Home / Agama / Tafsir / Kemarau Panjang di Mesir, Mimpi Raja dan Ta’wil Nabi Yusuf

Kemarau Panjang di Mesir, Mimpi Raja dan Ta’wil Nabi Yusuf

Oleh: Ustadz Muhamad Hanif Rahman*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Raja Mesir kala itu adalah Ar-Rayyan ibn al-Walid, suatu ketika ia bermimpi ajaib yang membuat hatinya sangat gelisah. Sebelumnya ia belum pernah bermimpi seperti itu dalam hidupnya. Maka dari itu ia kumpulkan semua orang cerdik pandai, juru-juru tenun dan pembesar-pembesar kerajaannya. Lalu dia berkata:

“Aku bermimpi melihat 7 ekor sapi yang gemuk-gemuk dimakan 7 ekor sapi yang kurus, aku melihat 7 butir gandum yang subur dan 7 butir pula yang kering. Cobalah kalian ceritakan ta’bir mimpiku itu kalau di antara kamu ada yang mempunyai ilmu ta’bir mimpi.”

Aneka pendapat keluar dari mulut mereka, ada yang mengatakan bahwa itu adalah mimpi permainan tidur saja dan ada pula yang mengatakan bahwa itu adalah pengaruh angan-angan di waktu tidur yang tidak mempunyai arti atau mimpi kosong (adlghâtsu ahlâm). Terhadap mimpi yang seperti itu, mereka tidak mempunyai ilmu untuk mencarikan ta’birnya.

Walhasil, Tidak seorang pun dapat memecahkan permintaan sang raja terkait tafsir dari mimpinya itu. Raja pun tidak puas mendengar jawaban mereka bahkan nampaknya raja semakin gelisah. Dia sangat ingin mengetahui ta’bir mimpinya itu, tetapi tidak tahu kepada siapa harus bertanya.

Tukang kebun istana mendengar kabar ini, saat itu juga ia langsung teringat kepada seorang bijak bernama Yusuf ketika meringkuk di penjara, Yusuf berhasil mena’wilkan mimpinya dengan tepat. Dengan cepat tukang kebun itu menghadap kepada baginda raja.

“Wahai tuanku, di dalam penjara ada seorang pemuda bernama Yusuf. Dia seorang yang mulia, mempunyai pikiran yang dalam, pandangan yang luas, dan dapat mena’birkan mimpi dengan tepat. Kalau tuanku utus saya kepadanya, saya akan kembali dengan membawa ta’bir mimpi tuanku itu dan tuanku akan percaya dengan kebenarannya,” ucap tukang kebun meyakinkan raja.

Raja merasa gembira mendengar ucapan tukang siram kebunnya itu, ia kemudian mengutusnya untuk menemui Yusuf dalam penjara.

“Hai Yusuf, saudaraku yang mulia yang dapat dipercaya, saya datang kepadamu untuk meminta suatu ta’bir mimpi, yaitu 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus dan 7 bulir gandum hampa kering dan ada pula 7 bulir gandum yang rimbun. Mudah-mudahan saya kembali dengan membawa ta’bir mimpi itu dari engkau dan supaya dapat diketahui oleh orang banyak yang tentunya mereka akan berterima kasih kepadamu atas segala kelebihan dan kebaikan yang engkau berikan itu,” ujar tukang kebun memohon kepada Nabi Yusuf.

Dengan segala kemurahan hati, Nabi Yusuf menerangkan ta’bir mimpi raja itu, seolah-olah Nabi Yusuf menyampaikan kepada raja dan para menterinya.

“Wahai raja dan pembesar-pembesar negara semuanya, kalian akan menghadapi kemakmuran dan keamanan selama 7 tahun lamanya. Ternak berkembang biak, aneka tanaman tumbuh dengan subur, dan semua orang akan merasa senang dan bahagia,” jelas Nabi Yusuf di hadapan tukang kebun.

Ia kemudian menjelaskan bahwa di masa subur ini pemerintah harus meminta rakyat untuk memanfaatkan situasi ini dengan baik, yaitu dengan bertanam selama 7 tahun. Hasil dari tanaman itu harus disimpan, gandum disimpan dengan tangkai-tangkainya supaya tahan lama. Sebagian kecil boleh dikeluarkan untuk dimakan sekadar keperluan saja.

