Home / Relaksasi / Renungan / Imam Ahmad bin Isa; Seorang yang Berhijrah Kepada Allah

Imam Ahmad bin Isa; Seorang yang Berhijrah Kepada Allah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku, Imam Ahmad bin Isa dilahirkan pada tahun 260 H./820 M., di kota Basrah, Iraq. Beliau seorang ‘alim, ‘amil (mengamalkan ilmunya), hidup bersih dan wara’ (pantang bergelimang dalam soal keduniaan).

Allah SWT memberikan karunia kepadanya dua ilmu sekaligus; basyariyah (ilmu tentang soal-soal lahir) dan bathiniyah (ilmu tentang keterbukaan mata bathin (futuhat al-bathin).

Di Iraq beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan terpandang dan mempunyai kekayaan cukup banyak.

Gelar al-Muhajir

Para ahli sejarah sepakat memberi gelar al-Muhajir hanya kepada Imam Ahmad bin Isa sejak hijrahnya dari negeri Iraq ke daerah Hadramaut. Hanya Imam al-Muhajir yang khusus menerima gelar tersebut meskipun banyak pula orang-orang dari kalangan ahlul bait dan dari keluarga pamannya yang berhijrah menjauhi berbagai macam fitnah dan berbagai macam gerakan yang timbul.

Di namakan al-Muhajir, karena beliau hijrah dari Basrah ke Hadramaut karena sebab-sebab perbaikan yang diperlukan, diantaranya adalah mencari ketenangan demi menyelamatkan agamanya dan agama para pengikutnya ke tempat yang aman.

Hijrah yang dilakukan oleh al-Muhajir bukanlah sesuatu yang baru, tetapi merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sepuluh pemimpin dari kalangan keluarga Nabi SAW. