Home / Relaksasi / Renungan / Karakter Kesulitan Hidup

Karakter Kesulitan Hidup

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, “bersama kesulitan ada kemudahan”. Begitulah Allah SWT mengatakannya dalam Surat al-Insyirah (94) ayat 5-6:

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ۞ إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ۞

Kadar kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kesanggupannya. Adanya kesulitan bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk memelihara kelestarian hidup manusia itu sendiri. Jangan cepat-cepat berburuk sangka kepada Allah SWT.

Ingatlah doa para Ulul al-Baab;Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau dari berbuat sia-sia. Maka jauhkanlah kami dari siksa neraka.” (QS 3: 191).

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۞

Inilah realitas kehidupan. Banyak hal yang harus kita pahami dari persoalan kesulitan ini. Memahami karakter kesulitan dalam kacamata yang benar, in syaa Allah akan cukup meringankan kita dalam mensikapi kesulitan itu sendiri. Kegentaran hanya akan melahirkan pribadi-pribadi lemah yang akan digilas oleh kerasnya perputaran zaman.

Pertama, kesulitan adalah universal, milik semua orang. Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Kita tidak perlu berangan-angan akan dibebaskan dari kesulitan sama sekali, sebab kenyataannya semua orang telah memiliki jatah agenda kesulitan sendiri-sendiri.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۞ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۞

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156)

Kedua, kesulitan adalah sunatullah, yaitu suatu hukum yang telah Allah tetapkan secara permanen. Mau atau tidak, suka atau terpaksa, manusia pasti akan berhadapan dengan kesulitan. Sebab, hal ini Allah tetapkan sebagai bagian dari liku-liku hidup manusia (QS 2: 155-156). Sebagai ujian, kesulitan itu pasti akan datang, lambat atau cepat.

Ketiga, kadar kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kesanggupannya untuk memikul kesulitan itu. Allah tidak berbuat zalim dengan memberi kesulitan yang ada di luar batas kemampuan hambanya. “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS 2: 286).

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ … ۞

Keempat, di balik setiap kesulitan ada karunia kemudahan. Semua orang tentu ingin mengejar kemudahan. Islam mengajarkan, letak kemudahan itu ada di balik kesulitan (QS 65: 7, 94: 5-6). Dengan demikian, jika ingin mengejar kemudahan, kita harus berani menyongsong kesulitan.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللّٰهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا ۞

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (QS. Ath-Thalaq [65]: 7)

Bagi mereka yang mendapatkan ujian kesulitan hidup hendaknya menjadikan kesabaran sebagai hiasan kehidupannya [QS 2: 153], dengan membangun sebuah keyakinan bahwa kesulitan itu akan segera berganti kemudahan. Dan, cepat atau lambat, hal itu mudah bagi Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ۞

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Bagi mereka yang diberi kemudahan dan kesejahteraan hidup hendaknya mampu menunjukkan keteladanan nyata sebagaimana Rasul SAW dan para sahabat contohkan, yaitu kemauan untuk berbagi dengan sesama, dan kepedulian, tolong-menolong, dan mau membantu terhadap orang-orang sekitar yang berada di bawah garis kemiskinan.

Teguhlah bersandar pada Allah SWT, Sang penolong dalam segala kesulitan. Jika keteguhanmu dalam bersandar kepada Allah SWT belum juga mendatangkan kemudahan, lihatlah jiwamu, ia akan terlihat meluas seperti samudera. Saat itu, tak ada jalan lain, engkau harus terus istiqamah dan konsisten dalam keteguhan. Ingatlah, Tuhan tak pernah dzalim terhadap hamba-Nya.

Jangan dilupakan, kesadaran bahwa yang dimiliki sekarang —dalam wujud kekayaan atau lainnya— sejatinya hanyalah titipan belaka; jika Yang Maha Memiliki mengambilnya, tidak akan merasa kehilangan sedikit pun karena hanya titipan. Kapan saja Sang Pemilik berkehendak akan menarik dan mencabutnya. Kesiapan dalam bentuk yang sedemikian ini agak sulit dipraktikkan oleh mereka yang merasa memiliki segalanya. Kadang keberlimpahan harta melalaikan siapapun (QS. 102: 1):

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۞

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (QS. At-Takatsur [102]: 1)

Saudaraku terkasih, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kesadaran untuk selalu siap menghadapi situasi apapun, baik ketika lapang maupun ketika sempit. Hanya Allah SWT tempat kita bersandar, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Wallahu A’lam.

______________

Diinspirasi dari tulisan Ahmad Agus Fitriawan, Republika Online

About admin

Check Also

Misi Hidup

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...