Thursday , December 9 2021
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Imam Bukhari: Ahli Hadits yang Dirindukan Rasulullah SAW

Imam Bukhari: Ahli Hadits yang Dirindukan Rasulullah SAW

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Penyusun kitab fenomenal Shahih al-Bukhari ini memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim ibn Mughirah bin Bardizbah.

Imam yang lahir pada 13 Syawwal 194 H., ini sempat mengalami kebutaan di waktu kecil, namun kebutaan itu sirna setelah ibundanya bermimpi Nabi Ibrahim As., yang berkata padanya;

“Allah SWT., telah mengembalikan penglihatan anakmu karena tangisanmu dan banyaknya doa yang kau panjatkan.”

Dalam usia 10 tahun, Imam Bukhari telah hafal banyak hadits. Bahkan dalam usia 11 tahun, beliau berani mengoreksi seorang ulama’ karena salah menyebutkan sanad hadits. Usia 16 tahun beliau mampu menghafal karya-karya Imam Ibn al-Mubarak dan Imam Waqi’.

Ketika beliau bersama ibu dan saudaranya bernama Ahmad pergi ke Makkah untuk melaksanakan haji, beliau tidak mau pulang, melainkan lebih memilih tetap tinggal demi mencari hadits. Usia 18 tahun, beliau telah menyusun putusan/fatwa para sahabat, tabi’in dan pendapat-pendapat mereka. Beliau juga menyusun kitab tarikhnya di samping makam Rasulullah SAW., pada tengah malam.

Pada suatu hari beliau pernah berselisih pendapat dengan ‘Ulama Fiqh Marwa, padahal beliau masih kecil, hingga beliau diejek “Sudah berapa kitab yang kamu tulis hari ini?” “Dua kitab dan aku menolak dua hadits tersebut”, jawabnya. Sontak semua orang yang hadir di majelis itupun tertawa, namun di antara syekh yang hadir berkata “Jangan ditertawakan, karena suatu saat kalian yang akan ditertawakan olehnya.”

Imam Bukhari banyak melakukan perjalanan dalam mencari hadits ke Balkh, Marwa, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, dan Syam. Diantara guru-guru beliau adalah Makki bin Ibrahim, ‘Abdan bin ‘Utsman, Yahya bin Yahya, Ibrahim bin Musa, Abi ‘Ashim al-Nabil ‘Ubaidullah bin Musa dan masih banyak lagi.

Beliau juga telah melahirkan ‘ulama-‘ulama besar seperti Abu Isa al-Tirmidzi, Abu Hatim, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi dan lain-lain. Imam Muslim pernah mendatangi imam Bukhari dan berkata; ”Biarkan aku mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, tuannya para ‘ulama hadits, dokternya hadits dalam menghilangkan ‘illat di dalamnya.”

Abu Yazid pernah mengatakan; ”Suatu hari, aku tidur di antara rukun Yamani dan maqam Ibrahim, lalu aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW., dan bersabda; ”Wahai Abu Yazid, sampai kapan kamu hanya mempelajari kitabnya Imam al-Syafi’i? Kenapa tidak kau pelajari juga kitabku ini? Wahai Rasulullah SAW., kitab apa yang engkau maksud?” Beliau bersabda; “Jami’ al-Shahih-nya Muhammad bin Ismail al-Bukhari.”

Berkenaan dengan kitab Shahihnya, beliau tidak akan menulis satu hadits di dalamnya kecuali setelah mandi dan shalat dua raka’at. Dan beliau tidak memasukkan satu hadits pun dalam kitabnya kecuali hanya hadits Shahih saja. Namun, tidak semua hadits shahih beliau masukkan ke dalamnya karena takut akan memperpanjang pembahasan.

Imam Bukhari suatu hari sedang mendikte hadits yang sangat banyak sekali kepada muridnya, dan beliau khawatir muridnya bosan, beliau pun memberi semangat kepada muridnya dengan mengatakan “Perbaikilah dirimu, sungguh ahli musik pasti akan bersama ahli musik lainnya, begitu pula dengan ahli ketrampilan dan bisnis, sedangkan kalian adalah ahli hadits yang akan bersama Nabi SAW., dan para sahabatnya.”

