Monday , March 8 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Kebergantungan Kepada Tuhan

Kebergantungan Kepada Tuhan

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

“Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran”

(Manusia itu bisa memiliki zat Tuhan, namun jangan beranggapan bahwa dengan demikian manusia itu dapat disebut Tuhan).

Dikisahkan dalam sebuah kitab:

Suatu saat, seorang sufi bernama Khafif pergi menunaikan haji dengan hanya membawa sebuah ember dan seutas tali untuk menimba air minumnya. Di tengah perjalanan, ia melihat beberapa ekor kijang sedang berdiri di tepian sumur, sedang meminum air dari sumur itu. Ketika Khafif mendekati sumur, kijang-kijang itu pun berlari menjauh dan permukaan air sumur mendadak turun.

Sekuat apa pun Khafif berusaha, ia tak juga dapat menimba air sumur itu. ia berdoa kepada Tuhan untuk menaikkan kembali permukaan air sumur itu seperti yang telah Tuhan lakukan untuk para kijang.

Lalu Suara Yang Agung menjawab, Kami tak dapat mengabulkan doamu; karena kau lebih bergantung kepada ember dan talimu daripada kepada Kami. Ketika itu juga, Khafif membuang ember dan tali yang dibawanya dan permukaan air sumur pun langsung naik kembali. Segera Khafif menghapus rasa dahaganya.

Sepulang dari haji, Khafif menceritakan pengalamannya kepada Junaid Al-Baghdadi. Junaid berkata, Tuhan telah menguji kebergantunganmu kepadaNya. Jika saja kau menunggu sedikit lagi, air sumur itu akan meluap ke luar.

Ibnu Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam menjelaskan: “Laa nihaayata limadaammika in arja’aka ilaika, wa laa tafrughu madaaihuka in adzhara juudahu ‘alaika kun bi-aushaafi rubuubiyyatihi muta’alliqan, wa bi-awshaafi ‘ubuudiyyatika mutahaqqiqan,”.

لَانِهَايَةَ لِمَذَامِّكَ إِنْ أَرْجَعَكَ إِلَيكَ، وَلَا تَفْرُغُ مَدَائِحُكَ إِنْ أَظْهَرَ جُوْدَهُ عَلَيْكَ ڪُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوْبِيَّــتِهِ مُتَعَلِّقًا وَبِأَوْصَافِ عُبُوْدِيَّتِكَ مُتَحَـقِّقًا

Artinya: “Engkau akan terus-menerus menjadi orang tercela jika Allah membiarkan keburukanmu, dan engkau akan menjadi orang yang selalu terpuji saat Allah menampakkan kemurahan-Nya atasmu. Teruslah bergantung pada sifat-sifat rububiyah Allah dan laksanakanlah sifat-sifat ubudiyahmu kepada-Nya”.

 

About admin

Check Also

Ahli Maksiat Bertaubat di Penghujung Ajal

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...