Saturday , June 12 2021
Home / Agama / Kajian / Kedahsyatan Surat al-Fatihah dan Makna Titik pada Huruf Ba
Inilah Keutamaan Surat Al Fatihah Yang Sangat Dahsyat

Kedahsyatan Surat al-Fatihah dan Makna Titik pada Huruf Ba

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Saudaraku, kembali kita mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung dalam Kitab yang ditulis oleh guruku, Syeikh Abdurrauf al-Fanshuri al-Sinkili, yaitu Tanbih al-Maasyi.

Dalam kitab tersebut, beliau membeberkan secara panjang lebar tentang fadhilah (keutamaan-keutamaan) membaca Surat al-Fâtihah. Beliau banyak mengutip hadits yang mendukung keutamaan-keutamaan tersebut. Guruku mengatakan:

وَأَمَّا الْوَاقِعَةُ فَفِى الْكِتَابِ الْمَذْكُوْرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ﴿ مَنْ قَرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ لَمْ تُصِبْهُ فَقْرٌ أَبَدًا ﴾ وَفِيْهِ أَيْضًا ﴿ مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا ﴾ وَإِنْ كُنْتَ لَا تَحْفَظُ هَذِهِ السُّوْرَةَ بِالْغَيْبِ وَلَا بِالنَّظَرِ يَنْبَغِى لَكَ أَنْ تَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍ فَإِنَّ فِيْهَا فَضْلًا عَظِيْمًا وَفِى الْكِتَابِ الْمَذْكُوْرِ عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ ابْنِ الْمُعْلَا أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ﴿ أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِى الْقُرْآنِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ﴾ .

Mengenai surat al-Wâqi’ah, Ibnu Abbas r.a. dalam kitab yang sama mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa membaca idzâ waqa’ati al-wâqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya”. Sabdanya lagi, “Barangsiapa membaca surat al-wâqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kesusahan selamanya”. Jika engkau tidak hafal dan tidak mampu membaca surat ini, hendaknya engkau membaca surat al-Fâtihah 100 kali dalam sehari semalam, karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Masih dalam kitab yang sama, Abi Said Ibnu Mu’ala meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Surat yang paling agung di dalam al-Qur’an adalah al-hamdu lillâhi rabbi al-’âlamîna (surat al-Fatihah)”.

Kemudian beliau melanjutkan;

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ﴿ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ تَعْدُلُ ثُلُثَي الْقُرْآنِ ﴾ وَفِى قِرَاءَتِهَا بِعَدَدِ الْمَذْكُوْرِ فَوَائِدٌ قَالَ بَعْضُهُمْ رَحِمَنَا اللّٰهُ بِهِ إِذَا مَا كُنْتَ مُلْتَمِسًا لِرِزْقٍ وَنَيْلَ الْقَصْدِ مِنْ عَبْدٍ وَحُرٍّ وَتُظْفَرُ بِالَّذِى تَرْجُوْ سَرِيْعًا وَتُأْمَنُ مِنْ مُخَالَفَةٍ وَعُذْرٍ فَفَاتِحَةُ الْكِتَابِ فَإِنَّ فِيْهَا لَمَّا أَمْلَيْتَ سِرًّا أَىْ سِرًّا تًلَازِمُ دَرْسَهَا عُقْبَى عِشَاءٍ وَفِى صُبْحٍ وَظُهْرٍ ثُمَّ عَصْرٍ وَعُقْبَى مَغْرِبٍ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى التِّسْعِيْنَ تَتْبَعُهَا بِعَشْرٍ تَنَلْ مَا شِئْتَ مِنْ عِزٍّ وَجَاهٍ وَعُظْمٍ مَهَابَةً وَعُلُوِّ قَدْرٍ وَتَوْفِيْقٍ وَإِفْرَاحٍ دَوَامًا وَتُأْمَنُ مِنْ مَخَاوِفٍ وَكُلِّ شَرٍّ وَمِنْ عُسْرٍ وَفَقْرٍ وَانْقِطَاعٍ وَمِنْ بَطْشٍ لِذِى أَمْرٍ وَنَهْىٍ تَعِشْ مُتَنَعِّمًا فِى كُلِّ عُمْرٍ عَلَى طُوْلِ الْمَدَّةِ فِى طُوْلِ دَهْرِيٍّ.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pembuka al-Quran (surat al-fatihah) itu sebanding dengan dua pertiganya al-Quran”. Dalam pembacaan surat tersebut dengan bilangan yang telah disebutkan, terdapat beberapa faedah. Sebagian ulama –semoga Allah memberi kita rahmat karenanya– mengatakan, “Jika engkau ingin mendapat rezeki, mencapai tujuan, memperoleh dengan segera apa yang engkau harapkan, dan aman dari permusuhan serta halangan, maka bacalah surat al-Fâtihah, karena, ketika engkau mengisinya di dalam surat tersebut terdapat sebuah rahasia, yakni sebuah rahasia melazimkan nderes (membacanya dengan khusyu sambil merenungi maknanya) pada setiap Isya’, Shubuh, Dzuhur, dan ‘Ashar. Kemudian setiap malam setelah Maghrib engkau baca hingga sembilan puluh kali, lalu diikuti sepuluh kali, niscaya engkau mencapai apa yang engkau kehendaki, yakni; kemuliaan, keagungan, anugerah yang besar, ketinggian martabat, hidayah, kebahagiaan yang terus-menerus, aman dari berbagai ketakutan dan kejahatan, jauh dari kesusahan, kefakiran, kehilangan, dan jauh dari gangguan penguasa. Engkau juga akan hidup dengan nikmat dalam segala urusan sepanjang masa”.

