Home / Agama / Kajian / Kitab Al-Hikam Menyingkap Rahasia Nur Allah

Kitab Al-Hikam Menyingkap Rahasia Nur Allah

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dirahamti Allah SWT, setiap Muslim mendambakan bisa meraih Nur Allah. Orang-orang beriman akan mampu meraihnya, dengan sejumlah laku spiritual.

Namun demikian, sekuat apapun seorang muslim mendambakan Nur Allah, ia seperti kehilangan tuntunan. Tidak banyak orang yang memahami tentang bagaimana Nur Allah tersebut selalu menyinari setiap orang di setiap waktunya.

Asy-Syaikh Al-Imam Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam Pasal 66, beliau menulis:

اَلنُّوْرُ جُنْدُ الْقُلُوْبِ، كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللّٰهُ أَنْ يَنصُرَ عَبْدَهُ، أمَدَّهُ بِجُنُوْدِ الْاَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ عَدَدَ الظُّلْمِ وَالْاَغْيَارِ

“Nur Allah itu sebagai pasukan [tentara] yang menerangi hati, sebagaimana gelapnya syirik itu sebagai pasukan [tentara] yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah menolong hamba-Nya, maka dibantunya dengan pasukan [tentara] Nur Allah dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan.”

Penjelasan (Syarah)

Asy-Syaikh Al-Habib Shãhibul Faraji Azmatkhan Al-Husaini menguraikan penjelasan (syarah) Kitab al-Hikam pasal 66 di atas sebagai berikut:

Nur yang dalam Bahasa Arab diartikan dengan cahaya disebut dalam Al-Quran sebanyak 43 kali. Bahkan, Surat ke 24 juga diberi nama dengan An-Nur.

Nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat.

Penulis Tafsir al-Mizan, as-Sayyid Muhammad Husein at-Tabataba’i, pengertian awal dari kata “Nûr” merupakan sesuatu yang tampak dengan sendirinya. Selanjutnya, hal ini juga menyebabkan lainnya yang bersifat sensual (naluriah, implisit) menjadi tampak.

Nur mengandung dua makna: esensial dan metaforikal.

Nur esensial berarti kesempurnaan keheningan karena nur itu pada dirinya bersifat bening.

Sedangkan makna Nur Metaforikal harus dipahami dalam dua cara, yaitu; sebagai sesuatu yang bersifat baik, atau sebagai sebab yang mengarahkan kepada yang baik.

Pengertian Nur juga punya makna lain yaitu Nur dalam arti material (duniawi) dan arti spiritual (ukhrawi).

Nur dalam arti material adalah cahaya yang dapat dilihat dan ditangkap di dunia. Arti ini dibedakan menjadi dua, yaitu; arti abstrak, yakni cahaya yang hanya dapat ditangkap oleh mata hati (bashîrah), dan kedua, arti konkret atau sensual (makhshûsh), yakni cahaya yang dapat ditangkap oleh mata kepala.

Sedangkan Nur dalam arti spiritual ialah cahaya yang akan dapat dilihat di akhirat kelak.

Menurut Asy-Syaikh Al-Imam Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari, menjelaskan bahwa hakikat NUR yang sebenarnya hanyalah Nur Allah SWT, sedang sebutan cahaya bagi selain Dia hanyalah kiasan, tak ada wujud sebenarnya. Karena itu, As-Sakandari membedakan makna nur kepada pengertian di kalangan orang awam dan pengertian di kalangan orang khusus.

Nur dalam pengertian orang awam menunjuk kepada sesuatu yang tampak. Sedangkan ketampakan itu adalah sesuatu yang nisbi. Adakalanya sesuatu tampak dengan pasti bagi suatu pandangan di saat ia bersembunyi bagi pandangan lainnya.

Cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat tampak benda lainnya.

Nur dalam pengertian orang khusus adalah “jiwa yang melihat”. Rahasia cahaya adalah ketampakannya bagi suatu daya cerap. Akan tetapi pencerapan bergantung, selain pada adanya cahaya, juga pada adanya mata yang memiliki daya lihat. Meskipun cahaya disebut sebagai sesuatu yang tampak dan menampakkan sesuatu, namun tidak ada suatu cahaya yang tampak dan menampakkan sesuatu bagi orang buta.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan pula, “jiwa (ruh) yang melihat” sama dengan cahaya yang tampak dalam kedudukannya sebagai unsur yang harus ada. Bahkan, berdasarkan hal ini, “jiwa (roh) yang melihat” lebih tinggi kedudukannya karena memiliki daya cerap dan dengannya pula suatu pencerapan dapat terwujud.

Dengan demikian, seluruh cahaya hakikat (Nur Allah) yang dimaknakan sebagai kebaikan adalah sebuah metode “penyelamatan” yang dilakukan Allah SWT untuk mengangkat hamba-Nya dari jurang kegelapan hawa nafsu. Dia menerangi jiwa sehingga hamba dapat “melihat” dengan ‘ainul bashîrah kebaikan-kebaikan di segala waktu dan tempat.

Saudaraku terkasih, mari kita tutup artikel ini dengan do’a:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شِمِالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ بَيْنِ يَدَيَّ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا.

Allãhummaj’al fî qalbî nûrã, wa fî lisãnî nûrã, wa fîsam’î nûrã, wa fî basharî nûrã, wa min fauqî nûrã, wa min tahtî nûrã, wa ‘an yamînî nûrã, wa ‘an syimãlî nûrã, wa min baini yadayya nûrã, wa min khalfî nûrã, waj’al fî nafsî nûrã, wa a’dzim lî nûrã

“Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku cahaya di lidahku cahaya di pendengaranku cahaya di penglihatanku cahaya diatas cahaya di bawahku cahaya di sebelah kanan kiri kananku caranya di sebelah kiriku cahaya di depanku Cahaya Di Belakangku dan jadikanlah di dalam diriku cahaya dan besarkanlah cahaya untukku”

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

______________

Referensi: Asy-Syaikh Al-Imam Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Kitab Al-Hikam, Pasal 66.

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...