Home / Agama / Kajian / Jadi Apa, Tidak Jadi Apa, Tidak Apa-Apa

Jadi Apa, Tidak Jadi Apa, Tidak Apa-Apa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dikasihi Allah SWT. Istilah “tahu, mengetahui” dan “sadar, menyadari” merupakan dua kata dengan makna  berbeda yang sering dianggap sama.

Kata “tahu” lebih mengarah dari proses penglihatan hingga diterima oleh otak yang output-nya berupa pengetahuan. Sedangkan kata “sadar” sebagai tindak lanjut proses di otak hingga diolah oleh hati sehingga mendapatkan kesadaran.

Banyak orang tahu dari berbagai sumber, terutama ilmu agama, bahwa rezeki itu tidak hanya harta benda. Kategori rezeki itu termasuk juga di dalamnya nikmat lain; seperti nikmat berbicara, penglihatan, kesehatan, pendengaran, anak, bahkan yang secara lahiriah merupakan “kesusahan” atau “musibah” bisa juga dikatakan rezeki. Untuk itu, manusia perlu membuka kesadaran pada dirinya sehingga ia memiliki rasa syukur.

Untuk mengukur apakah manusia memiliki rasa syukur atas rezeki, apapun itu bentuknya, umumnya dapat dicermati pada dua hal; yaitu ucapan yang keluar dari mulut dan tindakan yang berhubungan dengan rasa syukur itu sendiri.

Sebagai contoh, mengucap syukur (apapun kalimatnya) karena telah mendapat anugerah rezeki harta, tidak pamer, lalu sebagiannya disisihkan untuk para fakir, miskin dan kaum dhu’afã. Kemudian mengucapkan ampunan (istighfãr) kepada Allah untuk mengingat-Nya saat mendapat musibah dan   mensikapi positif (berbaik sangka) atas musibah, dll.

Sering terdengar ketika seseorang mendapat musibah, lalu terucap; “masih lumayan (bersyukur) hanya tangan yang terlindas bukan kepala”; “masih bersyukur, yang putus hanya satu velg roda”; “untung hanya rugi Rp. 500 ribu”. Lalu ucapan-ucapan tersebut diikuti dengan sikap sabar, tidak mengeluh dengan ujian kesulitan yang dihadapinya. Sikap-sikap seperti ini menunjukkan bukti-bukti syukur.

Dengan menjaga rasa syukur ini, maka nikmat Allah SWT akan ditambahkan kepada kita. Sebagaimana janji-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ۞

Wa idz ta-adzdzana rabbukum la-in syakartum la-azîdannakum wala-in kafartum inna ‘adzãbî lasyadîd

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7).

Respon dalam melihat segala sesuatu sangat tergantung dari mindset atau persepsi yang dibangun oleh setiap orang. Bila hasilnya positif, maka keluarannya akan positif. Demikian pula sebaliknya.

Ketika kita melihat posisi saat ini, lihatlah posisi terendah kita di waktu-waktu kemarin, berprasangka baik terhadap posisi sekarang. Sadarilah, bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang rencana Allah terhadap posisi kita saat ini. Tugas kita hanyalah berusaha untuk berprasangka baik (husnudzh dzhan) kepada Allah; bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

Tanamkan selalu kesadaran bahwa apapun yang dihadapi saat ini, pasti akan ada hikmahnya. Meskipun hikmah itu selalu saja akan diketahui di kemudian hari. Jangan pernah berpikir tentang orang lain untuk diperbandingkan dengan diri kita.

Allah menciptakan katak tidak dimaksudkan untuk menjadi burung. Banggalah dirimu sebagai katak. Jadilah katak yang baik, membuat senang orang lain, kuat dan bermanfaat bagi orang lain. Bersyukur atas keadaan yang ada, selalu berusaha untuk memberdayakan diri dengan berpikir, dan bertekadlah untuk menjadi manusia yang unggul.

Lupakanlah kesalahan dan keburukan masa lalu. Lakukan yang terbaik untuk hari ini dengan ikhlas. Serahkanlah urusan hari esok kepada Allah SWT. Tanamkanlah kuat-kuat sebuah prinsip; “Jadi apa, tidak jadi apa, tidak apa-apa

Ketika kita melakukan sesuatu dengan kesungguhan dan keikhlasan yang total, percayalah bahwa Allah Yang Maha Ghaib mengetahui isi hati manusia dan apa yang terbersit di dalam hatinya. Allah Maha Tahu keinginan apa yang muncul dari hati kita, Maha Tahu apa yang ada di depan dan belakang kita.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ ۞

Ya’lamu mã bayna aidîhim wa mã khalfahum, wa lã yuhîtûna bisyaiim min ‘ilmihî illã bi mã syã’,

“… Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Karena kita sudah melakukan sesuatu dengan ikhlash, meski tanpa menengadahkan tangan, maka Allah akan mengabulkan bisikan keinginan yang muncul dari hati kita. Itulah do’a yang diaktualisasikan dengan perbuatan. Sebuah perbuatan yang dipondasikan dari keikhlasan untuk mengharap ridha Allah SWT.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ۞

Wa idzã sa’alaka ‘ibãdî ‘annî fa innî qarîb, ujîbu da’watad-dã’i idzã da’ãni, falyastajîbû lî walyu’minû bî la’allahum yarsyudûn

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah [2]: 186).

