Home / Relaksasi / Renungan / Membeli Istana dengan Memaafkan

Membeli Istana dengan Memaafkan

H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW) sedang berkumpul dengan para sahabatnya.

Ketika asyik ngobrol dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anhu (RA) yang ikut dalam riungan tersebut bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?”

Rasulullah SAW: “Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Subhânahâ wa Ta’âlâ”.

Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata: “Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat dzalim kepadaku”.

Allah Subhânahâ wa Ta’âlâ berfirman: “Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun ?”

Orang itu berkata lagi: “Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya”.

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis.

Lalu, Rasulullah SAW berkata: “Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya”.

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah SWT berkata kepada orang yang mengadu tadi: “Sekarang angkat kepalamu”.

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata:

“Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas dan perak bertahtakan intan berlian. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?”

“Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?”

“Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb ?”

Allah berfirman: “Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya”.

Orang itu berkata: “Siapakah yang mampu membayar harganya, ya Rabb?”

Allah berfirman: “Engkaupun mampu membayar harganya”.

Orang itu terheran-heran, sambil berkata: “Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb ?”

Allah berfirman: “Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kedzalimannya kepada-Ku”.

Orang itu berkata: “Ya Rabb, kini aku memaafkannya”.

Allah berfirman: “Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk ke surga bersamamu”.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah SAW: “Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin”.

***

Saudaraku dan sahabatku tercinta, berdasarkan kisah di atas bahwa amalan hati yang nilainya sangat tinggi di hadapan Allah adalah “meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan”.

Menjelang bulan Agung Ramadhan ini, mari kita saling meminta maaf, saling memberi maaf dan saling memaafkan. Semoga Allah SWT memberkati kita semua dan memberikan kesejahteraan kepada bangsa ini dengan kekuatan saling meminta dan memberi maaf di antara kita semua. Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

***

Kisah di atas tertulis di dalam Hadits Qudsiy yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.

 

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...