Ada tiga hal sifat terpuji yang dikatakan oleh Husain bin Muhammad al-Samarqandi tentang Imam al-Bukhari: 1. Beliau itu sedikit bicaranya. 2. Tidak tamak. 3.Tidak sibuk dengan urusan manusia, karena beliau disibukkan dengan ilmu. Bahkan setiap bulannya beliau mendapat 500 dirham, namun diinfakkan semuanya.

Sebelum wafat, beliau sempat sakit parah, dan ketika akan dibawa ke kota Samarqand, beliau berkata; “aku sudah lemas”. Kemudian beliau pun dibaringkan kembali dan beliau berpesan agar dikafani 3 buah baju putih bukan gamis, dan bukan sorban.

Imam yang memiliki postur tubuh kurus dan sedang ini menghembuskan nafas terakhirnya pada malam sabtu, malam idul fitri tahun 256 H. Setelah shalat isya’ dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan esok harinya setelah dzhuhur. Ketika proses pemakamannya, angin meniup tanah makamnya, dan sontak harum wangi melebihi kasturi sampai berhari-hari tercium dari dalam makamnya sampai semua penduduk kota membincangkannya karena kagum.

Abdul Wahid bin Adam berkata; ”Saya melihat Rasulullah SAW., di dalam mimpi bersama para sahabatnya, beliau berhenti pada suatu tempat. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan beliaupun menjawab salamku. Aku bertanya; ” Mengapa berhenti di sini Wahai Rasulullah SAW.,? Beliau menjawab; ”Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari”. Setelah beberapa hari maka datanglah kabar wafatnya Imam Bukhari, dan tatkala saya perhatikan waktu wafatnya beliau, ternyata tepat saat aku mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.

Diceritakan dari Abu al-Fath Nashr bin al-Hasan al-Saqati al-Samarqandi pada tahun 464 di Samarqand terjadi paceklik, pendudukpun meminta hujan berkali-kali, namun nihil, hujan tak kunjung turun, akhirnya ada seorang laki-laki shalih mendatangi qadhi Samarqand.

“Aku memiliki suatu pandangan yang harus aku ungkapkan kepadamu”, kata laki-laki shalih. “Apa itu?” tanya sang qadhi. “Hendaknya kamu beserta para penduduk kota Samarqand pergi ke maqam Imam Bukhari yang berada di Khartank, kita minta hujan di samping makamnya, semoga Allah SWT memberikan hujan kepada kita”, kata laki-laki shalih. “Sungguh bagus sekali pendapatmu”, puji sang qadhi.

Akhirnya, sang qadhi dan orang-orangpun menuju ke makam sang Imam, dan meminta hujan kepada Allah SWT., di samping makamnya sambi menangis. Tak lama kemudian, Allah-pun menurunkan hujan lebat, hingga mereka tidak bisa pulang ke Samarqand dan tinggal di Khartank selama seminggu lebih, karena jarak antara Khartank dan Samarqand 3 mil.

Demikianlah, sekelumit kisah Imam besar Ahli Hadits, Imam Bukhari yang hari-harinya disibukkan dengan hadits-hadits Nabi SAW., sehingga tak heran jika Nabi SAW., pun merindukan sosoknya. Wallâhu A’lam bish-shawâb.

Mari kita membaca Surat al-Fatihah untuk beliau…

أَلْفَاتِحَةَ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى رُوْحِ خُصُوْصًا إِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِي الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ، أَنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ، وَيَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ وَنَفَحَاتِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَلْفَاتِحَةَ أَثَابَكُمُ اللّٰهُ …

Al-fâtihata ilâ hadhratin nabiyyil mushthafâ rasûlillâhi muhammadin ibni ‘abdillâhi shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa ilâ rûhi khushûshan imâmil bukhâriyyi wa ushûlihim wa furû’ihim wa dzawil huqûqi ‘alaihim ajma’în, annallâha yaghfiru lahum wa yarhamuhum wa yu’lî darajâtihim fil-jannah, wa yanfa’unâ bi asrârihim wa anwârihim wa ‘ulûmihim wa nafahâtihim wa barakâtihim fid-dîni wad-dunyâ wal-âkhirah, al-fâtihata atsâbakumullâh…

Oleh: Annisa Nurul Hasanah
Source: Bincang Syariah

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...