Sunday , October 17 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Menanggapi “Seruan”

Menanggapi “Seruan”

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Perjalanan besar jiwa menuju Asal dimulai dengan kebangkitan jiwa dalam rasa ingin tahu terhadap kodrat ilahiahnya dan responnya terhadap “seruan”.

Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya kepada semua manusia sebelum diciptakan:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ ۞

wa idż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alā anfusihim, a lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ yaumal-qiyāmati innā kunnā ‘an hāżā gāfilīn. (QS. Al-A’raf [7]: 172)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf [7]: 172)

“And (remember) when your Lord took from the children of Adam, from their backs, their descendants and made them bear witness over themselves, (and said): ‘Am I not your Lord?’ They said: ‘Yes! We do bear witness.’ (This We did) lest you should say on the Day of Resurrection: ‘Verily we were unaware of this’.” (QS. Al-A’raf [7]: 172).

Hadits-hadits mengenai penciptaan anak-cucu Adam. Di antaranya adalah, “Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, lalu darinya berjatuhan setiap ruh anak-cucunya sampai Hari Kiamat.” (HR. Al-Hākim dari Abu Hurayrah).

Juga hadits yang diriwayatkan Al-Hākim dari ‘Ubay ibn Ka’ab mengenai firman Allah Swt [“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka…” (QS. Al-A’râf [7]: 172)]. ‘Ubay ibn Ka’ab mengatakan, “Allah mengumpulkan mereka semua pada hari itu. Semuanya akan tetap hidup sampai hari kiamat. Kemudian Dia menjadikan mereka sebagai arwah, membentuk dan menjadikan mereka dapat berbicara, yang selanjutnya mengambil kesaksian mereka bahwa Allah adalah Tuhan mereka.” (arwah adalah bentuk jamak dari kata “ruh”).

Ibn ‘Abdul Birr mengatakan bahwa Abu Ishāq Muhammad ibn ‘Ashim ibn Sya’ban berkata, ” ‘Abdurrahmān ibn al-Qāsim ibn Khālid pernah mengatakan, ‘Sesungguhnya jiwa itu jasad yang diciptakan sebagaimana penciptaan manusia, sedangkan ruh itu seperti air yang mengalir’.” Pendapatnya tersebut didasarkan pada firman Allah dalam (QS. Az-Zumar [39]: 42). Lebih lanjut dia mengatakan, “Tidakkah anda mengetahui bahwa orang yang sedang tidur itu jiwanya dipegang oleh Allah, ruhnya naik dan turun dari langit, nafasnya tetap berfungsi, sedangkan jiwanya berjalan ke setiap lembah? Jiwa itu melihat seperti yang ada dalam mimpi. Jika Allah mengizinkannya kembali ke jasad, dia akan kembali hingga jasad itu berfungsi secara menyeluruh.” Selanjutnya dia menyimpulkan, “Dengan demikian, jiwa itu berbeda dengan ruh. Ruh itu seperti air yang mengalir di kebun-kebun. Jika Allah hendak mematikan kebun-kebun tersebut, Dia akan menahan air tersebut agar tidak mengalirinya. Demikian juga dengan diri manusia.”

Para sufi menyebut hal itu sebagai “mempersaksikan” Perjanjian Alast (Alastu di alam perjanjian ruh dengan Allah). Bagi mereka, hal itu membuktikan keilahian hakiki dan keabadian setiap jiwa, dan bahwa perjalanan jiwa merupakan perjalanan menuju Asal.

Tak terhitung cara untuk mendengar “seruan” tersebut, (barangkali) sama banyaknya dengan jumlah manusia.

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan sebuah hikmah:

إذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إلَّا وَلِلّٰهِ عَلَيْكَ فِيْهِ حَقٌّ جَدِيْدٌ، وَأَمْرٌ أَكِيْدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِيْ فِيْهِ حَقَّ غَيْرِهِ، وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللّٰهِ فِيْهِ

“Tak ada satupun waktu yang berlalu tanpa kewajiban baru dan perintah kuat dari Allah. Jadi, bagaimana kau bisa mengqadha kewajiban terhadap orang lain? Sementara kau belum menunaikan kewajiban Allah.”

