Thursday , December 9 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Memahami Islam Agama Universal; Jangan Diragukan!

Memahami Islam Agama Universal; Jangan Diragukan!

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Islamphobia tidak mungkin terjadi bila konsep dibawah ini yang dilakukan“.

Islam adalah agama yang universal. Islam, menyampaikan pesan-pesannya tanpa membeda-bedakan kaum, suku, bangsa, zaman sekarang, ataupun zaman yang akan datang.

Oleh karena itu, sasaran dari pesan-pesannya adalah seluruh umat manusia. Universalitas ini ditunjukkan dengan seruan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad datang. Ketika mereka berseru; “Kaumku, kaumku”, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berseru; “Wahai umat manusia..”.

Hal ini juga didukung dengan ayat;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya [21]: 107)

dan hadits;

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“… Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” (HR. Imam Bukhari). Hadits ini ibarat setetes air dari samudera yang luas.

Ketika Islam sedang menyampaikan universalitasnya, ia tidak muncul dengan klaim seperti “Saya adalah agama dan sistem yang universal.” Barangkali daripada sibuk dengan klaim seperti itu, Islam lebih banyak membuktikan universalitasnya lewat beragam dinamika, baik secara materi maupun maknawi.

Jadi, demikian baiknya Islam menyampaikan pesan dan dinamika-dinamikanya ke dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun kehidupan masyarakat kita, pesan-pesannya sesuai dengan tabiat manusia sehingga hal tersebut menambah universalitas Islam itu sendiri.

Dalam mencapai tujuannya, Islam pertama-tama menangani manusia dengan segala sisi positif dan negatifnya. Seperti sisi perasaan, keinginan, syahwat, rasa benci, dengki, marah, cinta, serta sifat-sifat lainnya. Tentu semua pesan-pesan Islam tidak pernah bertentangan dengan sifat dan fitrah yang sudah ada.

Dari sini, apapun hal legal yang dicari oleh manusia akan bisa ditemukan di dalam Islam. Misalnya, ketika seseorang ingin menjadi insan kamil, mereka cukup merujuk caranya di dalam Islam tanpa perlu mengambil referensi dari Brahmanisme, Mistisme, ataupun Buddhisme. Ketika seseorang memiliki masalah yang muncul entah dari segi kerukunan dalam keluarga, hubungan dengan saudara-saudaranya, ia cukup mengikuti kaidah-kaidah yang ada di dalam Islam. Ketika ada permasalahan di sektor ekonomi yang tidak ada solusinya, maka ijtihad para salaf saleh yang sangat baik memahami Al-Qur’an dan Sunah bisa menjadi solusi untuk setiap permasalahan.

Ya, Islam adalah solusi bagi setiap permasalahan; tidak hanya tentang tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, tauhid ubudiyah, tetapi juga solusi sempurna untuk permasalahan keluarga dan hubungan sosial dengan sesama sehingga kita tidak membutuhkan hal lain lagi di luar Islam.

Lagi pula, sudah jelas meskipun agama ini lahir di Jazirah Arab, ia kemudian juga menyebar dan diterima dalam waktu singkat hingga ke Bukhara (Uzbekistan), Sindabad dan India, China, Yunani, India, Afrika hingga ke tanah Bizantium. Hal ini pasti terjadi karena universalitas pesan-pesan yang dimiliki agama ini.

Coba pikirkan, Islam masuk ke berbagai negara yang merupakan tanah air dari ratusan teori dan pemikiran tidak dengan hunusan pedang, melainkan melalui suara dan nafas yang dihembuskan oleh para mursyidnya. Seperti atom uranium yang gesit dan aktif bergerak, Bangsa Turki yang mengemban misi untuk memimpin takdir umat manusia dalam sejarah menjadi lebih tenang dan tentram dalam naungan Islam.

Begitu pula dengan bangsa lain yang tadinya menyerahkan hidup kepada nirwana dan bersembunyi di dalam tempurung kematian bahkan sebelum mereka tutup usia akhirnya mengetahui hakikat penciptaan melalui Islam.

