Home / Agama / Kajian / Makna Sufistik Nabi Musa Membelah Laut

Makna Sufistik Nabi Musa Membelah Laut

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Was-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Nabi Musa AS merupakan salah satu utusan Allah SWT yang hidup di Mesir pada zaman kekejaman raja Firaun. Salah satu mukjizat dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Musa AS ialah kemampuannya membelah lautan. Sehingga dengan mukjizat ini beliau dan para pengikutnya dapat menghindari kejaran pasukan Firaun.

Kesabaran serta keteguhan hati Nabi Musa AS dalam menghadapi raja zalim ini menjadikan beliau termasuk Nabi dan Rasul Ulul Azmi. Kata ulul azmi berasal dari dua kata, yakni ulul dan azmi. Arti dari kata ulu atau uli adalah memiliki, sedangkan azmi berarti tekad atau keteguhan hati yang kuat.

Berikut ini kisah Nabi Musa saat membelah laut merah dan kemenangannya membinasakan Firaun dan pengikutnya.

Kelahiran Nabi Musa

Pada zaman dahulu, Negeri Mesir dipimpin oleh seorang raja zalim bernama Firaun. Ia merupakan raja yang sewenang-wenang menindas penduduknya. Firaun juga dikenal sebagai raja sombong, suka memperbudak dan memecah belah penduduknya serta mempekerjakan mereka dengan kerja paksa.

Suatu hari Firaun bermimpi ada api yang datang dari Baitul Maqdis yang membakar Negeri Mesir kecuali rumah-rumah kaum Bani Israil. Merasa ada yang janggal dari mimpinya, akhirnya Firaun mengumpulkan para peramal dan ahli sihir untuk menanyakan arti mimpi tersebut.

Kemenangan Nabi Musa AS Membinasakan Firaun

Setelah Musa diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi, penduduk Mesir semakin fanatik dengan penguasa mereka yaitu Firaun. Dengan sewenang-wenang Firaun berhasil menekan penduduk agar mengingkari ajaran yang dibawa Nabi Musa AS. Hal ini sebagaimana firman Allah:

فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰىٓ اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْ ۗوَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ ۞

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus [10]: 83).

Selama bertahun-tahun Nabi Musa AS dan para pengikutnya telah bersabar menghadapi raja Firaun dan tentaranya yang dengan sewenang-wenang terus menindas. Tak hanya itu, semakin hari Firaun juga semakin menentang dan memusuhi kebenaran. Pada puncaknya Firaun dengan segala kesombongannya mengaku kalau dirinya adalah Tuhan. Maka dari itu, Nabi Musa AS senantiasa berdoa kepada Allah sebagai berikut:

وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ  ۞

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS. Yunus [10]: 88).

Nabi Musa AS Membelah Lautan

Hingga akhirnya atas izin Allah SWT Nabi Musa AS dan para pengikutnya memutuskan untuk keluar dari Mesir dan menuju Syam. Mendengar kabar ini kemarahan Firaun semakin memuncak. Sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar Nabi Musa AS dan para pengikutnya.

Pasukan Firaun terus mengejar Nabi Musa AS serta pengikutnya. Beberapa pengikut Nabi Musa AS mengadu bahwa pasukan Firaun hampir menyusuli mereka. Pasalnya di hadapan mereka jalan tertutup lautan, kemudian Nabi Musa AS berkata,

قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ ۞

“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Asy-Syu’ara [26]: 62).

Pada saat itu keadaan benar-benar genting dan terhimpit dialami Nabi Musa AS dan pengikutnya. Namun dengan segala kekuatan iman yang dimiliki, Nabi Musa AS berusaha menenangkan para pengikutnya. Setelah itu turunlah wahyu Allah SWT kepada Nabi Musa AS.

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ  ۞

“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS. Asy-Syu’ara [26]: 63).

Setelah lautan terbelah, Nabi Musa AS dan para pengikutnya bergegas melintasi jalan tersebut. Kemudian disusul Firaun dan pasukannya yang mencoba untuk ikut melintasi jalan tersebut, akan tetapi lautan telah Kembali seperti semula, akhirnya Firaun dan pengikutnya tenggelam. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ۞ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ  ۞ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۞

“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 65-67)

Makna Sufistik Membelah Lautan

Dalam Surat Thaha, Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى ۞

Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir (akan tenggelam).” (QS. Thaha [20]: 77)

Dalam terjemahan bebas, kalimat fadhrib lahum tharîqan fil-bahri yabasan dapat diartikan sebagai buatlah perumpamaan untuk mereka dengan jalan kering yang berada di lautan. Jalan kering yang membentang dan membelah lautan adalah sebuah kalimat siloka (sanepan) yang bermakna membentangkan sebuah metodologi untuk membelah lautan ilmu.

Thariq adalah sebuah metodologi yang dalam khazanah keislaman dilembagakan menjadi sebuah Tarekat Sufi. Hanya kaum sufi yang memiliki metode secara gradual untuk membelah lautan ilmu menjadi “layak pakai” bagi kemaslahatan umat manusia.

Dalam pencapaiannya, stratifikasi proses untuk sampai kepada Sang Empunya Ilmu, atau bahkan sampai kepada puncak al-‘Alîm (Maha Berilmu) kaum sufi memiliki pendidikan jati diri yang begitu komprehensif. Allah SWT dalam Surat Thaha di atas memberikan sinyalemen bahwa metode (Thariq) yang engkau gunakan membuat engkau tak mungkin bisa dijangkau (dikejar) oleh mereka yang hanya menggunakan akal semata. Tegasnya, bahwa seolah-olah Allah SWT mengatakan bahwa engkau akan mencapai tingkat teknologi yang high end yang akan membawamu pada keselamatan.

Mengapa begitu? Karena metodologi yang digunakan oleh Nabi Musa AS dalam pencapaian ilmu justru tidak akan memberikan ekses yang “menyesatkan” seperti teknologi mutakhir buatan manusia yang dibangga-banggakan saat ini. Teknologi mutakhir manusia abad ini justru menggiring manusia pada kebinasaannya sendiri. Hal ini sangat berbeda dengan metodologi “membelah lautan” ala Nabi Musa AS yang didasarkan pada Petunjuk Tuhan.

Kesimpulannya, metodologi pencapaian ilmu yang menghasilkan kemudahan bagi manusia yang pernah digunakan oleh Nabi Musa AS dengan bahasa sanepan “membelah lautan” dalam Al-Qur’an akan selalu didasarkan pada cahaya bathiniyah sehingga berfungsinya akal tidak akan keluar dari koridor dan amanah-amanah Ketuhanan.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

_________

Oleh: Admin

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...