Home / Agama / Kajian / Mbah Shaleh Darat, Tafsir Sufistik Surat Al-Fatihah (7)
Ilustrasi Manuskrip

Mbah Shaleh Darat, Tafsir Sufistik Surat Al-Fatihah (7)

“‘Aqabah Tujuh: Tujuh Hambatan atau Rintangan Seseorang untuk Mencapai Derajat Tinggi di Sisi Allah.”

Oleh: Farhanah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Tafsiran Mbah Shaleh Darat terhadap ayat:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ۞

Khususunya  dalam  lafadz الصِّرَاطَ Shaleh Darat menerangkan tentang ‘aqabah. Berikut penafsirannya:

“Moko anapun ṣirãṭ engkang sangking kulo marang pengeran iku moko angel dedalane lan akeh begalane lan akeh ‘aqabahe lan iyo iku ‘aqabah pitu lan longko wong kang ngambah.”[1]Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani, Faiḍ ar-Raḥmãn Fî Tarjamãt Tafsîr Kalãm al-Malik ad-Dayyãn, Jilid I, h. 20.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

“Adapun yang dinamakan ṣirãṭ yang dari hamba kepada Tuhan itu sulit jalannya, banyak hal-hal yang mencegah (cobaannya), dan banyak ‘aqabah-nya (rintangan), yaitu ‘aqabah tujuh dan orang jarang yang melakukannya.”

Mengenai penafsiran diatas, penulis akan menjelaskan tentang ‘aqabah (rintangan) tujuh yang telah disebutkan Shaleh Darat. Berikut adalah ‘aqabah tujuh tersebut:

a. ‘Aqabah al-Ilmu: rintangan untuk mencari ilmu

Tuntutan untuk mencari ilmu: ilmu tauhid, ilmu fikih, ilmu akhlak. Dalam ilmu tauhid itu mengajarkan bagaimana untuk mengesakan Allah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir, dan qadha baik ketentuan yang baik maupun yang buruk. Tanpa ilmu tauhid seseorang tidak pernah mencapai keimanan yang hakiki.

Langkah selanjutnya seorang hamba harus mengetahui ilmu fikih. Dalam ilmu fikih yang diwajibkan bagi hambanya, ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, seperti halnya wajib mengetahui tata cara bersuci, berpuasa, tata cara shalat dan transaksi jual beli bagi yang bersangkutan.

Sedang dalam kewajiban mempelajari ilmu akhlak, adalah bagaimana untuk memurnikan ibadah kepada Allah agar terhindar dari sikap dan lain sebagainya yang dapat merusak nilai ibadah.[2]Muḥammad al-Ghazãlî al-Ṭûsî, Minhãj al-Ãbidîn, (Surabaya: Nur al-Huda, tt.h), h. 7-8.

b. ‘Aqabah at-Taubah/‘Aqabah aṣ-Ṣu’bah

Rintangan bagi hamba Allah yang akan mendatangkan penyesalan di hari kemudian, yaitu taubat. Karena beratnya suatu dosa itu akan menghambat untuk menuju pada kebaikan, dan menjaga untuk bangkit menuju ta’at. Apabila seseorang berbuat dosa terus menerus, maka hatinya akan gelap, padat, tidak ada keikhlasan, kejernian dan manisnya suatu ibadah.

Adapun taubat dan syarat-syarat taubat ada empat bagian, yaitu, 1) Berikhtiar untuk meninggalkan dosa, yaitu hatinya harus mantap untuk membersihkan angan-anganya untuk tidak kembali pada perbuatan dosa. 2) Bertaubat dari dosa sebelumnya yang telah dikerjakan. 3) Dosa yang telah berlalu yaitu sama dalam ikhtiarnya di dalam meninggalkan dosa di dalam derajat bukan di dalam bentuk. Gambaran dari bentuk ini atau ṣurah, yaitu orang yang sudah rentan, ia di masa lalu sering melakukan zina, akan tetapi di waktu sudah rentan ia tidak mampu untuk berjalan menuju zina. Ketidakmampuan tersebut tidak dikatakan taubat, karena ia di dalam hati punya keinginan untuk zina, akan tetapi ia tidak mampu untuk menuju zina. 4) ikhtiarnya itu dalam meninggalkan dosa atau ma’siat, hanya semata-mata mengagungkan Allah dan khawatir dari murka-Nya, siksa-Nya bukan karena takut pada manusia dan cenderung padanya.[3]Ibid., h. 9-10.