Jangan pernah berpikir iri dan dengki atas apapun yang didapat orang lain. Bekerjalah dulu dengan kesungguhan dan keikhlasan. Sisanya, bertawakkalah kepada Allah. Berprasangka baiklah dengan takdir-Nya saat ini. Karena boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ۞

Wa ’asã an takrahû syai’aw wa huwa khairul lakum, wa ’asã an tuhibbû syai’aw wa huwa syarrul lakum, wallãhu ya’lamu wa antum lã ta’lamûn

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Tawakkal berasal dari kata dalam Bahasa Arab yang kata kerjanya (fi’lun) tawakkala – yatawakkalu, artinya bersandar, pasrah atau berserah diri kepada. Kata “tawakkal” kemudian diserap menjadi kata dalam Bahasa Indonesia menjadi tawakal saja. Maknanya, manusia melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah Ta’ala, lalu hasil yang diusahakannya di-tawakkul-kan (dipasrahkan) kepada-Nya. Dialah nanti yang akan menentukan.

Karena itu, tawakal akan selalu segaris dengan ikhlas, segaris pula dengan tingkat pengenalannya kepada Tuhan. Seberapa kuat seseorang bertawakal kepada Allah, sebesar itu pula keikhlasannya, dan sebesar itu pula kenalnya ia kepada Tuhan.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۞

Wa may yatawakkal ‘alallãhi fahuwa hasbuh

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Sepanjang manusia membangun cinta kasih dengan tulus, ikhlas dan hanya mengharap ridha Allah SWT, maka apapun yang diniatkan dan dilakukan akan bernilai ibadah. Mindset semacam itu adalah sebuah aktualisasi dari kalimat Allah; “Wa mã khalaqtul jinna wal-insa illã liya’budûn” (Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. (QS. Adzdzariyat [51]: 56)).

Ketika mindset di atas sudah terbangun dengan kokoh, maka Allah akan memenuhi janji-Nya. Dia tidak membiarkan hamba-Nya kelaparan, kekurangan dan ketakutan.

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ۞ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ۞

Fal-ya’budû rabba hãdzal baît, alladzî ath‘amahum min jû’iw wa ãmanahum min khaûf

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Pemilik) rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan”. (QS. Al Quraisy [106]: 3-4)

Bangunlah hubungan dengan Allah SWT atas dasar cinta dan kasih kepada-Nya, bukan karena takut neraka dan bukan karena adanya janji-janji surga, bukan pula karena janji lipatan pahala dalam ibadah sehingga hitungannya bukan hanya matematis, tapi cenderung materialistis.

Allah SWT memiliki Nama al-‘Azîz dan al-‘Alîm, artinya Allah Maha Perkasa dan Maha Tahu. Segala yang dijanjikan kepada hamba-Nya pasti akan dipenuhi. Ketika manusia telah menjalin cinta dan kasih dengan Allah SWT maka Dia akan lebih mencintai dan mengasihi hamba-Nya.

Saudaraku yang dikasihi Allah SWT, mari kita berdoa sebagai penutup tulisan ini. Sebuah do’a sebagaimana diajarkan guru kami Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabiy:

إِلَهِيْ عِلْمُكَ كَافٍ عَنِ السُّؤَالِ اِكْفِنِيْ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ سُؤَالًا، وَكَرَمُكَ كَافٍ عَنِ الْمَقَالِ اَكْرِمْنِيْ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ مَقَالًا، وَحَصِّلْ مَا فِيْ ضَمِيْرِيْ ۞

Ilãhî ‘ilmuka kãfin ‘anis suãli ikfinî bihaqqil fãtihati suãlan, wa karamuka kãfin ‘anil maqãli akrimnî bihaqqil fãtihati maqãlan, wa hashshil mã fî dhamîrî.

“Wahai Tuhan kami, ilmu-Mu tidak membutuhkan permohonan, karena itu cukupkanlah aku dengan haq yang dimiliki surat al-Fatihah sebagai permohonan, dan kemuliaan-Mu pun tidak membutuhkan ucapan, karena itu muliakanlah aku dengan haq yang dimiliki surat al-Fatihah sebagai sebuah ungkapan, dan penuhilah apa yang ada dalam hatiku”. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn

(Diriwayatkan dari Syaikh Muhyiddin al-Arabiy, bahwa barangsiapa yang memiliki kebutuhan maka hendaknya ia mau membaca surat al-Fatihah sebanyak 40 kali sehabis shalat Maghrib dan sunah Ba’diyah).

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

Oleh: Dr. Supardi, SH., MH., Kepala Kejaksaan Tinggi Riau.

 

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...