Syekh Ahmad Zarruq memahami hikmah ini sebagai pernyataan atas jumlah tak terhingga dan varian jalan menuju Allah. Banyak sekali jalan yang tak terduga ternyata dapat mengantar seseorang kepada Allah. Jalan ini tidak selalu ibadah mahdhah yaitu shalat puasa zakat, haji, dan lain sebagainya. Beliau mengatakan, yang artinya : “Menurutku, pengertian dari ‘tiada waktu yang berlalu’ mencakup setiap saat meski hanya sekali nafas. Setiap nafas menuntut adanya tajalli. Setiap tajalli menuntut penghambaan. Penghambaan itu menuntut hadirnya tajalli. Jadi, engkau pada setiap nafasmu tengah menapaki jalan menuju Allah dengan berbagai macam cara. Oleh karena itu, ada ungkapan bahwa banyak jalan menuju Allah itu sebilangan nafas makhluk-Nya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, [Kairo, As-Syirkatul Qaumiyyah: 2010 M/1431 H], halaman 165-166).

Sebagian orang mendengar “seruan” tersebut dalam mimpi atau munculnya visi yang membuyarkan segala yang mereka pahami sebelumnya tentang realitas. Sebagian lainnya bertemu Sang Kekasih setelah terlebih dulu didera sengsara dan penyingkapan cinta manusia. Sebagian lainnya dipaksa oleh kerugian atau penyakit atau kebangkrutan atau pengkhianatan yang mengkaji ulang segala sesuatunya dalam Cahaya Keabadian. Untuk beberapa orang, Cinta menyeru mereka dalam samaran seorang guru. Untuk beberapa lainnya, Cinta memanggil mereka dari jantung “komposisi nada-nada”, atau dari sekuntum mawar merekah, atau dalam lompatan seekor ikan lumba-lumba.

Cara “seruan” diterima berlainan sehingga berbeda pula responnya. Boleh jadi hanya segelintir orang yang akan melakukan apa yang dilakukan pencari sejati kala Panggilan Cinta terdengar– menata kembali hidupnya demi berusaha dan menyerap banyak dan lebih banyak lagi apa yang dikatakan Cinta.

Untuk mengawali apa yang disebut sufi sebagai perjalanan pertama– perjalanan menuju Allah– “seruan” tersebut harus ditanggapi dengan serius, menyadari tuntutan suci pada masing-masing diri untuk mengubah perikehidupan dan keberadaannya, dan menghadapkan masing-masing hati bulat-bulat pada Sang Kekasih. Tak seorang pun bisa memulainya tanpa latihan sehari-hari yang konstan– beribadah, mengabdi dengan cinta, kontemplasi, dan “meditasi”. Sebab hanya latihan yang bisa menyingkirkan “tujuhpuluh ribu tabir di antara diri dan Diri, di antara manusia dan kesadaran ilahiah.”

Secara umum, meditasi dapat digambarkan sebagai cara ilmiah untuk mendekati diri kita melalui penjelajahan ke dalam diri dan kesadaran diri. Sebuah proses pengalaman menenangkan pikiran dan menemukan esensi sejati kita, sifat ilahi dalam diri, diri yang lebih tinggi, jiwa, atau kearifan batin dan semua pengetahuan. Sebuah proses perkembangan untuk menjadi manusia seutuhnya. Pada tingkat yang paling universal, meditasi adalah proses mengubah dan memperluas kesadaran hingga akhirnya mencapai keadaan absolut, kesadaran yang “tanpa-penilaian”.

