Home / Agama / Kajian / Maraknya Dosa yang Melebihi Zina Saat Ini

Maraknya Dosa yang Melebihi Zina Saat Ini

“Perlakuan dosa besar namun dinikmati sebagai jalan mendapat kebahagiaan, lha koq bisa?”

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dirahmati Allah, artikel ini adalah pengingat kita bahwa dewasa ini saling menggunjing dan mengintip kesalahan orang lain sudah menjadi santapan kita sehari-hari bahkan sebagian dari kita menikmatinya karena disajikan seasyik mungkin dalam medsos yang menarik.

Apalagi menjelang Pemilu, saling mengintip kesalahan orang lain sepertinya sudah menjadi suatu keharusan. Apakah kita menyadari bahwa hal itu lebih berdosa ketimbang zina? Apakah kita juga akan ikut larut dalam gelimang dosa seperti ini?

Dalam sebuah majelisnya, Rasulullah SAW bersama Abu Dzar RA pernah memberi nasehat sebagai berikut: “Wahai Abu Dzar, hindarilah perbuatan ghibah (menggunjing), karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”, tanya Abu Dzar RA.

“Ghibah itu menyebut-nyebut saudaramu dengan kalimat yang tidak disukai”, jawab Rasulullah SAW

“Ya Rasulullah, walaupun sesuatu itu memang ada pada dirinya?”, tanya Abu Dzar kembali.

“Ya, apabila kau sebut-sebut ‘aibnya, maka kau telah menggunjingnya, namun bila kau sebut ‘aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memfitnahnya”, jawab Rasulullah SAW.

Ghibah atau menceritakan ‘aib orang lain zaman sekarang bukan dianggap salah bahkan sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. Media memberikan dukungan sepenuhnya. Lihatlah siaran TV, acara pergunjingan mendapat respon yang bagus dari masyarakat.

Itulah sebabnya, kenapa acara-acara yang membongkar kesalahan orang lain tetap eksis dan semakin lama acara sejenis semakin beragam. Mulai dari masyarakat kecil di warung kopi sampai dengan tingkat elit politik, mereka menjadikan pergunjingan menjadi suatu hal yang biasa, menjadi sarapan pagi yang apabila ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan kita, betapa buruk dan besarnya dosa dari menggunjing sehingga dosanya lebih besar dari berbuat zina. Ketika ‘Aisyah menyampaikan perihal Sya’iyyah kepada Nabi SAW, bahwa Sya’iyah itu orang yang pendek, begini dan begitu, Nabi SAW menjawab, “Wahai Aisyah kau telah mengucapkan kata-kata apabila dicampurkan air laut maka kata itu akan mengubahnya”.

Muhammad Yusuf Al-Qardawi meriwayatkan sebuah kisah yang terjadi pada diri Khalifah Umar bin Khatthab, RA.

Pada suatu malam, ketika Umar sedang berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud memeriksa keadaan di sekeliling kota Madinah, tiba-tiba matanya melihat cahaya yang menerangi sebuah rumah. Lalu Umar menguntit cahaya itu sehingga ia masuk ke dalam rumah penghuninya. Astaghfirullah, ternyata di dalam rumah itu ada seorang wanita tua yang sedang minum arak sambil menari-nari dengan budak perempuannya. Umar masuk dan menghardik perempuan tua itu,

Wahai fulanah, tidak pernah kusaksikan sebuah pemandangan yang lebih buruk dari ini, anda seorang yang sudah tua bangka, sudah lanjut usia, tapi masih saja meminum arak sambil menari-nari”.

Tuan rumah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau sampaikan adalah lebih buruk dari apa yang kau saksikan, engkau telah memata-matai pribadi orang, padahal Allah telah melarangnya dan engkau telah masuk rumahku tanpa seizinku”.

Umar membenarkannya. Lalu ia keluar dari rumah itu dengan amat menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Beliau berkata, “Sungguh telah celakalah ‘Umar apabila Allah tidak mengampuninya”.

Orangtua itu merasa malu kepada ‘Umar karena kepergok melakukan dosa. Ia khawatir akan dihukum, atau paling tidak, akan mengumumkan di depan umum. Karena peristiwa itu, ia tak pernah lagi hadir dalam majelis ‘Umar untuk waktu yang lama. Ia menduga ‘Umar termasuk orang yang suka ber-ghibah?

