Thursday , December 9 2021
Home / Agama / Kajian / Kisah Kesetiaan dan Khidmatnya Abu Hurairah

Kisah Kesetiaan dan Khidmatnya Abu Hurairah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Awal Hijrah

Pada awal tahun ketujuh hijriyah, di saat usianya menginjak dua puluh enam tahun, tekad Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu untuk hijrah dari negerinya dengan tujuan bertemu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bulat. Dengan perbekalan seadanya tak membuat Abu Hurairah RA mundur.

Sesampainya di Madinah, Abu Hurairah pernah bersya’ir:

يَا لَيْلَةُ مِنْ طُوْلِهَا وَعِنَائِهَا ۞ عَلَى أَنَّهَا مِنْ دَارَةِ الْكُفْرِ نَجَتْ

“Wahai malam yang panjang serta melelahkan # Namun saat itulah aku terselamatkan dari negeri kafir”.

Keputusannya berhijrah dari Yaman ke Madinah membuatnya kehilangan harta benda yang ia miliki di Yaman. Harta bendanya habis dijadikan bekal untuk perjalanan. Hingga akhirnya, beliau dikenal pada saat itu sebagai seorang sahabat yang sangat miskin.

Namun, kaum muslimin saat itu telah menyediakan tempat untuk tamu Allah yang  tidak mempunyai harta dan keluarga. Mereka akan di tempatkan di masjid, seraya belajar Islam kepada Rasulullah SAW. Mereka itulah yang dikenal sebagai ahlush shuffah.

Ahlush shuffah merupakan sebutan untuk mereka para penghuni masjid Nabawi yang tidak memiliki rumah dan keluarga. Sahabat Abu Hurairah merupakan orang yang paling faqih di antara ahlush shuffah yang lain. Beliau begitu tekun dan jarang absen dalam majelis Rasulullah SAW untuk mendengarkan nasehat-nasehat dan pituah-pituahnya.

Para ahlush shuffah mendapatkan makanan jika Rasulullah SAW mendapatkan makanan. Mereka juga tak makan, jika keluarga Rasulullah SAW tak makan. Karena itu, laparnya ahlush shuffah berarti laparnya Rasulullah SAW beserta keluarganya radhiyallâhu ‘anhum ajma’în.

Abu Hurairah RA merupakan seorang sahabat yang sangat sabar dengan apa yang Allah timpahkan. Kemiskinannya sungguh telah membuatnya tak asing lagi dengan rasa lapar yang selalu datang hampir setiap hari. Beliau tak asing lagi dengan batu yang selalu digunakan untuk mengikat perutnya ketika lapar melilit. Bahkan ia pernah mengatakan;

Aku pernah merasakan lapar sampai aku ingin pingsan, kemudian agar aku mendapatkan makanan, aku berpura-pura seperti  orang yang kejang diantara mimbar Rasul dan rumah ‘Aisyah sampai orang-orang datang kepadaku kemudian meruqyahku, aku langsung mengangkat kepalaku lalu aku katakan,

لَيْسَ الَّذِيْ تَرَى، إِنَّمَا هُوَ الْجُوْعُ

“Ini bukan yang seperti kalian lihat (kejang karena kesurupan) namun aku begini karena lapar”. (HR. Bukhari).

Setia dan Taat Pada Perintah Rasulullah SAW di Saat Kelaparan

Dikisahkan bahwa Abu Hurairah, di suatu hari, mengikat keras perutnya dengan batu untuk mengatasi lapar yang sangat melillit. Demi mendapatkan makanan, beliau duduk di jalan yang biasa di lewati oleh para sahabat.

Tak lama berselang, lewatlah Sahabat yang mulia Abu Bakar Shiddiq RA. Abu Hurairah langsung berlari menghampirinya dan bertanya-tanya tentang masalah agama. Abu Hurairah dalam hatinya berharap agar Abu Bakar membawanya makan bersamanya. Namun tidak seperti yang di harapkan, hingga akhirnya mereka berpisah.

Tak kemudian, lewatlah Al-Faruq Umar bin Khattab RA. Lalu Abu Hurairah melakukan apa yang ia lakukan bersama Abu Bakar tadi dengan harapan yang sama. Namun malang, hasilnya juga nihil, tidak juga seperti yang di harapkan. Kedua sahabat yang mulia itu tidak mengetahui maksud dan tujuan dari Abu Hurairah mengajaknya ngobrol.

Berikutnya, lewatlah manusia yang paling mulia, Rasulullah SAW. Melihat Abu Hurairah tengah duduk-duduk di jalan, Rasulullah SAW langsung mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang kelaparan. Rasulullah SAW memanggil Abu Hurairah untuk datang ke rumahnya. Ternyata di dalam rumah Rasulullah SAW ada hadiah berupa satu bejana susu.

Kemudian Rasulullah SAW berkata; “Abu Hurairah panggilah para ahlush shuffah”.

Mendengar perintah tersebut Abu Hurairah bergegas pergi untuk memanggil ahlish shuffah sambil berkata dalam hatinya;

Kenapa tidak aku dulu yang dikasih minum. Jika ahlush shuffah datang, maka habislah susu itu. Tapi biarlah, kelaparanku ini tak menghalangiku untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Tak berapa lama, datanglah ahlush shuffah dengan perasaan senang menyambut undangan Rasulullah SAW. Begitu mereka duduk, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Hurairah menuangkan susu tadi kepada setiap orang yang hadir itu hingga semuanya kenyang. Akhirnya, tak ada lagi yang merasa kelaparan pada saat itu, kecuali Abu Hurairah RA dan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW senyum sambil melihat bejana susu, lalu melihat kepada Abu Hurairah yang kelaparan. Beliau SAW berkata;

Wahai Abu Hurairah, yang tersisa tinggal aku dan kamu”.

