Thursday , December 9 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Kisah Sebatang Pohon Kurma yang Menangis

Kisah Sebatang Pohon Kurma yang Menangis

“Pohon tersebut dulu menjadi tempat Rasulullah bersandar dan Menyampaikan Tausiah”.

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Di antara cara Allah Ta’ala mendukung dakwah para kekasih-Nya di muka bumi ini adalah dengan menganugerahkan kepada mereka berbagai bentuk mukjizat. Mukjizat yang Allah turunkan untuk menguatkan hati Rasul-Nya itu sangat banyak dan beragam.

Keistimewaan Rasulullah SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang digelari al-Amin ini memang sebuah tanda akan kenabiannya. Hal itu adalah salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada kekasih-Nya itu. Syahdan, para sahabatpun jatuh hati dan mencintai Rasulullah SAW.

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW bukanlah kecintaan basa-basi. Kecintaan itu bahkan merupakan pantulan dari cahaya kenabian yang memancar dari diri Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Bahkan, pantulannya itu memancar juga kepada alam sekitar hingga pohon kurma yang berada di Madinah saja menangis saat merasa ditinggal oleh Rasulullah SAW.

Kisah ini bermula pada suatu Jumat, muncul sebuah tangisan yang tak henti-hentinya terdengar ke seantero Madinah. Suara itu seperti rengekan bayi yang meminta susu kepada ibunya.

Jabir pernah mengatakan, “Demi Allah, saat itu kami benar-benar mendengar suara batang pohon tersebut layaknya rintihan seekor unta betina yang sedang hamil dan banyak susunya yang harus berpisah dengan anaknya di tengah padang pasir.”

Tangis pilu yang terus bergaung ini ternyata berasal dari masjid Nabawi yang berada di jantung Kota Madinah. Sahabat-sahabat Rasulullah yang mendatangi masjid saat waktu Jumatan tiba, begitu kebingungan mendengarnya.

Ketika Rasulullah SAW akan menaiki mimbar, tangisan itu terdengar kembali. Setelah tahu ada suara itu, Rasulullah pun turun dan menunda khutbah Jumat yang seharusnya diseru dari atas mimbar. Beliau kemudian mendekati sebuah pohon kurma di dekatnya, mengelusnya, dan kemudian memeluknya.

Setelah itu, suasana kembali hening dan Nabi kembali melanjutkan khutbahnya.

Ternyata, pohon kurma itulah yang menangis. Saking sedihnya, hampir-hampir pohon itu terbelah akibat jerit tangisnya itu. Ternyata pohon itu bersedih lantaran saat khutbah ia tidak lagi menjadi sandaran saat Rasulullah SAW berkhutbah.

Rasulullah SAW pernah ditawari oleh seseorang untuk dibuatkan sebuah mimbar dari kayu dan beliau meminta agar mimbar itu diletakkan tepat berdampingan dengan sebatang pohon yang dulu menjadi tempat beliau bersandar.

Mimbar kayu itu dibuat oleh anak dari seorang wanita tua Kaum Anshar beberapa minggu sebelumnya.

“Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Tuan?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.

Setelah jadi keesokan harinya, mimbar itu kemudian dimanfaatkan Rasulullah untuk menyeru kepada Umat Islam yang ikut melaksanakan shalat Jumat.

“Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon tersebut.

Peristiwa ini menjadi mukjizat atau penguat atas keistimewaan Nabi dan Rasul Penutup seluruh utusan Allah SWT. Hal itu merupakan salah satu di antara cara Allah Ta’ala meneguhkan hati para kekasih-Nya di muka bumi ini.

Pohon saja begitu ingin terus berada di samping Rasulullah SAW, Umat Islam pun harusnya sedemikian rindu kepada Nabi yang diutus kepada kita, meski hanya bisa bertemu jika diridhai oleh Allah SWT di akhirat nanti.

Sebatang pohon yang tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, tidak pula mampu berbicara, apalagi makan, minum, memberikan manfaat maupun menjauhkan seseorang dari bahaya dan mudharat, ternyata ia mampu merasakan duka. Ia menangis di hadapan penglihatan dan pendengaran para sahabat!

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْاَرْوَاحِ وَعَلَى جَسَدِهٖ فِى الْاَجْسَادِ وَعَلى قَبْرِهٖ فِى الْقُبُوْرِ، اَللّٰهُمَّ اَبْلِغْ رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنِّيْ تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Allâhumma shalli `alâ rûhi Sayyidinâ Muhammadin fil-arwâhi wa `alâ jasadihî fil-ajsâdi wa `alâ qabrihî fil-qubûr, Allâhumma abligh rûha Sayyidinâ Muhammadin minnî tahiyyatan wa salâmâ.

“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada ruh Junjungan kami, Nabi Muhammad, yang berada pada semua ruh, dan kepada jasadnya yang berada pada semua jasad, dan kepada kuburnya yang berada pada semua kubur, ya Allah, sampaikanlah kami kepada ruh Junjungan kami, Nabi Muhammad, sebagai penghormatan dan keselamatan dari kami”.

 

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...