Saturday , January 22 2022
Home / Relaksasi / Renungan / Jangan Remehkan Wirid!

Jangan Remehkan Wirid!

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dikasihi Allah SWT, wirid (al-wirdu) adalah segala macam bentuk ibadah lahir batin baik yang wajib maupun sunah. Sedangkan wârid adalah pemberian Tuhan dalam hati hamba dalam bentuk keterangan, nur cahaya dan kesenangan berbuat ibadah, taufiq dan hidayahNya.

Seseorang seringkali melakukan wirid, namun suatu waktu berhenti karena tak datangnya warid yang dia harapkan. Padahal, kemampuannya melakukan wirid itu sendiri adalah juga tak bisa dilepaskan dari kategori yang disebut warid dari Allah SWT. Karena itu, mestinya ia teruskan saja aktifitas wiridnya.

Guru kami yang mulia, Syaikh Ahmad bin ‘Athaillah as-Sakandari, dalam al-Hikamnya dawuh;

لَا يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلَّا جَهُوْلٌ، اَلْوَارِدُ يُوْجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِيْ بِانْطِوَاءِ هَذِهِ الدَّارِ، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لَا يَخْلُفُ وُجُودُهُ، اَلْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلَبُكَ مِنْهُ؟

“Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh. Karunia Allah (wârid) terdapat di akhirat, tetapi wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan hal yang paling utama yang harus diperhatikan oleh seseorang yaitu jangan kau meninggalkan keberadaannya, (karena) wirid itu sebagai perintah Allah kepadamu, sedangkan wârid (karunia) adalah hajat yang kau mintakan dari Allah. Maka di manakah letak bandingan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapanmu dari Tuhan”.

Maka, sebaiknya seorang hamba menjalankan kewajibannya, jangan melompat kepada wilayah hak Allah SWT. Padahal wirid itu hanya berlaku ketika masih hidup di dunia ini saja, sedangkan wârid akan lanjut sampai ke akhirat. Alias berkesinambungan.

Rasulullah SAW telah bersabda:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوْا مِنَ الْأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَايَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ مَادَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Hasan al-Bashri berkata: “Siapa yang sama hari kininya dengan kemarinnya, maka ia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yang tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yang makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya”.

Ketika Syaikh Junaid ditegur orang karena memegang tasbih di tangannya: “Tuan, dalam kedudukan yang demikian masih saja menggunakan tasbih”. Syaikh Junaid menjawab: “Alat yang telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan”.

Lalu Syaikh Junaid berkata: “Orang ‘arif menerima semua awal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah SWT. Karena itu, mereka akan kembali menghadap kepada Allah SWT dengan kebiasaan wirid (ibadah) yang ditugaskan oleh Allah itu. Andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal wiridku, kecuali jika ia terhutang untuk melakukannya”.

Suatu ketika, Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir, bertanya kepada salah seorang muridnya: “Hai muridku, apakah engkau selalu melanggengkan wiridmu?” Murid beliau menjawab: “Iya guru. Tetapi ada masalah ekonomi yang selalu menimpaku, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial.”

Syaikh Ali Jum’ah menjawab: “Jangan merasa susah. Istiqamahkan saja wiridmu. Hal-hal yang demikian adalah rintangan yang mengganggumu supaya tidak istiqamah. Ingatlah bahwa istiqamah sungguh lebih baik dari seribu karamah (kemuliaan).”

Kemudian Syaikh Ali Jum’ah bercerita bahwasanya dahulu, ada seorang Syaikh al-Azhar bernama Syaikh Muhammad Rasyid, seorang professor dalam bidang Ilmu Tafsir, sekaligus pemimpin para ulama di zamannya. Pada waktu mudanya, beliau pernah bertemu dengan Syaikh Muhammad Amin Baghdad. Waktu itu, usia Syaikh Amin Baghdad di atas tujuh puluh tahun. Pertemuan dengan Syaikh Amin tersebut membuat Rasyid muda menghadap Syaikh Ahmad Mursi yang merupakan guru beliau, untuk meminta izin supaya bisa melanjutkan belajarnya kepada Syaikh Amin Baghdad.

“Kesinilah anakku. Katakanlah, kepada siapa engkau akan melanjutkan belajarmu?” Tanya Syaikh Mursi. Rasyid muda menjawab: “Mengapa engkau bertanya demikian duhai guruku?” Syaikh Mursi membeberkan apa yang dilihat pada wajah anak muda itu: “Aku melihat dalam dirimu terdapat cahaya, yang semakin hari semakin tampak jelas berpijar.” Lalu Rasyid muda berkata: “Aku akan pergi belajar kepada Syekh Amin Baghdad.” Seketika itu juga Syaikh Mursi menjawab: “Pergilah bersamaku. Aku juga ingin mengunjungi Syekh Amin.”

Ketika Syaikh Mursi bertemu Syaikh Amin Baghdad, beliaupun berkata kepadanya: “Duhai Syekh, aku sudah tua, dan aku ingin melakukan sesuatu di sisa umurku sebelum maut menjemputku.” Lalu Syaikh Amin Baghdad berkata: “Apakah engkau memiliki amalan yang langgeng?”. Syaikh Mursi menjawab: “Aku tidak punya amalan yang langgeng, kecuali shalat malam dua raka’at yang telah kulakukan selama 50 tahun tanpa ada seorang pun yang tahu. Tidak istriku dan tidak juga anak-anakku, sama sekali tidak ada yang tahu.” Syaikh Amin hanya berkata singkat: “Bagus!”

Kemudian Syekh Amin mengajak Syekh Mursi ke kediamannya. Rumah beliau memiliki 6 kamar khusus untuk kitab.

Syaikh Mursi bertanya: “Wahai Syaikh Amin, apakah engkau membaca seluruh kitab-kitab ini?”. Syaikh Amin menjawab: “Tentu tuan. Setiap kitab baru yang datang kepadaku, kutaruh di luar ruangan. Tidak akan kumasukkan ke dalam kamar kitab kecuali aku telah selesai membacanya.” “Lantas, kapankah hatimu berdzikir kepada Allah Syaikh, sementara waktumu telah habis untuk membaca?” Tanya Syaikh Mursi. Syaikh Amin terdiam, kemudian berkata: “Sampai sekarang, aku tidak tahu kapan hatiku mengingatNya.”

Setelah bertamu kepada Syaikh Amin Baghdad, kemudian Syaikh Mursi berkata kepada Rasyid: “Hai anakku, demi Allah, aku merasa bahwa Syaikh Amin telah meletakkan sesuatu dalam hatiku. Seakan-akan jemarinya meraba-raba hatiku.”

Dialog antara dua orang Syaikh di atas telah memberikan sentuhan kesadaran di dalam diri kita, bahwa keberadaan wârid sangat bergantung pada kehendak Allah SWT semata. Karena itu adalah hak mutlak-Nya. Kehalusan rasa yang dialami oleh Syaikh Mursi ketika dialog terjadi dengan Syaikh Amin Baghdad, adalah sebuah wârid yang dikehendaki Allah SWT.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berada pada keadaan yang selalu wirid dengan langgeng dan istiqamah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Source: Dikutip dari berbagai sumber bacaan.

 

About admin

Check Also

Kisah Penciptaan Akal dan Nafsu

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...