Artinya, jika dua fitrah yang berbeda satu sama lain ini bisa bersatu di dalam Islam, maka pastilah ini bersumber dari universalitas Islam itu sendiri.

Dunia barat yang menyadari keistimewaan ini dengan keras kepalanya mencoba menghalangi perkembangan Islam dengan segala kekuatan sejak berabad-abad lamanya. Persis seperti saat ini.

Sebenarnya, ketika Eropa mengalami zaman kegelapan pada Abad Pertengahan, Islam di Tanah Asia sedang mengalami renaisans. Dan seperti yang dikemukakan oleh para pemikir kita, andai saja saat itu gereja tidak terlalu mendominasi serta tidak berlindung di dalam kemegahan zaman sejarah kuno atau klasik (Yunani Kuno) dalam menghadapi perkembangan Islam, barangkali dunia tidak akan mengalami kegelapan seperti saat ini.

Akan tetapi, hal itu pun berlalu. Mereka telah memilih untuk berlindung di dalam pemahaman serta pemikiran yang dikembangkan oleh para penyembah berhala dan sayangnya fanatisme itu masih berlanjut hingga saat ini.

Ya, kita harus mencari kaidah dan aturan apa yang dibawa oleh universalitas Islam untuk umat manusia. Apa yang ia janjikan untuk perempuan, laki-laki, dan anak-anak? Apa sistem yang ditawarkan untuk menghadapi pergolakan ekonomi dan sosial? Apa solusi yang dibawanya untuk mengatasi masalah-masalah umat manusia? Apa yang disampaikannya dalam menghadapi fenomena amoral yang ada di masyarakat saat ini? Saran apa yang dikemukakan dalam rangka menjaga keseimbangan sebuah negara?

Dan seperti itulah, ketika kalian meneliti itu semua maka kalian akan melihat identitas Islam yang universal. Semua akan menyaksikan bahwa akan ada solusi di setiap permasalahan yang dihadapi dan mereka akan mengatakan bahwa Islam betul-betul merupakan agama yang universal.

Ada satu hal yang tidak bisa saya lewatkan dalam pembahasan ini, yaitu salah ketika mengatakan bahwasanya universalitas Islam hanya mengambil dasar dari Al-Qur’an. Menurut saya, selain ayat-ayat Al-Qur’an, akan lebih tepat jika kita juga mencari universalitas Islam di dalam Sunah Nabi, ijtihad Khulafaur Rasyidin, dan  pendapat para salaf saleh serta menggunakannya sebagai kaidah secara bersama-sama.

Alhasil, sejak dahulu kita selalu percaya pada kesempurnaan Islam. Ya, dalam kesempurnaannya, meskipun kita dihadapkan dengan banyaknya pandangan “isme” yang ada sekarang, kita tidak pernah ragu akan hal ini.

Sebaliknya, kita yakin bahwasanya pandangan “isme” lainnya tidaklah setara untuk dibandingkan dengan Islam. Bahkan kita sepenuhnya yakin bahwa orang-orang yang tertindas di bawah trek komunisme pun suatu hari akan bangkit dengan hakikat ini. Asalkan kita diberikan kesempatan untuk menyampaikan dan merepresentasikan Islam dengan baik.

Kita tidak pernah khawatir dengan apapun. Karena kita tahu, menerima, dan percaya bahwa Islam itu universal dengan dinamika dan pesan-pesan yang dibawanya dalam setiap bidang kehidupan mulai dari kehidupan individu, ekonomi, industri, keluarga, militer, dan bernegara.

Bukankah fakta bahwa Islam dengan prinsip-prinsipnya yang senantiasa segar tetap bertahan dalam 14 abad terakhir meskipun diterpa kekejaman musuh-musuhnya dan ketidaksetiaan sahabat-sahabatnya sudah cukup menjadi bukti nyata?

Oleh: Fethullah Gullen

 

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...