Imam Al-Ghazali sebagai salah satu tokoh sufi sunni memiliki serangkaian metode yang bernuansa meditatif. Segala bentuk dan teknik meditasi sufi ala al-Ghazali akan berorientasi pada makrifatullah sehingga didapat “pengetahuan yang benar tanpa ada keraguan”. Disiplin meditasi sufi al-Ghazali secara teknis dan praktis meliputi : (1) uzlah dan khalwat, (2) dzikir, (3) riyadhah dengan cara mujahadah lahir (berpuasa, dan lain-lain) dan mujahadah batin (mengkondisikan hati tidak berpaling dari Allah dalam segala bentuk dan keadaan, dan lain-lain). Disamping itu, masih ada bentuk pelatihan meditasi lainnya yaitu : (4) tafakkur, dan (5) muraqabah.

Mereka yang memberanikan diri berpaling pada Cinta akan mendapat pahala tiada terhingga. Mereka akan tahu bahwa rumah sejati mereka bukan terletak pada waktu, tapi pada Keabadian. Mereka akan tahu, pada akhirnya, bahwa suara cinta yang “menyerbu dari segala sisi setiap saat” adalah suara jati diri terdalam mereka, dan bahwa mereka sedang mengawali perjalanan menuju diri mereka sendiri.;

“Mandolin mulai… Hatiku menyentak rantainya. Ada yang bernyanyi dari dawai— “Wahai gila terluka…ayo!” (Rumi)

“Ayo, kemarilah, siapa pun dirimu— Pengembara, ahli ibadah, pecinta perjalanan— Apa masalahnya? Punya kita bukanlah kafilah putus harapan. Kemarilah, sekalipun telah kau langgar sumpahmu ratusan kali— Kemari, datanglah kembali, kemari” (Rumi)

“Didera hasrat. Kususuri jalanan Kebaikan dan Kejahatan. Apa yang kudapat? Tak ada— Api hasrat malah kian berkobar. Sepanjang hidup terus bernafas dalam diriku. Tolong aku, Tuhan— Hanya Engkau Yang mendengar doaku.” (Syeikh Ansari)

“Dari akibat apa yang telah kulakukan. Dari bahaya masa depan. Tak kulihat jalan keluar. Tuhan, aku takut pada keburukan dalam diriku. Ajari aku bagaimana menyelamatkan diri dari bermacam perangkap diri. Raihlah tanganku— Tanpa belas kasih-Mu, aku tak punya apapun untuk berpaling.” (Syeikh Ansari)

“Oh, Tuhan! Kusia-siakan hidup. Melukai jiwaku. Kulakukan apa saja dengan kuasaku, memuaskan yang jahat. Aku terus hidup, atau tidak, tak jadi soal. Terimalah taubatku, ampuni dosaku. Bawa aku dari derita menuju bahagia.” (Syeikh Ansari)

“Mungkin sudah bertahun-tahun kau tinggal di kota besar. Tapi begitu kau jatuh tertidur, kota lain muncul di benakmu dengan segala baik dan buruknya. Dan kotamu— yang kau tinggali bertahun-tahun– hilang sepenuhnya dari ingatanmu. Kau tak mengatakan, “Aku orang asing di sini; ini bukan kotaku.” Kau merasa selalu tinggal di sana. Kau merasa lahir dan dibesarkan di sana. Lantas, apakah kau heran bahwa jiwamu tak ingat pada Rumah Asalnya? Bagaimana dia bisa ingat? Ia terbungkus dalam tidur di dunia ini. Bagai bintang diselimuti awan, dan ia telah menyusuri banyak kota, dan debu yang menggelapkan penglihatannya yang belum disapu bersih.” (Rumi)