وَأَشَارَ بَعْضُهُمْ إِلَى كَيْفِيَّةِ قِرَاءَتِهَا اَنْ تَجْعَلَهَا بَعْدَ الْعِشَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مَرَّةٍ وَبَعْدَ كُلِّ مِنَ الصُّبْحِ وَالظُّهْرِ وَالْعَصْرِ كَذَلِكَ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مَرَّةٍ وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ ثَمَانِيَةَ وَعِشْرِيْنَ مَرَّةٍ وَهِىَ تَمَامُ المْاِئَةِ وَوَجَدْتَ فِى بَعْضِ مُصَنِّفَاتِ بَعْضِ الصَّالِحِيْنَ مَا صَوَّرَتْهُ وَمِنْ فَوَائِدِهَا يَعْنِى الْفَاتِحَةُ أَنَّ مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى اللّٰهِ قَدْ عَظُمَتْ عَلَيْهِ وَقَرَأَهَا بِالتَّرْتِيْبِ وَالتَّرْتِيْلِ وَإِيْمَانٍ وَتَصْدِيْقٍ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَهُوَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ عَلَى وُضُوْءٍ كَامِلٍ بِحُضُوْرِ قَلْبٍ بَعْدَ صَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةَ الْإِخْلَاصِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَسَئَلَ اللّٰهَ حَاجَتَهُ قُدِيَتْ حَاجَتُهُ فِى اَسْرَعِ وَقْتٍ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ تَعَالَى وَإِنْ كَانَ الْوَقْتُ لَيْلًا مَا يُصْبِحُ إِلَّا وَقَدْ قُضِيَتْ وَإِنْ كَانَ الْوَقْتُ نَهَارًا مَا يَمْسِى إِلَّا وَقَدْ قُضِيَتْ بِفَضْلِ اللّٰهِ تَعَالَى وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ، إِنْتَهَى.

Sebagian ulama telah menunjukkan tatacara membaca surat al-Fâtihah, yakni setelah ‘Isya 18 kali, demikian pula setelah Shubuh, Dzuhur dan ‘Ashar, masing-masing 18 kali, dan setelah maghrib 28 kali, sehingga jumlah semuanya, seratus kali. Dalam sebagian kitab-kitab karangan orang shaleh, dijumpai apa yang telah digambarkan, yakni bahwa barangsiapa yang punya hajat kepada Allah, dan hajatnya itu sangat besar, lalu ia membaca surat  al-Fâtihah sebanyak 7 kali dengan tertib, benar bacaannya (tartîb), disertai dengan iman dan keyakinan, sambil menghadap kiblat, dalam keadaan suci (berwudhu), dengan hati yang khusyu’, dan bacaan tersebut dilakukan setelah selesai melaksanakan shalat sunat dua rakaat, yang pada setiap rakaatnya membaca surat al-Fâtihah dan Surat al-Ikhlâsh sebanyak tiga kali, lalu ia memohonkan hajatnya kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala hajatnya sesegera mungkin, jika Allah ta’ala menghendaki. Jika hal tersebut dilakukan pada waktu siang hari, maka pada sore harinya pasti Allah kabulkan hajatnya itu, berkat rahmat Allah ta’ala serta berkat rahasia yang terkandung dalam surat al-Fâtihah. Allah akan memberi rezeki kepada siapapun yang Ia kehendaki secara tak terduga, sekian.

