Home / Relaksasi / Renungan / Membaca Tanda Alam

Membaca Tanda Alam

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

“Pembacaan terhadap tanda alam melahirkan ilmu pengetahuan”.

Dalam Islam dikenal dua istilah; yakni tauhid ulûhiyyah dan tauhid rubûbiyyah. Tauhid ulûhiyyah lebih menekankan pada aspek penyembahan atau peribadatan kepada Allah. Sementara tauhid rubûbiyyah lebih menekankan pada aspek pengetahuan tentang Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam (Rabb al-‘âlamîn).

Dengan kata lain, tauhid ulûhiyyah menyentuh tataran metafisik, sementara tauhid rubûbiyyah menyentuh aspek fisik.

Wahyu pertama kepada Nabi disebutkan dengan kata “bismirabbik” (dengan nama Rabb -QS. Al-‘Alaq: 1), yang berkaitan dengan tauhid rubûbiyyah; bukan disebut “bismillâh” (dengan nama Ilah/Allah -QS. Al-Fatihah: 1), yang berkaitan dengan tauhid ulûhiyyah.

Ini berarti bahwa wahyu pertama lebih memberikan penekanan yang kuat kepada Nabi untuk membaca tanda alam (ayat kauniyyah) yang bersifat fisik atau kasat mata yang ada di sekitarnya. Ini bukan berarti ibadah hal yang tak penting.

Namun, ibadah lebih sering bersifat individual yang efeknya hanya bagi individu terkait. Sementara pembacaan terhadap alam efeknya tak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Pembacaan terhadap tanda alam melahirkan ilmu pengetahuan, terutama sains dan teknologi yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Ini sekaligus mempermudah manusia untuk beribadah kepada Allah. Dengan kata lain, kemajuan sains dan teknologi memfasilitasi manusia untuk lebih mudah, enak dan nyaman beribadah, serta dapat mengantarkan mereka pada kekhusyukan.

Tak dapat dipungkiri juga bahwa kemajuan sains dan teknologi sering malah melalaikan manusia dari ibadah kepada Allah, bahkan menjauhkan manusia dari-Nya. Membuat jiwanya kosong dan hampa yang berefek pada munculnya depresi, stres, sakit jiwa, disorientasi, dan seterusnya.

Karena itu, dalam hadits Nabi dikatakan bahwa orang berilmu pengetahuan yang notabene berawal dari aktivitas membaca tanda alam, lebih utama dibandingkan ahli ibadah tapi tak berilmu pengetahuan. Dalam hadits lain juga dikatakan bahwa orang berilmu (ulama) adalah ahli waris para nabi.

حَدَّثَنَا مَكْحُولٌ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { إِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ

Makhul berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Keutamaan seorang yang berilmu dari seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah diantara kalian‘. Kemudian beliau membaca surat Fathir ayat 28, “innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama” (bahwa yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah para ulama). Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan (selalu) bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia’.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْمُجْتَهِدِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ خَمْسُ مِائَةِ سَنَةٍ حُضْرُ الْفَرَسِ الْمُضَمَّرِ السَّرِيعِ

Muhammad bin ‘Ajlan dari Az Zuhri berkata, “Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan seorang mujtahid (ahli ibadah) sebanyak seratus derajat, dan setiap dua derajat (jaraknya seperti antara) lima ratus tahun yang ditempuh dengan menggunakan kuda yang larinya sangat cepat.”

Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi ilmu pengetahuan. Dalam hadits lain, Nabi juga mengatakan, perumpamaan orang berilmu dan ahli ibadah laksana bulan purnama dan bintang dalam hal kuat dan terangnya cahaya di mata subjek yang melihat di bumi.

Rasulullah SAW bersabda;

وَفَضْلُ اْلعَالِمِ عَلَى اْلعَابِدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِ عَلَى سَائِرِ اْلكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهَ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” [HR. Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi (2682)].

Melalui aktivitas membaca alam yang ditekankan dalam wahyu pertama, Allah sesungguhnya ingin memberikan landasan fundamental bagi kemajuan umat manusia pada masa depan.

Wallâhu a’lam.

Oleh: Fajar Kurnianto
Source: Republika.Co.Id

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...