“Pra-keabadian berasal dari Tuhan, “Ya” darimu. Dia menarik “Ya” itu darimu tanpa mulut tanpa bibir; Kala perintah, “Turun semuanya!” diberikan pada segenap jiwa, saat itu pula mereka berhamburan mencari raga. Tuhan mengirim jiwa dari surga demi menguak sebuah rahasia : Semua seruan “Ya” tidaklah sama. Ada yang teguh, beberapa di antaranya rapuh, sebagian benar, sebagian lagi salah; ada yang bijak dan cerdas, yang lainnya sekadar ikut arus. “Ya” yang bijaksana terpisah dari yang lainnya sejauh jarak antara Afganistan dan Turki. Ruh-ruh utusan Tuhan memasuki tubuh halus, tertawa-tawa, bagai air dituang dalam bejana. Kemudian, mereka tinggalkan kediaman halus itu dan memasuki raga maujud; Mengapa yang tak terkondisikan memasuki kondisi ini? Demi menyempurnakan diri, demi mematuhi perintah Tuhan “tanpa kehadiran-Nya”. Dan demi meraih kedamaian lebih mendalam setelah setiap sujud. Tetap rendah hati di dunia penuh tipu daya ini, hidup dengan rasa takut pada Tuhan. Beriman dalam “ketidakhadiran” dan mematuhi Tuhan di sini lebih bernilai daripada mematuhi Tuhan dalam kehadiran-Nya. Apakah seorang budak memberontak ketika Raja tiba dengan balatentara-Nya? Tidak, dia gemetar ketakutan dan segera bersujud pada-Nya. Bagaimana mungkin sikap merendahkan diri semacam itu ada artinya? Ketika Sang Raja hadir, kebebasan tidak ada. Dan ketaatan sepenuh hati tak ada harganya sama sekali. Justru pada saat “ketidakhadiran”lah sangat tepat untuk dengan segala dayamu, mengamalkan kepatuhan. Barulah amal religius bermakna. Karena kau hidup terombang-ambing antara takut dan harapan. Tapi dikepung segala kesulitan, tetap kau pikul kewajibanmu; Karena harapan penuh gairah yang mengilhamimu, kau tinggalkan yang jelas demi apa yang kau tunggu. Dan dengan segenap kuasamu, percayalah pada suatu janji. Kau tanggung ribuan derita dalam asa. Kau akan sampai pada Hari Kebangkitan dengan wajah suci. Kau jalani kehidupan yang pahit, maka akan kau nikmati kematian yang manis. Kau tinggalkan gemerlap dunia, demi cinta pada iman. Tahukah kau mengapa Tuhan lebih menghargai manusia daripada malaikat? Karena, walau dikerubuti teror, manusia lari kepada-Nya.” (Sultan Walad)[]

———- Referensi :

1] Perpustakaan Nasional RI, Data Katalog dalam Terbitan (KDT) : “Seribu Ilham Kearifan Sufi_Mutiara Hikmah Tokoh-tokoh Tasawuf”; Andrew Harvey dan Eryk Hanut; judul asli : “Perfume of the Desert”; diterjemahkan oleh : Noor Cholis, Hamid Basyaib; Jakarta : Alifia Books, 2018.

2] “Ziarah Ke Alam Barzakh”; Judul asli : Syarh ash-Shudūr bi Syarh Hāl al-Mawtā wa al-Qubūr; al-Imam Jalāluddin as-Suyūthi; diterjemahkan oleh : Muhammad Abdul Ghoffar; Bandung : Pustaka Hidayah, 2009.

3] “Ibnu Athaillah Tunjukkan Banyak Jalan Menuju Allah”; Alhafiz.K; dalam : Tasawuf/ Akhlak : Al-Hikam; pada laman online islam.nu.or.id; Ahad, 15 April 2018, 08.01 WIB.

4] “Mengenalkan Meditasi Sufistik Ke Dunia Pendidikan”; Salahuddin; Lentera Pendidikan, Vol. 20 No. 1 Juni 2017: 31-40.

5] “Al-Ghazali dan Mahasi Sayadaw (Kajian tentang Konsep Meditasi)”; Muhamad Taqiyudin, S.Th.I; Yogyakarta : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2009.

Source: Demi Maha Cinta

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...