وَرَأَيْتُ أَيْضًا بِخَطِّ بَعْضِهِمْ مَا لَفِظَهُ مَنْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ إِلَى آخِرِهَا ثُمَّ أَعَادَهَا ثَانِيًا إِلَى قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ وَكَرَّرَهَا مِائَةَ مَرَّةٍ ثُمَّ أَتَمَّهَا إِلَى آخِرِهَا لَطَفَ اللّٰهُ بِهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَكَفَاهُ اللّٰهُ الْهُمُوْمَ، إِنْتَهَى، فَتَقَرَّبْ أَيُّهَا الْمُرِيْدَ إِلَى مَوْلَاكَ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ الَّتِى هِىَ أُمُّ الْكِتَابِ وَاقْرَأْهَا لِكُلِّ حَاجَةٍ دُنْيَوِيَّةٍ كَانَتْ أَوْ أُخْرَوِيَّةٍ تَنَلْ مَا شِئْتَ مِمَّا ذُكِرَ بِسِرِّ هَذِهِ السُّوْرَةِ وَفِيْهَا عُلُوْمٌ وَأَسْرَارٌ وَفِيْهَا أَيْضًا كِفَايَةٌ لِمَنْ يُنَوِّرُ اللّٰهُ بَصِيْرَتَهُ فِى مَعْرِفَةِ وَحْدَةِ الْوُجُوْدِ وَمَعْرِفَةِ الْغَيْرِيَّةِ وَالْعَيْنِيَّةِ السَّابِقَتَيْنِ فِى أَوَّلِ الْكِتَابِ.

Aku juga melihat tulisan sebagian ulama yang berbunyi; “barangsiapa membaca surat al-Fâtihah hingga selesai, kemudian mengulanginya sampai kalimat iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, dan diulanginya kalimat tersebut sampai 100 kali, kemudian diselesaikan sampai akhir surat, niscaya Allah menyayanginya di dunia dan akhirat, serta mencegahnya dari segala kesusahan, sekian. Hendaklah engkau mendekatkan diri wahai murid kepada Tuhanmu, dengan cara membaca surat ini, yang merupakan induknya al-Qur’an. Bacalah surat tersebut untuk berbagai kebutuhan, baik kebutuhan dunia maupun akhirat, niscaya engkau akan memperoleh kebutuhan yang engkau kehendaki tersebut, berkat rahasia yang terkandung di dalamnya. Di dalam surat tersebut terdapat berbagai pengetahuan dan rahasia, juga terdapat kecukupan bagi orang yang hatinya diterangi oleh Allah dalam mengenal wahdatul wujûd (kesatuan wujud), mengenal segala ciptaan di alam semesta (al-ghairiyyah) serta kesatuan (al-’ainiyyah) yang telah dibicarakan di awal pembahasan.

Ringkasan

Dari pemaparan di atas, kami meringkas ‘amaliyah bacaan Surat al-Fâtihah sebagai ‘Amaliyah Syatthariy, yakni amalan yang mesti di jalankan oleh para pengamal Tarekat Syatthariyyah. Meskipun tak menghalangi siapapun untuk mengamalkannya (dibolehkan).

Cara mengamalkannya; dalam keadaan suci (berwudhu) dan menghadap kiblat, lalu mulailah amalan Surat al-Fâtihah tersebut dengan terlebih dahulu membaca kiriman al-Fâtihah untuk Rasulullah SAW, Syeikh Abdurrauf al-Fansyuri al-Sinkili, dan untuk Mama Derajat al-Syatthariy al-Qadiriy. Setelah itu, bacalah Surat al-Fâtihah dengan waktu dan jumlah;

1. Melazimkan bacaan sehari semalam (setiap hari) sebanyak 100 kali. Atau;

2. Melazimkan bacaan setelah shalat ‘Isya, Shubuh, Dzhuhur, masing-masing sebanyak 18 kali, dan Maghrib 28 kali. Atau;

3. Membacanya setelah sebelumnya didahului dengan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah Muthlaq, Hajat, atau Tahajjud) sebanyak 7 kali dengan tertib, khusyu’, khudhu’ dan tartil secara perlahan. Pada shalat sunnah dua rakaat tersebut, masing-masing raka’at, setelah membaca surat al-Fâtihah sekali lalu membaca surat Al-Ikhlash tiga kali. Atau;

4. Melazimkan secara khusus setiap malam setelah Maghrib sebanyak 90 kali (setelah shalat sunnah ba’diyyah Maghrib), lalu diikuti 10 kali setelah shalat sunnah Awwabin enam raka’at. Amalan setelah shalat Maghrib ini tak boleh dijeda oleh ucapan, obrolan atau aktifitas apapun (alias bersambung). (Mengenai shalat sunnah Awwabin nanti akan ada bahasan tersendiri).

5. Melazimkan bacaan sehari semalam (setiap hari) sebanyak 7 kali dengan masing-masing bacaan mengulang  lafadz; “iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” sampai 100 kali.

