Home / Agama / Kajian / Kitab Ma’rifat Dalam Bentuk Ceramah (1)

Kitab Ma’rifat Dalam Bentuk Ceramah (1)

Isi ceramah dalam youtube ini berisi ilmu makrifat yang diambil dari Kitab-kitab Makrifat yang masyhur“.

Oleh: H. Derajat*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wasshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn“.

Wahai para kekasih Allah, di bulan Rajab yang mulia, marilah sama-sama kita merenung selama sebulan penuh dengan peristiwa Isra Mi’rajnya Rasulullah SAW yang selayaknya kita ikuti dengan mengenal Allah secara lebih mendalam lagi.

Sahabatku, berikut aku sampaikan sebuah ceramah kemakrifatan yang sarat dengan makna, inilah ajaran-ajaran penting dalam Ilmu Mengenal Allah (makrifat) yang merupakan ajaran pokok kemakrifatan dari Abah Anom Suralaya dan juga merupakan ajaran pokok dari seluruh ajaran Tarekat.

Allah SWT berfirman dalam Hadits Qudsiy Rasulullah SAW:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا بْنَ آدَمَ لَوْ بَلَّغْتَ ذُنُوْبَكَ عَنَانَ السَّمَآءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ، يَا بْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقَيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ۞ ( رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح )

Dari Anas radhiyallãhu ‘anhu, ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallãhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Allah Ta’ãlã telah berfirman: “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi no. 3540, Hadits hasan shahih)

Namun, apakah yang disebut dengan syirik atau menyekutukan Allah? Ialah engkau telah mengklaim pakaian Kebesaran Allah yaitu Al-Wujûd sebagai milikmu. Karena telah dimaklumkan bahwa makna Lã Ilãha Illallãh adalah Lã Maujûda illallãh, tiada yang maujud kecuali Allah.

Kita masih sering mengucapkan “kalau bukan karena aku”, “seandainya itu bukan aku”, dll., yang seolah kita mempropagandakan eksistensi keberadaan diri kita yang rapuh ini. Itulah (juga) syirik terbesar dalam hidup ini.

Marilah kita luangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan Ma’rifatullah dari KH. Ir Asep Setiawan berikut ini:

Mursyid kami yang mulia, Imam Ja’far ash-Shadiq telah menyampaikan yang petikannya kami peroleh dari makalah Muhsin Labib: “Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid.”

Hakikat hidup adalah kembali ke asal, sebagaimana firmanNya: Innã lillãhi wa innã ilaihi rãji’ûn dan kembali kepada Syahadat Sejati.

Inilah ayat yang menjadi awal, sekaligus akhir tujuan hidup kita, “berjumpa dan berdialog dengan Allah SWT”:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ۞

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), *“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”* Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS. Al-A‘rāf [7]: 172).

Alastu birabbikum, qãlû balã syahidnã. “Apakah Aku ini Tuhanmu? Iya, kami telah Bersaksi”. Ini bukan ayat imajiner. Dialog dan perjumpaan kita dengan Allah pernah terjadi. Walaupun kita tidak ingat lagi. Tapi ingatan ini dapat dikembalikan, kalau kita menempuh kembali jalan menuju Tuhan.

QS. Al-A’rãf ayat 172. Begitulah kisah perjumpaan dan dialog kita semua dengan Allah, dulu. Sebelum kita lahir ke dunia. Itu terjadi saat kita masih berada di suatu alam (alam ruh/alam rahim) sebelum kita sempurna menjelma menjadi Bani Adam.

Bayangkan, belum lahir, kita sudah bisa berjumpa dan berdialog dengan Tuhan kita. Artinya, kita sejak dulu, sejak sebelum lahir (mendzhahir), sudah punya wujud. Dan wujud kita itu mampu menjangkau keberadaan Tuhan kita.

Maka untuk memahami keberadaan wujud kita yang sudah lama ada, yang sudah ada sebelum kita lahir, yang sudah ada sejak zaman azali sampai menempati dimensi jasadi, kita harus menyimak dengan baik ceramah dari sahabat kami KH. Ir. Asep Setiawan, murid dari Abah Anom Suralaya dalam ceramahnya di atas.

Syariat adalah teks dasar (“perkataan-Ku”). Thariqat adalah metodologi/jalan (“perbuatan-Ku”). Hakikat adalah buah/hasil pencapaian/syahadah (“penglihatan-Ku”).

Semoga Allah Ta’ãlã terus membimbing kita semua agar bisa berjumpa dengan-Nya demikian juga dengan Rasul-Nya dalam kehidupan ini. Ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

___________

* Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita

About admin

Check Also

Alangkah Jarangnya Orang yang Bisa Bertemu Guru Mursyid

“Apabila Allah telah merahmatimu dengan pertemuan seorang Guru Mursyid, ikutilah dan taatilah karena dia adalah ...