Abu Hurairah menjawab, “benar wahai Rasulullah”.

Lalu Rasulullah berkata, “minumlah”.

Abu Hurairah berkata; “dan akupun langsung meminumnya, dan tidaklah Rasulullah memerintahkanku untuk terus meminum susu tersebut sampai aku tidak mendapatkan lagi ruang kosong dalam lambungku, setelah aku kenyang barulah Rasulullah meminum susunya”. (HR. Muslim).

Subhânallah, terlihat sekali kelembutan, kebaikan dan kepedulian Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Lihatlah pula, bagaimana ketaatan Abu Hurairah RA pada perintah Rasulullah SAW meskipun ia berada dalam kepayahan menahan lapar.

Bagaimana Abu Hurairah RA menjadi seorang sahabat yang begitu khidmat dan setia kepada Rasulullah SAW hingga beliau dikenal sebagai seorang Perawi hadits terbanyak?

Imam Ahmad pernah mengatakan: Sufyan menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Az-Zuhri, bersumber dari Abdurrahman Al-A’ra, dia berkata: Aku pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan, “Sesungguhnya kalian mengira bahwa aku banyak menghafal hadits Rasulullah dan Allah menjanjikan bahwa aku menjadi seorang laki-laki miskin. Aku senantiasa menyertai Rasulullah sepenuh hati, sementara kaum Muhajirin sibuk bertransaksi di pasar dan kaum Anshar sibuk mengurus harta benda mereka. Suatu waktu, aku menghadiri majelis Rasulullah SAW dan beliau bersabda:

مَنْ بَسَطَ رِدَاءَهُ حَتَّى اُقْضِيَ مَقَالَتِىْ ثُمَّ يُقْبِضُهُ إِلَيْهِ فَلَنْ يَنْسَى شَيْئًا سَمِعَهُ مِنِّىْ

“Barangsiapa membentangkan selendangnya hingga aku selesai berbicara, lalu dia melipat kembali selendangnya itu, dia tidak akan pernah lupa apapun yang dia dengar dariku.”

Setelah Abu Hurairah membentangkan selendangnya lalu melipatnya kembali. Beliau menjadi orang hafidz pada masanya.

Kesetiaan dan Bakti Abu Hurairah Kepada Ibunya

Dikisahkan, bahwa pada suatu malam, Abu Hurairah RA pernah keluar dengan tidak lazim. Orang-orang bertanya kepadanya kenapa ia keluar, beliau menjawab “tidak ada yang membuatku keluar kecuali rasa lapar”. Mereka juga berkata, “kamipun begitu tidak ada yang mengeluarkan kami dari rumah kecuali rasa lapar”.

Akhirnya, kami mendatangi Rasulullah SAW untuk mengadukan rasa lapar kami. Lalu Rasulullah SAW mengeluarkan mangkuk yang berisi beberapa kurma. Setiap satu orang yang datang diberikan dua buah kurma oleh Rasulullah SAW. Beliau mengatakan;

“Makanlah dua buah kurma ini dan perbanyaklah minum air, kurma ini akan mencukupimu untuk hari ini”.

Maka akupun memakan satu buah kurma dan sisanya aku simpan.

Rasulullah mengatakan, “untuk apa kau simpan kurmamu? Bukankah kau sangat lapar?”

Aku menjawab; “aku simpan ini untuk ibuku”.

Lalu Rasulullah berkata; “makanlah, nanti kuberikan tambahan untuk ibumu”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad, 4/328 – 329).

Kemudian Abu Hurairah bercerita, dahulu ibuku masih dalam keadaan musyrik. Setiap saat, aku selalu mendakwahkannya agar memeluk agama Islam. Sampai di suatu hari, aku mendengar perkataan ibuku yang sangat buruk yang dilayangkan untuk Rasulullah SAW. Aku langsung mengadu kepada Rasulullah SAW seraya menangis. Lalu aku meminta Rasulullah untuk mendo’akan ibuku.

Maka Rasulullah berkata;

اللّٰهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Ya Allah berikanlah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah”.

Setelah Rasulullah SAW mendoakan ibuku, aku kembali ke rumah ingin mendakwahinya lagi dan mengabarkan bahwa ia telah didoakan Rasulullah SAW. Namun, setibanya aku di rumah, pintu rumahku terbuka. Aku mendengar suara gemercik air. Saat aku akan masuk, terdengar suara ibuku berkata, “janganlah kau masuk”.

Kemudian keluarlah ibuku yang telah memakai penutup kepala dan tubuhnya seraya mengatakan;

أَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Ya, ibuku mengucapkan kalimat syahadat. Ibuku menjadi seorang muslimah. Aku langsung lari kembali kepada Rasulullah SAW seraya menangis kegirangan layaknya aku menangis tadi karena kesedihan. Aku kabarkan kabar gembira ini kepada Rasulullah SAW.

Lalu beliau berdoa;

اللّٰهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَحَبِّبْهُمْ إِلَيْهِمَا

“Ya Allah, jadikanlah kedua hamba-Mu ini (Abu Hurairah) dan ibunya orang mencintai kaum mukminin, dan jadikanlah mereka (kaum mukminin) juga cinta kepada mereka berdua”. (HR. Muslim).

Untuk biografi Abu Hurairah, silahkan baca artikel berikut: “Biografi Abu Hurairah, Sahabat Perawi Hadits Terbanyak”

Wallâhu A’lam

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...