Fadhilah (keutamaan) mengamalkan bacaan Surat al-Fâtihah sungguh sangat banyak sekali. Dengan izin Allah SWT diantaranya adalah; untuk berbagai kebutuhan baik dunia maupun akhirat. In syaa Allah, Allah akan mengabulkan segala hajatnya sesegera mungkin. Jika amalan tersebut dilakukan pada waktu siang hari, maka pada sore harinya (in syaa Allah) pasti Allah kabulkan hajatnya itu. Demikian juga, engkau mencapai apa yang engkau kehendaki, yakni; kemuliaan, keagungan, anugerah yang besar, ketinggian martabat, hidayah, kebahagiaan yang terus-menerus, aman dari berbagai ketakutan dan kejahatan, jauh dari kesusahan, kefakiran, kehilangan, dan jauh dari gangguan penguasa. Engkau juga akan hidup dengan nikmat dalam segala urusan sepanjang masa.

Makna Basmalah dan Titik pada Huruf Ba

Masih dalam kitab yang sama, guruku mengatakan tentang makna Ummul-Kitâb (induk al-Qur’an) dan makna titik dalam huruf . Dengan penulisan yang sudah kami susun berdasarkan paragraf modern, dalam kitab tersebut guruku melanjutkan;

Sebagian ulama mengatakan, “Ketahuilah bahwa dalam kitab yang diturunkan kepada manusia sempurna (al-insân al-kâmil) ini terdapat pembuka surat yang disebut Ummul-Kitâb (induk al-Qur’an). Seluruh kandungan perincian al-Qur’an terdapat dalam surat tersebut. Dan sebaliknya, kandungan global surat tersebut dijelaskan secara terperinci dalam keseluruhan al-Quran”.

Seluruh isi dalam surat al-Fâtihah tersimpul dalam kalimat al-basmalah. Dan seluruh isi dalam kalimat al-basmalah tersimpul dalam huruf bâ. Dan hurufitu dibangun berdasarkan titik-titik yang bersusun. Inilah yang disebut sebagai Ummul-Kitâb. Seluruh kandungan al-Qur’an, sebagaimana huruf tersebut, bahkan seluruh huruf, baik yang terpisah (al-muqattha’ah) maupun yang tersusun atau huruf yang bersambung (al-maudhû’ah), seluruh lafadz, kalimat, surat dan seluruh kitab merupakan ungkapan perpanjangan yang berasal dari huruf tersebut. Karena tidak ada sesuatu yang wujud, kecuali susunan huruf-huruf tersebut.

Maka barangsiapa mengetahui apa yang telah kami katakan, berarti ia akan memahami makna firman Allah ta’ala;

أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا ۞

“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu”. (QS. al-Furqan (25): 45)

Ini adalah sebuah ungkapan dari perpanjangan titik wujud (al-Nuqthah al-wujûdiyyah) dan proses penurunan rangkaian esensi dengan esensi huruf-huruf dan kalimat-kalimat ketuhanan dan alam kejadian (ta’ayyunât al-hurûf wa al-kalimât al-ilâhiyyah wa al-kauniyyah).

Jadi, huruf-huruf itu bukanlah bentuk esensial dari titik, namun ia tidak pula benar-benar sesuatu yang lain dari titik. Camkanlah!

Hadits Tentang Surat al-Fâtihah

Tentang kedahsyatan Surat al-Fâtihah, di sini dapat kami tambahkan sebuah dalil dari Rasulullah SAW. Dalil bahwa al-Fâtihah disebut sebagai Ummul-Qur’ân (induk al-Qur’an), dan bagaimana seseorang yang membacanya, menurut Hadist tersebut, sungguh ia sedang berdialog dan disambut oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ « مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِىَ خِدَاجٌ – ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لِأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ الْإِمَامِ ۞

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu al-Fâtihah), maka shalatnya kurang (tidak sah) -beliau mengulanginya tiga kali-, maksudnya tidak sempurna.” Maka dikatakan pada Abu Hurairah bahwa kami shalat di belakang imam.

فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ -صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُوْلُ « قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ﴿ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ ﴿ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ ﴾. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ ﴿ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴾. قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ ﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾. قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ ﴿ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ ﴾. قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ » ۞.

Lalu Abu Hurairah berkata, “Bacalah al-Fâtihah untuk diri kalian sendiri karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: al-Fâtihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmaanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiraathal mustaqiim, shiraatalladzina an’amta ‘alaihim, ghairil magdhuubi ‘alaihim wa laaddhaallin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 395).

Wallaahu A’lam

About admin

Check Also

Shalawat Kubra

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...