c. ‘Aqabah al-‘Awãiq

‘Aqabah al-‘Awãiq adalah tahapan godaan (penghalang) yang harus dilalui seorang hamba menuju puncak kedekatan kepada Allah, yaitu dunia, makhluk, syetan dan nafsu. Empat hal ini biasanya menjadi penghalang utama dalam melaksanakan ibadah.

  • Rintangan dunia

Rintangan seorang hamba untuk menuju Allah adalah dunia. Bagaimana untuk membersihkan diri dari dunia atau zuhud[4]Menurut Ahmad bin Hanbal yang dikutip oleh al-Qusyairi, zuhud terbagi menjadi tiga, Pertama, meninggalkan hal yang haram. Ini zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal. Ini zuhud … Continue reading pada dunia, hal tersebut setidaknya ada dua hal yang harus ditempuh.  Pertama, zuhud agar suatu ibadah istiqamah dan memperbanyak ibadah. Karena senang pada dunia itu akan mempersempit ruang dalam beribadah. Yang kedua memperbanyak nilai-nilai ibadah, seperti hadis Nabi, “shalat dua raka’atnya orang yang zãhid[5]Zãhid adalah bentuk fa’il dari masdar zuhud yang bermakna meninggalkan kesenangan itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada ibadahnya orang yang ahli ibadah selama-lamanya.”[6]Muḥammad al-Ghazãlî al-Ṭûsî, Minhãj al-Ãbidîn (Surabaya: Nur al-Huda, tt.h), h. 13.

  • Makhluk

Rintang seorang hamba kepada Allah salah satunya adalah makhluk. Hal ini bertujuan bagaimana untuk menghindari makhluk, agar tidak terganggu dalam beribadah dan fokus di dalam melaksanakan suatu ibadah. Di dalam rintangan seorang hamba ini yang berupa makhluk, kenapa ia harus menghindari makhluk yang disebut sebagai rintangan menuju Tuhan, hal ini karena dua hal, yang pertama, karena makhluk akan mengganggu didalam pelaksanaan ibadah. Yang kedua, manusia atau makhluk akan merusak nilai ibadah yang telah dikerjakan, atau yang dikenal istilah riya’[7]Riya’ berasal dari kata ru’yah (melihat). Definisi riya’ adalah keinginan hamba akan kedudukan di kalbu manusia dengan menaati Allah. Maka orang yang berbuat riya’ itu adalah orang yang … Continue reading. Memisahkan diri dari makhluk untuk beribadah, karena terlalu sering kumpul dengan makhluk akan membuat lupa diri untuk beribadah, disisi lain beribadah bersama-sama dengan makhluk (berkumpul) akan memunculkan riya’.[8]Muḥammad al-Ghazãlî al-Ṭûsî, Minhãj al-Ãbidîn (Surabaya: Nûr al-Hudã, tt.h), h.15.

  • Syetan

Rintangan yang tidak tampak dimata yaitu berupa syetan. Suatu hal yang harus selalu memerangi syetan karena dua hal, yang pertama, karena sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata dan menyesatkan, tidak akan membawamu dalam ketaatan. Yang kedua, sesungguhnya syetan adalah musuh, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Ia setiap hari selalu mengganggumu dan meracunimu baik diwaktu siang maupun malam, sedangkan kamu adalah dalam keadaan lupa.[9]Ibid., h. 21.

