Home / Agama / Kajian / Imbalan Atas Suatu Amal

Imbalan Atas Suatu Amal

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang disayangi Allah SWT, salah satu metodologi dalam berikhtiar untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan dengan pertolongan Allah SWT adalah dengan melakukan amal baik. Hal ini dapat juga dikatakan ‘berdoa’ dengan perbuatan.

Metodologi ini dapat dilakukan dengan syarat harus memiliki kepercayaan yang kuat atas suatu perbuatan yang dilakukannya bahwa perbuatan itu hanya semata mengharap penilaian dari Allah SWT. Kemunculan rasa itu disebut juga sebagai kejujuran murni.

Dalam Kitab al-Hikam Pasal 132, guru kami, Syaikh Ahmad ibnu ‘Athaillah as-Sakandary mengatakan:

مَتَى طَلَبْتَ عِوَضًا عَلَى عَمَلٍ طُوْ لِبْتَ بِوُجُوْدِ الصِّدْقِ فِيْهِ وَيَكْفِى الْمُرِيْبَ وُجْدَانُ السَّلَامَةِ

“Apabila engkau menuntut imbalan atas suatu amal perbuatan (maka) engkau dituntut dengan adanya ke-shiddiq-an (keyakinan yang kuat) di dalamnya. Dan cukuplah bagi seorang peragu (sekadar untuk) memperoleh keselamatan.”

Syarah

Jika berdoa, maka hadapkanlah wajahmu kepada Pemberi Rezeki, bukan kepada objek yang diminta. Barang siapa berdoa, tapi menghadapkan wajah kepada permohonan, maka tidak akan dikabulkan. Seharusnya menghadapkan wajah kita pada yang mengabulkan permohonan (Allah).

Berdoa itu jangan mengharapkan hasil yang mutlak, harus A atau B atau C. Seolah kita lebih mengerti dari Yang Maha Mengatur. Jangan memaksa. Jangan menaruh khawatir terhadap pengabulannya, apa yang diberikan adalah yang terbaik pada saat itu.

Semua karunia Allah itu “dibeli” dengan amalan tertentu, baik itu dengan doa, dengan perbuatan, dengan shadaqah, thalabul ‘ilmi, apapun itu dengan harapan ditolong Allah SWT.

Ke-shiddiq-an membawa kepada kebenaran tertinggi. Ada shadaqah, ada shiddîq, ada shâdiq. Para Shiddîqûn itu orang yang telah diperkuat dengan Nur Ilmu. Tetapi harus dimulai dengan kejujuran (shâdiq), yaitu kejujuran kepada diri sendiri. Jika mengerjakan yang tidak sesuai dengan diri lalu memaksakan diri karena mengharapkan harta atau pangkat, sebenarnya itu sudah tidak jujur kepada diri sendiri.

Kerjakan sesuatu yang “klop” dengan hati. Tentu hati yang jujur. Jika dimulai dengan ketidakjujuran, maka di satu titik akan ambruk. Tentu yang paling tahu adalah diri sendiri. Jangan membuang waktu dengan sesuatu yang bukan dirimu. Meskipun terlihat lambat, sesuatu yang memang hak kita, kerjakan pasti ada hasilnya.

Kerjakanlah sesuatu yang sesuai dengan hati masing-masing. Sikap objektif, dalam bidang apapun, akan mengantar kepada kebenaran yang tertinggi.

Di sini, guru kami, Syaikh Ahmad ibnu Athaillah mendikotomikan antara ash-shiddîq (kejujuran) dengan al-murîb (keraguan).

Jadi, kalau masih ragu, cukuplah dengan mengharapkan keselamatan saja dulu. Tentunya keraguan adalah awal dari keyakinan, maka jangan sampai keraguan itu dibiarkan. Keraguan itu hanya akan membawa seseorang pada kebaikan hanya jika orang tersebut mencari tahu kebenaran di balik keraguannya.

Keraguan adalah wilayah abu-abu yang dalam bahasa hukumnya disebut sebagai mutasyâbihât. Wilayah tersebut dapat dijawab dengan mencari kejelasan (bayân) untuk mengatasi statusnya yang mutasyâbihât.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...