Suatu hari, dia datang ke majelis ‘Umar secara sembunyi-sembunyi. Dia hanya duduk di bagian paling belakang sambil menundukkan kepala agar sang Khalifah tidak melihatnya. Tiba-tiba ‘Umar memanggilnya dengan suara yang agak keras, “Wahai fulanah mari duduk di sampingku”.

Orangtua itu merasa gemetar, dia berpikir pasti akan dipermalukan di depan umum. Dia tidak bisa menolak sebagaimana juga dia tidak akan mungkin bisa lari. Dengan wajah pucat, dia pasrah menghampiri ‘Umar sambil menunduk menyembunyikan wajahnya. ‘Umar memaksanya duduk persis di sampingnya. Kemudian berbisik,

Wahai fulanah, demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, tidak akan aku beritahu seorang pun tentang apa yang aku lihat di dalam rumahmu, meskipun kepada Abdullah bin Mas’ud yang kala itu ikut ronda bersamaku”.

Kemudian orangtua ini pun menjawab sambil berbisik, “Wahai Amirul Mukminin, demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, sejak saat itu sampai sekarang aku telah tinggalkan pekerjaan-pekerjaan munkarku itu”.

Tiba-tiba ‘Umar ber-Takbir agak keras tanpa bisa dipahami maksudnya oleh hadirin yang ada di sekelilingnya. Betapa mulia, bijaksana dan luar biasa pribadi seorang pemimpin seperti ‘Umar dan sangat sulit menemukan orang seperti itu di zaman sekarang.

Tentang Ghibah, Guru saya pernah memberi nasehat, “Jangan kau menjelek-jelekkan (menceritakan keburukan) orang lain, belum tentu dirimu lebih baik darinya”. Apabila kita menutupi ‘aib saudara kita, maka Allah akan menutupi ‘aib kita, dan apabila kita membuka ‘aib saudara kita, maka Allah juga akan membuka ‘aib kita.

Karena kita bukan manusia sempurna, tentu kepribadian kita juga tidak sempurna. Di tengah ketidaksempurnaan itu, hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat kita juga akan melakukan suatu kesalahan yang apabila kesalahan atau aib kita itu diceritakan oleh orang lain akan membuat hati kita terluka. Karenanya, jangan pernah membuka keburukan orang lain yang akan membuat hatinya terluka.

Mari kita memulai hidup baru, yakni sebuah pola hidup yang lebih banyak melihat kesalahan-kesalahan yang ada pada diri sendiri. Dengan begitu, kita tidak akan sempat melihat kesalahan-kesalahan orang lain, apalagi mencari-carinya atau mengada-adakannya. Pola hidup baru seperti itu akan membuat hati kita menjadi lebih tenteram dan damai.

Marilah sama-sama kita berdoa sebagai penutup tulisan ini:

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ التَّوْبَةَ وَدَوَامَهَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا، وَذَكِّرْنَا بِالخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُوْمِ خَطَرَاتِهَا، وَاحْمِلْهُ عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنَ التَّفَكُّرِ فِي طَرَائِقِهَا، وَامْحُ مِنْ قُلُوْبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَبَيْنَاهُ مِنْهَا، وَاسْتَبْدِلْهَا بِالْكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا .

Allãhumma innã nas’alukat taubata wa dawãmahã, wa na‘ûdzu bika minal ma‘shiyati wa asbãbihã, wa dzakkirnã bil-khaufi minka qabla hujûmi khatharãtihã, wahmil-hu alãn najãti minhã wa minat tafakkuri fî tharã’iqihã, wamhu min qulûbinã halãwata majtabainãhu minhã, wastabdil-hã bil-karãhati lahã wath-thama‘i limã huwa bi dhiddihã

“Ya Allah, kepada-Mu kami meminta pertobatan beserta kelanggengannya. Kepada-Mu, kami berlindung dari maksiat dan sebab-sebabnya. Ingatkanlah kami agar selalu takut kepada-Mu sebelum muncul dorongan untuk berbuat maksiat. Bawalah rasa ketakutan itu untuk menyelamatkan kami dari maksiat dan dari pikiran yang mendorong untuk berada di jalan maksiat. Hapuskanlah kelezatan maksiat yang kami pilih dari hati kami. Gantikanlah kenikmatan itu dengan rasa tidak suka terhadap jalan menuju maksiat dan kepuasan terhadap segala sesuatu yang berlawanan dengan maksiat”.

Ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb.

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...