  • Nafsu

Rintangan yang terakhir yaitu nafsu. Nafsu ini sering menyuruh pada kejelekan, bahkan sesungguhnya nafsu adalah paling bahanya musuh, ujiannya dan paling beratnya cobaan. Karena nafsu ini adalah rintangan terbesar dan tersulit, maka hal ini untuk mengarungi nafsu dari kejelekan. Cara untuk mencegah nafsu dari kejelekan minimal dua hal yang harus dipenuhi, yang pertama yaitu takwa[10]Menurut Naṣr Abażi yang dikutip al-Qusyairî, Takwa adalah seorang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah. Kemudian menurut Ibnu Atha’, takwa terbagi menjadi dua, yakni … Continue reading, yang kedua adalah wara’.[11]Muḥammad al-Ghazãlî al-Ṭûsî, Minhãj al-Ãbidîn, h. 24-25. Menurut Ibrãhîm bin Adham yang dikutip oleh al-Qusyairi, wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat dan yang tidak pasti, … Continue reading

d. ‘Aqabah al-‘Awãriḍ[12]‘Awãriḍ adalah kendala-kendala di jalan ibadah.

‘Aqabah al-‘Awãriḍ adalah hal-hal yang membuat ibadah seseorang cacat dihadapan Allah, seperti sombong dan riya’. Serta hal-hal yang bersifat dinamis, seperti dzikir.

Untuk melintasi ‘awãriḍ ini selalu beristiqamah di dalam mengerjakan ibadah, agar tidak sibuk untuk mencapai maksud atau tujuan ibadah kepada Allah. Adapun faktor yang bisa mendorong adanya ‘awãriḍ, salah satunya yaitu rizki dan tuntutan jiwa atau pencarian pada rizki. Dengan adanya ‘awãriḍ tersebut, untuk menutupinya, hanya bisa ditempuh dengan tawakal pada Allah dan semua kebutuhan, itu karena dua faktor, yang pertama, untuk pengkosongan jiwa hanya digunakan untuk beribadah, mengerjakan amal-amal kebajikan, yang kedua, tujuan tawakal adalah untuk meninggalkan keterlintasan hati dan tujuan-tujuan yang banyak.[13]Muḥammad al-Ghazãlî al-Ṭûsî, Minhãj al-Ãbidîn, h. 46-47.

e. ‘Aqabah al-Bawãiṡ[14]Ibid., h. 62-71.

‘Aqabah al-Bawãiṡ yaitu menjelaskan tentang harapan untuk  mendapatkan karunia dan pertolongan yang dijanjikan oleh Allah bagi hambanya, atau yang lebih dikenal dengan raja’ dan rasa takut yang menggerakkan seorang hamba untuk menjauhi larangan Allah atau yang lebih dikenal dengan khauf.

Untuk selanjutnya, kita harus terus berjalan pada jalan yang lurus. Sebab, sudah tidak ada lagi halangan dan rintangan. Selanjutnya, kita resapi rasa takut dan harapan itu dengan sebenar-benarnya, sesuai dengan batas- batasnya.

Rasa takut wajib selalu dipegang karena dua sebab:

Pertama, mencegah perbuatan maksiat. Sebab, hawa nafsu senantiasa memerintahkan untuk berbuat jahat dan selalu menggoda. Tidak henti-hentinya berbuat demikian, kecuali dibuat takut dan diancam. Nafsu tidak mempunyai tabiat baik, ia tidak malu berbuat apa saja yang bertentangan dengan kesetiaan dan kecintaan.

Sebagaimana dikatakan seorang penyair:

“Hamba yang bandel (hawa nafsu) dipukul dengan tongkat, tetapi orang baik cukup menggunakan kata-kata. Nafsu harus dilecut dengan cambuk takhwîf (yang membuat ia takut), baik dengan ucapan, perbuatan dan pikiran.”

Kedua, agar tidak dihinggapi sifat ujub (sombong), dengan ketaatan yang dapat dikerjakan. Sebab, jika sampai bersifat ujub maka akan celaka. Dan untuk menghindari nafsu, diperlukan celaan diabaikan, diterangkan segala kekurangan, serta keburukan-keburukan dirinya, dosa-dosa dan macam-macam bahayanya.

Selanjutnya kita diharuskan untuk mengharap raja’, dikarenakan dua sebab:

  1. Guna membangkitkan keinginan taat, karena mengerjakan kebaikan itu berat dan setan selalu mencegahnya. Demikian pula hawa nafsu, senantiasa mendorong kepada perbuatan jahat. Sedangkan pahala karena taat tidak tertangkap oleh mata dan jalan guna memperoleh pahala masih jauh.
  2. Agar tidak merasakan kepayahan dan kesusahan dalam menanggung penderitaan, serta kelelahan dalam beribadah. Barang siapa telah mengetahui kebaikan sesuatu yang menjadi tujuan, maka dalam memperjuangkannya akan terasa ringan. Selain itu sanggup menangung kepayahan dalam mencapainya, serta tidak peduli adanya rintangan.

