Thursday , December 9 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Ketika Mursyid Kami Mengkritik Gaya Beribadah Masyarakat

Ketika Mursyid Kami Mengkritik Gaya Beribadah Masyarakat

“Tuhan kalian berada di telapak kakiku”, kata Syeikh Abdul Qadir Jaelani

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Baghdad mendatangi Mursyid kami Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Tujuan kedatangan mereka adalah hendak mengundang Tuan Syeikh Abdul Qadir ke acara ibadah malam yang dilakukan secara massal, dengan melibatkan banyak orang di tempat terbuka.

Syeikh Abdul Qadir menolak ajakan mereka, namun beliau tetap didesak untuk ikut dengan alasan agar masyarakat mendapat berkah dari beliau. Dengan segala keterpaksaan akhirnya tuan Syeikh mengikuti permintaan mereka.

Pada malam yang sudah ditentukan tuan Syeikh menghadiri acara yang sudah dipenuhi banyak masyarakat di tempat terbuka yang hendak melakukan ibadah malam. Di antara mereka yang hadir, ada yang melakukan shalat, wirid, membaca Al-Qur’an dan kegiatan ibadah lainnya.

Saat tiba di tempat itu, tuan Syeikh bukannya melakukan ibadah melainkan hanya duduk di sebuah sudut sambil mengamati secara mendalam semua aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat.

Malam telah larut, para ulama mendesak tuan Syeikh untuk berceramah di hadapan massa yang sedang beribadah itu. Beliau menolak permintaan itu, namun karena desakan yang terus menerus akhirnya beliau menuruti apa yang mereka minta.

Ketika di atas podium yang telah disediakan panitia, beliau tidak berbicara panjang lebar namun hanya berkata, “Bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin sekalian. Tuhan kalian semua ada di bawah telapak kaki saya“.

Sontak seluruh masyarakat dan ulama langsung kaget dan terheran-heran. Bahkan mereka ada yang marah karena menganggap Tuhan mereka dilecehkan dan Tuan Syeikh dianggap melakukan penodaan terhadap Tuhan; sebuah dosa dan kesalahan yang tidak bisa diampuni.

Akhirnya, sebagian masyarakat yang marah itu pun melaporkan Syeikh Abdul Qadir Jaelani ke Pengadilan dengan tuduhan melakukan penistaan agama. Laporan pun diterima, dan bila terbukti benar maka tuan Syeikh akan dikenai hukuman berat.

Di dalam sidang pengadilan itu tuan Syeikh diberondong banyak pertanyaan oleh hakim tentang ikhwal pernyataannya tersebut.

“Syeikh Abdul Qadir, benarkah di tempat dan waktu tertentu tuan berkata di hadapan masyarakat bahwa Tuhan mereka ada di bawah telapak kaki tuan?”

“Benar Tuan Hakim, saya memang berkata begitu”, jawab Syeikh Abdul Qadir.

“Kenapa engkau bicara seperti itu?” tanya hakim lagi.

“Kalau yang mulia hakim ingin tahu, silahkan lihat di telapak kaki saya” jawab Syeikh Abdul Qadir dengan tenang dan meyakinkan.

Tak lama kemudian petugas pengadilan dan hakim pun memeriksa telapak kaki Syeikh Abdul Qadir. Setelah diangkat, di kedua telapak kaki beliau telah melekat uang satu dinar.

Sang Hakim tahu bahwa Syeikh Abdul Qadir merupakan wali yang mukâsyafah (terbuka hijab). Dari peristiwa inilah, para hakim, ulama dan masyarakat Baghdad tahu sesungguhnya di malam itu, Syeikh Abdul Qadir sedang mengkritik gaya beribadah masyarakat.

Tuan Syeikh mengetahui bahwa masyarakat yang beribadah di lapangan secara massal itu bukan untuk tujuan murni memuji Tuhan ataupun beribadah kepadaNya namun semata untuk tujuan keduniaan, baik untuk merubah jalan kehidupannya dari jeratan ekonomi, memohon jabatan ataupun memiliki harta yang lebih banyak.

Di zaman kita sekarang pun banyak para pecundang perjuangan dengan menutup kebenaran yang Haq. Menyatakan kebusukan sebagai kebenaran demi tercapainya tujuan keduniaan.

Engkau adalah sahabatku, yang telah dilindungi Allah dari menjual agamamu demi urusan dunia yang fana ini. Semoga engkau menjadi WaliNya yang semua ibadahmu diterima Allah SWT, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...