Home / Agama / Kajian / Mencoba Memahami Turunnya (Nuzul) Al-Qur’an

Mencoba Memahami Turunnya (Nuzul) Al-Qur’an

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Nuzulul Qur’an adalah suatu momentum di bulan Ramadhan yang sering diperingati oleh umat Islam untuk mengenang turunnya al-Qur’an. Penyebutan Nuzulul Qur’an untuk merujuk kepada sejarah turunnya al-Qur’an yang secara bervariatif semua pendapat menyebutnya pada bulan Ramadhan.

Sehubungan dengan ini, al-Qur’an sendiri telah mengisyaratkan :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۞

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Secara simbolik, Nabi Muhammad SAW mengilustrasikan bahwa al-Qur’an untuk pertama kali diturunkan dari “Lauhul Mahfudz” (batu tulis yang terjaga) sampai ke “Baytil ’Izzah” (langit dunia) yaitu pada Malam ‘Qadr’ di bulan Ramadhan.

Mayoritas para ulama telah bersepakat bahwa dari “Baytil ’Izzah” ini malaikat Jibril as kemudian mengantarkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap, step by step, selama kurun waktu sekitar 23 tahun.

Ada beberapa pendapat tentang tanggal turunnya al-Qur’an. Ada yang mengatakan di hari-hari ganjil pada sepuluh hari terakhir (‘asyrul awâkhir) bulan Ramadhan. Ada pula yang mengatakan persisnya pada 27 Ramadhan. Dan ada lagi yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan yang direlevansikan dengan “Lailatul Qadar”. Relevansi itu berkaitan dengan isyarat Allah SWT antara surat al-Qadr ayat 1 dengan surat al-Anfal 41:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۞

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”. (QS. Al-Qadr [97]: 1)

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ۞

“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan (Al-Qur‟an) kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan”. (QS. Al-Anfal [8]: 41)

Maksud dari hari Furqan atau hari bertemunya dua pasukan adalah hari terjadinya pertempuran Badr. Pertempuran itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 02 H., yang persisnya jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624 M.

Sementara bagi kebanyakan orang Indonesia bahwa Nuzulul Qur’an itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Karena itu, setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam di Indonesia menjadikannya seolah sebagai tradisi yang lestari. Hal itu dimaksudkan untuk memperingati hari turunnya al-Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Ada yang membuat khatamul Qur’an. Ada yang memperingatinya dengan membuat acara yang berisi ceramah agama. Ada yang berzikir secara berjamaah, dan lain sebagainya. Tak ada yang jelek dari tradisi-tradisi tersebut.

Terlepas dari bagaimana cara mengapresiasi peringatan Nuzulul Qur’an itu, pada artikel singkat ini mari kita coba untuk mengulik, mengorek-ngorek, atau mengupas tentang hakekat yang disebut sebagai turunnya (Nuzul) Al-Qur’an itu. Bagaimana sih prosesnya?

Turunnya Al-Qur’an pada umumnya dikesankan dan imajinasikan seperti sesuatu benda yang berada di atas lalu turun ke bawah atau ke bumi. Seperti pesawat mendarat atau seperti sesuatu yang turun dari langit secara tiba-tiba. Ia diilustrasikan begitu materialistik, sangat imajiner. Apa yang dikatakan Qur’an turun itu tidak pernah kita renungi dan kita pikirkan.

Lalu, apa iya bahwa turunnya Qur’an itu dalam bentuk lembaran yang bertulis (shahifah) secara instant, sehingga Nabi SAW tinggal baca dengan mata inderawi. Apa mungkin dalam bentuk cahaya yang turun dari langit dan dicitrakan pada sesuatu sehingga mata Nabi SAW dapat membacanya. Atau, apa mungkin hanya terdengar suara dari alam antah berantah yang kemudian ditangkap oleh telinga Nabi secara inderawi sementara para sahabat yang lain tak satupun yang mendengar suara tersebut.

Sungguh, bahwa berbicara tentang bagaimana Al-Qur’an turun tak bisa dilepaskan dengan konsep-konsep nubuwwah (kenabian) dan risalah (kerasulan) yang dengannya ada wahyu yang diturunkan. Akan segaris juga dengan pemahaman terhadap semua subyek yang tersebut di dalam rukun Iman yang sejak kecil sudah sangat kita hapal. Akan sama juga dengan memahami bagaimana proses-proses turunnya wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh Malaikat Jibril AS. Proses turunnya wahyu itulah yang dikatakan sebagai turunnya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an).

Sehubungan dengan ini Allah mengisyaratkan:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ ۞

“Dan tidak layak Allah berbicara dengan seorang manusia pun kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu utusan itu mewahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura [42]: 51)

Memahami Nuzulul Qur’an akan sangat berkaitan erat dengan iman bersama rukun-rukunnya. Hal itu tidak mudah juga dicapai hanya dengan rajin-rajin menghadiri acara peringatan Nuzulul Qur’an yang sudah menjadi tradisi. Meski hal itu tidaklah salah, namun esensi pemahaman yang lebih mendalam tidaklah hanya melalui penjelasan secara ‘aqliyyah nadzhariyyah (logika akal).

