Home / Agama / Kajian / Kisah Penciptaan Akal dan Nafsu

Kisah Penciptaan Akal dan Nafsu

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syâkir Al-Khaubawiyyi, ulama yang hidup dalam abad ke 13 Hijriah pengarang Kitab Durratun Nâsihîn meriwayatkan bahwa sebelum Allah SWT menciptakan akal dan nafsu yang hendak diletakkan dalam diri Adam AS terlebih dahulu Allah menguji keduanya agar kelak di kemudian hari Adam AS dan anak cucunya tahu fungsi dari keduanya, cara menggunakan dan menaklukkan keduanya.

Di dalam kitab tersebut dinyatakan bahwa setelah Allah menciptakan akal dan nafsu, lalu Allah memerintahkan mereka menghadap-Nya. Kemudian ditanya satu persatu.

Akal pun datang menghadap dan ketika disuruh berbalik, berbaliklah ia. Lalu Allah pun bertanya kepadanya, “Man anâ wa man anta? (siapa Aku dan siapa kamu?)”. Maka dengan rasa penuh tawadhu’, akal menjawab, “Anta Rabbî wa ana ‘abduka adh-dha’îf (Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu yang lemah)”. Karena itu, Allah memberikan kemuliaan kepada akal.

Kemudian giliran nafsu, ketika diperintahkan untuk menghadap, ia diam saja, tidak menjawab. Ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama “Man anâ wa man anta? (siapa Aku dan siapa kamu?)”, dengan sombongnya nafsu menjawab, “Anâ wa anâ, Anta wa Anta” (aku adalah aku, Engkau adalah Engkau).

Karena jawaban itulah maka Allah menghukumnya dengan memasukkan nafsu ke dalam neraka Jahîm selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan dari neraka Jahîm dan ditanya lagi oleh Allah “Man anâ wa man anta? (siapa Aku dan siapa kamu?)”, diapun menjawab dengan jawaban yang sama. “Anâ wa anâ, Anta wa Anta” (aku adalah aku, Engkau adalah Engkau). Akhirnya Allah memasukkan lagi nafsu ke neraka Jû’ (neraka yang penuh dengan rasa lapar yang amat sangat) selama 100 tahun pula.

Nafsu dibiarkan tanpa makan dan minum. Setelah nafsu tidak diberi makan dan minum (puasa) membuat nafsu sadar dan tak berdaya. Nafsu menyerah dan mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakannya.

Dalam kitab tersebut diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah Ta’ala mewajibkan puasa. Kisah ini memberi kita hikmah betapa membangkangnya Nafsu. Apabila seseorang tidak bisa mengendalikan (menundukkan) nafsunya, maka ia akan mendapat kerugian yang amat besar.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihyâ’ ‘Ulumiddîn berkata, “Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”

Mengenai Nafsu ini, dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi).

Demikian kisah penciptaan Akal dan Nafsu. Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik-Nya sehingga bisa mengendalikan dan menundukkan Nafsu.

Wallâhu A’lam bish-shawâb

Sumber: Kitab Durratun Nâsihîn karangan Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syâkir Al-Khaubawiyyi.

 

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...