Barang siapa menyukai sesuatu, harus rela dan sanggup menanggung kepayahan, dan berkeyakinan bahwa dengan kesulitan dan kesusahan itu akan mendapatkan kelezatan dan kenikmatan.

Demikian pula orang-orang yang beribadah dengan sungguh- sungguh. Ketika mengingat pahala dan balasan Allah berupa surga dengan segala kelezatan dan kenikmatannya, maka mereka merasa ringan dalam beribadah. Meskipun harus menanggung kepayahan dan kelelahan serta mengurangi kenikmatan dunia

Kesimpulan: urusan ibadah berkisar pada dua hal. Pertama taat, dan kedua menjauhi maksiat. Keduanya tidak akan berjalan lancar selama nafsu masih melekat. Dan untuk mengatasinya adalah dengan targhib dan tarhib, yakni penuh harapan dan takut.

Raja’ dan khauf menurut ulama sufi, berarti kembali kepada bagian ukhrawi. Yakni hal-hal yang belum diketahui dengan pasti.

Khauf adalah suatu getaran dalam hati, ketika mengagungkan dan kagum kepada Allah. Takut kepada Allah artinya takut akan siksa-Nya akibat berbuatan maksiat. Menghindarinya yaitu menjauhi maksiat.

Sedangkan raja’ (mengharap) ialah bersenang hati karena mengenal Tuhan, dari lapang pikirannya karena yakin akan lapangnya rahmat Allah.

Al-Qusyairi mengatakan raja’ adalah tempat bergantung hati terhadap apa yang disukai, dan akan berhasil pada waktu kemudian. Denga raja’, hati menjadi hidup, lain halnya dengan tamanni (melamun). Tamanni menimbulkan sifat malas.

Tanda-tanda raja’ ialah banyak membaca ayat-ayat al-Qur’an, rajin menegerjakan shalat wajib dan tahajud. Serta rela membelanjakan hartanya untuk kepentingan umum yang diridhoi Allah, dan banyak berdo’a kepada Allah SWT. Selain itu, merasa lapang hatinya ketika mengingat Allah, bertemu dengan ulama, dan hilang rasa bingungnya ketika berdampingan dengan para ahli kebijakan, serta suka tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan takwa. Jika seseorang demikian, maka ia dapat memiliki khaûf dan raja’ sedalam-dalamnya.

f. ‘Aqabah al-Qawãdih

Aqabah qawãdih artinya menghindari faktor-faktor perusak ibadah.

Selanjutnya, setelah ibadah kuat dan lurus, wajib membedakan mana yang lebih baik, dan mana yang kurang baik, serta memelihara segala  sesuatu yang sekiranya dapat merusak dan merugikan ibadah kita.

Wajibnya membedakan mana yang lebih baik, dan mana yang kurang baik, itu disebabkan jika kita ikhlas dan senantiasa mengingat karunia Allah akan mendatangkan manfaat yang sangat besar, yakni segala amalan kita akan diterima disisi-Nya, serta mendapat pahala dari amalan itu.[15]Ibid., h. 71. Jika tidak demikian, maka segala amalan kita tidak akan diterima dan hilanglah segala pahala.

Ikhlas menurut para ulama’ ada dua macam:

  • Ikhlas dalam beramal;
  • Ikhlas dalam memohon pahala kepada Allah.[16]Ibid., h. 72.

Ikhlas beramal adalah niat taqarrub kepada Allah, dan niat menanggungkan perintah-Nya, serta niat melaksanakan perintah Allah. Yang mendorong semua itu adalah ijtihad dengan bersungguh-sungguh. Lawan ikhlas adalah munafik, yaitu taqarrub selain kepada Allah. Sedangkan ikhlas dalam memohon pahala adalah bermaksud mencari kemanfaatan akhirat dengan amal baik.