Pada media terbatas ini, mungkin bisa kita coba untuk memulai berkontemplasi dengan mengambil sedikit perenungan dari surat al-Baqarah ayat 1-2:

الم ۞ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ ۞

“Alif Lam Mim. Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang bertaqwa”.

Dalam ayat tersebut diisyaratkan bahwa Kitab itu ya Alif, Lam dan Mim. Kata “dzaalika” adalah ism al-isyarah (kata tunjuk) yang menunjukkan bahwa Kitab yang kemudian disebut sebagai al-Qur’an itu adalah Alif, Lam dan Mim.

Alif, Lam dan Mim itu adalah rangkaian huruf yang tidak digabung menjadi satu kalimat. Ia tidak menjadi alamun misalnya, atau alimun atau almun, dst. Apa yang dibaca pada ayat tersebut sebenarnya bukanlah kalimat, akan tetapi huruf, yakni huruf Alif, huruf Lam dan huruf Mim.

Jadi, jika yang dibaca pada ayat tersebut adalah huruf, maka yang dikupas dan dikaji adalah huruf-hurufnya. Hal itu menjadi semacam inisial atau sandi-sandi tertentu untuk menunjuk kepada makna tertentu. Ada beberapa surat yang awalnya dibuka dengan huruf-huruf yang merupakan inisial untuk mempersonifikasi sesuatu. Diantaranya, Tha Haa…, Yaa Siin…, Alif Lam Ra…, Alif Lam Mim Shad…, dst.

Pada kesempatan ini mari kita coba bongkar inisial atau sandi-sandi yang digunakan dalam permulaan Surat kedua dalam al-Qur’an ini. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengurut kajian paling mendasar, yakni ilmu tentang huruf. Dan hal yang paling mendasar dalam kajian huruf adalah menelisik bagaimana proses keluarnya huruf itu.

Dalam pengajian tingkat dasar, belajar menyebut keluarnya huruf itu disebut dengan Makhrajul huruf. Dari sana nanti akan muncul kategorisasi huruf. Jika huruf itu menjadi sebuah kata dan digabung dengan kata lain, maka ia menjadi kalimat, disebut juga dengan maqâlah.

Nah, bagaimana sih proses keluarnya huruf-huruf itu (Alif, Lam, dan Mim)?

Sesuai dengan kategorisasinya, bahwa huruf Alif itu termasuk ke dalam kategori huruf halqiyyah, yakni huruf yang keluar dari tenggorokan. Makna Halqiyyah adalah majrath tha’âm wasy-syurb (tempat mengalirnya makanan dan minuman), disebut juga dengan tenggorokan. Disitulah letak dan sumber keluarnya huruf Alif. Ada beberapa huruf lain yang dikategorikan sama dengan huruf Alif, diantaranya ‘Ain, Ghain, , Khâ.

Kedua, huruf Lam. Huruf itu termasuk ke dalam kategorisasi huruf dzaulaqiyyah yang artinya masy’aruth tha’âm wasy-syurb, yakni tempat merasakan makanan dan minuman. Ia terletak di ujung lidah. Tidak banyak huruf yang termasuk ke dalam huruf dzaulaqiyyah kecuali dan Nûn. Dan ketiga adalah huruf Mîm. Ia terletak dan berasal dari perpaduan dua bibir dan dikategorikan sebagai huruf syafawiyyah. Termasuk ke dalam kategori huruf syafawiyyah adalah huruf Ba.

Jika kita telisik lebih mendalam, bahwa Kitab itu diinisialisasi dengan huruf Alif Lâm dan Mîm bukanlah tanpa message. Dari inisial itu, ada sebuah keterkaitan antara diri manusia dengan Tuhan. Alif Lâm dan Mîm adalah sebuah proses turunnya wahyu.

Secara sistematis, letak keluarnya huruf-huruf tersebut jika dirangkai akan menjadi sebuah rangkaian: dimulai dari tenggorokan (huruf Alif), lalu bergeser ke ujung lidah yang menyentuh langit-langit (huruf Lâm) dan keluar melalui rongga mulut atau dua bibir yang dipadukan (huruf Mîm).

Makna yang sangat mendasar dari pendalaman ketiga rangkaian huruf tersebut adalah sebuah action dari obyektifitas manusia dengan segala bentuknya. Ketiga rangkaian huruf tersebut, jika dimaknakan lebih konkret adalah sebuah Af’al manusia yang berasal dari kesadaran tertingginya. Surat al-Baqarah ayat satu tersebut dibeberkan oleh ayat keduanya sebagai “Kitab”. Bahwa Alif Lâm dan Mîm adalah “Kitab”, yang di dalamnya tak ada keraguan sedikitpun, yang kemudian “Kitab” itu menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Lalu siapa itu orang yang bertaqwa? Yang selalu menjadikan Alif Lâm dan Mîm sebagai petunjuk? Ayat ketiganya menjawab pertanyaan tersebut dan disambung terus dengan ayat keempatnya.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ۞ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ۞ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۞