“Sehabis masa yang subur itu akan datang masa yang penuh kesengsaraan dan penderitaan selama 7 tahun. Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, dan kemarau panjang. Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis, kecuali tinggal sedikit untuk dijadikan benih,” terang Nabi Yusuf.

Setelah masa sulit yang penuh kesengsaraan itu berlalu, kata Nabi Yusuf, akan datang masa hidup makmur, aman dan sentosa. Di masa itu bumi menjadi subur, hujan turun dengan lebat, manusia kelihatan beramai-ramai memeras anggur dengan aman dan gembira. Mereka telah duduk bersantai menikmati buah-buahan hasil kebunnya bersama anak-anak dan keluarganya.

“Itulah ta’bir mimpi raja, saya sampaikan kepadamu untuk kamu sampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya,” Pungkas Nabi Yusuf.

Ringkasnya, Nabi Yusuf menta’wil 7 sapi gemuk dan 7 bulir gandum rimbun dengan tahun-tahun yang subur, sedangkan sapi kurus dan tujuh bulir gandum yang kering dengan tahun tahun paceklik. Kemudian Nabi Yusuf memberi kabar gembira dengan datangnya hujan, orang-orang pun seperti biasanya memeras anggur dengan gembira.

Menurut Syekh Wahbah Zuhaili (w. 2015) di akhir penjelasannya tentang kisah ini mengatakan bahwa ta’wil mimpi sang raja yang dikatakan oleh Nabi Yusuf adalah kabar yang bersumber dari wahyu.

وَهَذَا الْإِخْبَارُ بِمُغِيْبَاتِ الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ وَحْيِ اللّٰهِ وَإِلْهَامِهِ، لَا مُجَرَّدَ تَعْبِيْرٌ لِلرُّؤْيَا

Artinya: “Mengabarkan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi mendatang sumbernya adalah wahyu dan ilham dari Allah, bukan hanya penjelasan atau ta’bir mimpi saja.” (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, At-Tafsir Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XII, halaman 277).

Imam Ibu Katsir (w. 774 H) berkata:

هَذِهِ الرُّؤْيَا مِنْ مَلِكِ مِصْرَ مِمَّا قَدَّرَ اللّٰهُ تَعَالَى أَنَّهَا كَانَتْ سَبَبًا لِخُرُوْجِ يُوْسُفَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، مِنَ السِّجْنِ مُعَزَّزًا مُكَرَّمًا

Artinya: “Mimpi raja Mesir ini merupakan takdir Allah yang menjadi sebab keluarnya Nabi Yusuf dari penjara dengan dimulikan dan dihormati.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Bairut, Dar-Kitab Ilmiyah: 1419 H], juz 4 halaman 393).

Setelah sang raja mendengar jawaban Nabi Yusuf melalui perkatakan tukang siram kebunnya, sang raja berkata: “Hadapkan kepadaku Yusuf supaya aku melihatnya, mendengarkan dan mengambil faidah ilmu darinya,”

Hal ini menurut Imam Ar-Razi sebagaimana dikutip Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya menunjukkan keutamaan ilmu. Allah Swt. menjadikan apa yang Dia ajarkan kepada Nabi Yusuf sebagai sebab keselamatannya dari cobaan dunia (di penjara), bagaimana ilmu tidak bisa menjadi sebab keselamatan dari cobaan akhirat? (Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsir Washit [Cairo, Dar Nahdlah: 1997 M] juz VII halaman 373).

Kisah tentang musim paceklik dan kekeringan yang melanda negeri Mesir ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an surat Yusuf (12) ayat 43-49. Berkat kepandaian dan kejernihan hati Nabi Yusuf dalam mena’wilkan mimpi raja, masa paceklik di Mesir pun bisa dilewati dengan baik.

Wallãhu A‘lamu bish-Shawãb.

__________

* Source: NUOnline
* Penulis adalah Khadim Ma’had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo.

 

About admin

Check Also

Selain Manusia Apakah Al-Qur’an Berlaku untuk Kalangan Jin?

“Sebagaimana manusia, makhluk jin juga memeluk keyakinan, ada yang mukmin dan ada yang kafir. Lantas, ...