Orang-orang hawariyyun (murid-murid Nabi Isa), pernah bertanya kepada Nabi Isa AS. “Bagaimana yang dimaksud dengan amal-amal yang ikhlas? Jawab Nabi Isa AS, “yaitu amal yang diserta lillãhi ta’ãlã, tanpa menginginkan pujian orang lain.[17]Ibid., h. 73.

Dalam hal ini, beliau memberikan didikan kepada anak didiknya agar meninggalkan sifat riya. Mengapa Nabi Isa mengkhususkan untuk meninggalkan riya? sebab, riya merupakan perusak yang paling kuat, merusak ikhlasnya beribadah. Berkata Imam Fuda’il bin Iyadh, “Ikhlas itu membiasakan diri untuk muraqabah kepada Allah SWT, serta melupakan segala kepentingan pribadi.[18]Ibid., h. 73.

g. ‘Aqabah al-Ḥamdi wa asy-Syukri

‘Aqabah bersyukur kepada Allah. Kita wajib bersyukur kepada Allah karena dua sebab:

  • Agar kekal kenikmatan yang sangat besar itu, sebab jika tidak disyukuri akan hilang.
  • Agar nikmat yang telah kita dapat bertambah.[19]Ibid., h. 83.

Dawam-nya atau kekalnya nikmat karena syukur itu sebagai pengikat nikmat. Dengan bersyukur kenikmatan akan kekal dan tetap menjadi milik kita. Sebaliknya, apabila tidak disyukuri nikmat tersebut akan hilang dan berpindah tempat. Disamping itu, bersyukur menjadikan kenikmatan bertambah, karena bersyukur itu merupakan pengikat nikmat yang diberikan Allah.[20]Ibid., h. 83-84. Allah berfirman QS. Ibrãhîm [14]: 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۞

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kenikmatan Allah ada dua macam:

  • Nikmat dunia
  • Nikmat akhirat (agama)

Dan kenikmatan dunia dibagi menjadi menjadi dua pula:

  • Nikmat ma’rifat
  • Nikmat menolak madharat

Dari kenikmatan itu Allah mendatangkan manfaat-manfaat, yakni ada dua macam:

  • Fisik yang sempurna: wajah yang cakap, postur yang tegap.
  • Bermacam-macam, seperti makanan, pakaian dan sebagainya.

Adapun nikmat menolak maḍarat yaitu Allah menjauhkan mafsadah-mafsadah (kerusakan-kerusakan) dan berbagai maḍarat. Inipun ada dua macam:

  • Allah menyelamatkan dan menjauhkan madharat yang ada pada diri kita.
  • Allah menjauhkan kita dari bermacam-macam halangan yang datang dari manusia, jin dan binatang.

Kenikmatan akhirat (agama) juga terbagi menjadi dua:

  • Mendapat taufik Allah.
  • Mendapat pemeliharaan Allah.

Kenikmatan taufik maksudnya, Allah memberikan taufik kepada kita. Semula Allah mentakdirkan kita menjadi seorang muslim, kemudian Allah melimpahkan taufiknya, sehingga kita menjadi ahli sunnah wa al-jama’ah. Selanjutnya Allah melimpahkan taufik yang menjadikan kita taat.[21]Ibid., h. 84.

Adapun pemeliharaan Allah adalah kita dipelihara dari sifat kufur, musyrik, bid’ah serta dijauhkan dari kesesatan dan maksiat. Sesungguhnya kekalnya segala kenikmatan itu adalah setelah Allah mengaruniakan kenikmatan kepada kita. Kemudian Allah menambahkan kenikmatan yang kita tak pernah menduga datangnya. Semua itu lantaran kita senantiasa mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan.[22]Ibid., h. 84.

Setelah menelah secara mendalam, para ulama membedakan syukur dan puji. Kesimpulannya adalah: Puji dapat berwujud tasbih dan tahlil. Jadi merupakan amal ibadah lahir. Sedangkan yang termasuk bersyukur adalah sabar dan tafwîḍ (memasrahkan diri), dengan demikian bersyukur termasuk ibadah batin. Karena bersyukur adalah penangkal kufur.[23]Ibid., h. 84. Dengan demikian, tetaplah bahwa puji dan syukur mempunyai makna yang berbeda.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

Catatan Kaki[+]

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...