih tumumpang ing wentis, tingal mandeng pucuking grana, sarwi anutupi babahan hawa sanga, wonten swanten boten pinireng, wonten ganda boten ingambet. Sang Begawan anggenipun angeningaken cipta sampun angraga-sukma, ical kamanungsanipun, salwiring panca driya sampun pinejahan.”

Terjemahan bebas:

”Sikapnya samadi bersila, kedua tangan diletakkan di atas paha, mata menatap pucuk hidung, serba menutup pintu hawa sembilan, ada suara tidak didengar, ada aroma tidak diendus. Sang Begawan mengheningkan cipta telah angraga-sukma, seluruh pancaindera termatikan”.

Kawruh Jawi adalah Kawruh Jiwa, merinci secara khas ajaran-ajaran relijiusitas Islam menjadi ajaran-ajaran spiritualitas. Kisah Begawan Ciptaning, alias Mintaraga, mengurai tatacara mengatasi dorongan hawa nafsu, sungguh mencerahkan. Belum lagi jika merunut piwulangan Para Wali, Para Ratu, Para Ratu Wali, dan Para Wali Ratu di Tanah Jawi.

Dari Kiai Muna’am, Mursyid Thariqat As-Syathariyah yang kami berbai’at kepadanya, bersanad Kangjeng Sunan Kalijaga, kami diajari bagaimana menutup sembilan pintu hawa. Tentu, tidak mampu kami jelaskan secara terang-benderang di sini disebabkan oleh berbagai keterbatasan. Tapi, semoga bisa kita bahas dalam suatu perjumpaan.

Babahan hawa sanga, pintu sembilan hawa, ditutup dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, bismi ‘l-Lãhi ‘r-Rahmãni ‘r-Rahîm.

Bis-mil-lah-hir-rah-man-nir-rah-him.
(1)-(2)-(3)-(4)-(5)-(6)-(7)-(8)-(9)

Wallãhu a’lam bish-shawãb.

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ

Wa ‘l-Lãhu al-muwaffiq ilã aqwami ‘t-tharîq.
Wassalãmu ‘alaikum warahmatu ‘l-Lãhi wabarakãtuh

___________________

Ditulis pada Rabu malam Kamis Wage, 13 Sura Tahun Ehe 1956 atau 13 Muharam 1444 Hijriyah yang bertepatan dengan 10 Agustus 2022.

Oleh: K.P.H.A. Panembahan Pakoenegoro | R.M. Hartawan Candra Malik

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...