(3). “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. (4). “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (5). “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Alif Lâm dan Mîm adalah kitab masing-masing manusia yang membentuk semacam “jejak-jejak digital” yang kemudian menentukan bagaimana “nasib” manusia jika dikaitkan dengan kesungguhannya dalam memperbaiki diri. Alif Lâm dan Mîm adalah Kitab rujukan, untuk cerminan bagi setiap manusia. Dengan ungkapan singkat,

“bagaimana Alif-mu, begitulah Lâm-mu akan bekerja, hingga begitulah pula realitas Mim-mu. Semakin tinggi engkau pahami Alif, maka Mim kedirianmu akan juga semakin tinggi. Begitupun sebaliknya, jika rendah engkau pahami Alif, maka Mim kedirianmu juga akan rendah”.

Sesuatu yang keluar melalui ketiga tempat itu telah banyak membuat keramaian dunia. Alif Lâm dan Mîm disebut juga dengan kalam Tuhan. Kalam itu akan terus “turun” (nuzul) tiada henti. Kedirian manusia adalah obyektifikasi Kalam Tuhan. Dan prilaku manusia adalah subyektifikasi Kalam-Nya yang tak pernah berhenti meramaikan alam beserta isinya ini. Ketika kalam itu disadari berarti ia telah membuka tabir dimana dirinya berada. Kalam keluar bersama nafas, karenanya tak ada suara jika tak keluar bersama nafas.

Huruf Alif yang berada di tenggorokan adalah sandi keberadaan-Nya yang sejalan dengan bunyi ayat:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ۞

“dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf [50]: 16).

Tenggorokan ini adalah sumber suara sebuah ucapan (pita suara) dan digerakkan oleh nafas. Karena itu, kalam diolah oleh nafas, dimodifikasi oleh lidah dan dikeluarkan oleh mulut. Semua sumber daya (source) sebuah kalam yang keluar dari mulut manusia dikatakan sebagai kalam Tuhan. Lho kok bisa begitu? Ya memang begitu.

Kalam manusia yang berkadar Ketuhanan tinggi disebut sebagai “qaulan tsaqilan” (perkataan berat). Sedangkan yang berkadar Ketuhanan rendah disebut sebagai “qaulan khafifan” (perkataan ringan). Resources keduanya tetap saja adalah Tuhan. Dan keduanya adalah obyektifitas kalam Tuhan.

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ۞

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 5)

Kalam dan nafas yang keluar melalui tenggorokan adalah sebuah hukum yang mengatur dan menentukan kadar ucapan dan nafas seseorang sehingga ia dikatakan berbuat sebagaimana tulisan taqdirnya di alam awang uwung (Lauh al-Mahfudz). Karena itu, pada sisi ini semua ucapan manusia adalah Qur’an (wahyu Tuhan) dalam kadar tertentu yang menjadi hukum bagi dirinya sendiri.

Ucapan manusia adalah hukum Tuhan yang membuat manusia dituntut untuk mempertanggungjawabkan setiap kalam yang diucapkannya. Jika buruk ucapannya, entah itu karena amarah nafsu, dsb, maka buruk pula kadar dirinya dan buruk pula hukum Tuhan terhadap dirinya. Jika bagus, maka bagus pula kadarnya dan hukum Tuhan terhadap dirinya.

Suara yang membentuk sebuah ucapan dan didorong oleh nafas ditentukan oleh akal pikiran sehingga setiap kalimat merupakan realitas kesadaran. Semakin dalam kesadarannya akan setiap kalimat, semakin dalam pula dirinya mengenal Tuhan. Namun setiap kalimat itu tetaplah menunjukkan mekanisme hukum Tuhan yang menjerat manusia baik disadari atau tidak.

Alif Lâm dan Mîm adalah Kitab yang harus dibaca dan menjadi rujukan bagi setiap manusia jika ingin selamat dalam menjalani hidup yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Alif Lâm dan Mîm adalah mekanisme Nuzul al-Qur’an yang diperingati dan menjadi tradisi di setiap malam 17 Ramadhan. Alif Lâm dan Mîm adalah cara Tuhan menuliskan Kalam-Nya sendiri dan mewujud sebagai kedirian manusia. Ketika manusia menyadarinya, maka ucapannya akan berat (qaulan tsaqilan) dan derajatnya akan semakin tinggi. Ketika manusia tidak menyadarinya, maka ucapannya akan semakin ringan (qaulan khafifan) dan derajatnya berada pada level bawah.

Alif Lâm dan Mîm bukan hanya sekedar ucapan suara, tapi ia adalah produk kesadaran manusia yang disesuaikan dengan Kehendak Tuhan. Prilaku lahiriyah manusia, prilaku pikiran manusia dan prilaku hati manusia.

Selamat menyongsong “Lailah al-Qadr“… !!!

وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى سَبِيْلِ التَّوْفِيْقِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallâhu A‘lam bish-shawâb.

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...