Sunday , October 17 2021
Home / Relaksasi / Anekdot / Ketika Nashruddin Membagi-bagi Uang kepada Katak

Ketika Nashruddin Membagi-bagi Uang kepada Katak

Uang oleh para Sufi dipandang sebagai suatu faktor aktif dalam hubungan antarmasyarakat, dan antarmasyarakat dengan lingkungannya. Karena persepsi kebanyakan dari realitas dipandang secara dangkal, maka tidak mengherankan jika penggunaan manusia normal terhadap uang juga sama-sama dibatasi oleh persepsi tersebut.

Lelucon tentang katak dalam koleksi Mullah Nashruddin menjelaskan sesuatu tentang pandangan ini:

Seorang yang lewat melihat Nashruddin melemparkan uang ke kolam, dan menanyakannya mengapa ia melakukannya.

“Tadi aku berada di atas punggung keledaiku. Ia terpeleset dan tergelincir ke sisi kolam, lantas oleng dan jatuh. Tampaknya tidak ada harapan bahwa kami berdua akan selamat dari jatuh yang serius. Tiba-tiba katak-katak di air itu mulai bernyanyi keras-keras, suara ini membuat takut sang keledai. Ia bangkit dan dengan cara ini ia bisa menyelamatkan dirinya. Tidakkah katak-katak itu berhak memperoleh keuntungan karena telah menyelamatkan hidup kami?”

Idries Shah dalam The Sufi menjelaskan meskipun pada tataran umum lelucon ini dipakai untuk memperlihatkan Nashruddin sebagai orang bodoh, tetapi makna yang lebih mendalam merupakan refleksi langsung dari sikap Sufi terhadap uang.

Katak-katak itu menggambarkan manusia yang tidak bisa menggunakan uang. Nashruddin memberi balasan kepada mereka karena adanya aturan umum bahwa sebuah balasan mengikuti suatu perbuatan yang baik. Meskipun suara katak-katak tersebut tampaknya kebetulan, tetapi itu merupakan faktor lain untuk direnungkan. Paling tidak, dalam satu pandangan (pengertian), katak-katak itu tidak lebih bersalah dibanding orang kebanyakan.

Mereka mungkin tidak mengira bisa menggunakan uang, dengan benar atau sebaliknya. Cerita ini juga digunakan dalam pengertian “melemparkan mutiara di depan babi”, untuk menjawab penanya yang bertanya kepada seorang Sufi, mengapa ia tidak menjadikan pengetahuan dan hikmahnya tersedia bagi semua orang, terutama bagi orang yang (seperti katak) telah memperlihatkan kebaikan kepadanya dan yang mereka pikir bisa memahami.

Dalam rangka memahami aspek-aspek yang lebih luas dari pemikiran Sufi, dan sebelum kemajuan bisa dibuat selaras di luar jaring yang dilempar di atas kemanusiaan oleh Pendosa-Tua, dimensi-dimensi yang disyaratkan Nashruddin harus dikaji. Jika Nashruddin serupa dengan kotak Cina, dengan sekat ruang di dalam ruang, paling tidak ia menawarkan berbagai titik sederhana untuk mengenal dan terbiasa dengan cara baru dalam berpikir.

Untuk akrab dengan pengalaman Nashruddin adalah berarti mampu membuka banyak pintu pada teks-teks dan praktik-praktik para Sufi yang lebih membingungkan.

Ketika persepsi seseorang meningkat, maka begitu juga kekuatan memeras nutrisi dari cerita-cerita Nashruddin. Cerita-cerita ini memberikan kepada para pemula sesuatu yang oleh para Sufi disebut sebagai “hantaman” — dampak yang telah dihitung yang beroperasi dengan cara khusus, untuk mempersiapkan pikiran bagi upaya Sufi.

Dilihat sebagai nutrisi, hantaman Nashruddin disebut sebagai buah kelapa. Istilah ini diambil dari pernyataan Sufi, “Seekor kera melemparkan sebuah kelapa dari pucuk pohon kepada seorang Sufi yang kelaparan, dan buah tersebut mengenai kakinya. Ia mengambilnya, meminum airnya, memakan dagingnya, dan membuat sebuah mangkuk dari tempurungnya.”

Singkatnya, mereka memenuhi fungsi hantaman harfiah yang terjadi dalam salah satu kisah Nashruddin tersingkat:

Nashruddin menyerahkan sebuah timba kepada seorang anak, menyatakan kepadanya untuk menimba air dari sumur dan kemudian menjewer telinganya. “Dan ingat, jangan engkau jatuhkan!” teriaknya.

Seorang yang melihat hal itu berkata, “Bagaimana Anda bisa memukul seseorang yang tidak melakukan kesalahan?”

“Aku menduga,” ucap Nashruddin, “bahwa engkau lebih suka aku memukulnya setelah ia memecahkan timba, ketika timba dan airnya sama-sama hilang? Dengan caraku tersebut si anak akan ingat, dan timba serta isinya juga aman.”

Karena Sufisme merupakan suatu kerja komprehensif, maka bukan saja Salik yang harus belajar, seperti si anak. Kerja tersebut, seperti timba dan air, memiliki aturan-aturannya sendiri, di luar metode-metode duniawi dari seni dan ilmu pengetahuan (positif).

Tidak seorang pun mampu menempuh suatu jalan Sufi, kecuali jika memiliki potensi untuk hal itu. Jika ia mencoba melakukannya, kemungkinan terjatuh ke dalam kesalahan sangatlah besar baginya untuk memiliki satu kesempatan membawa kembali air tersebut tanpa memecahkan timbanya.

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...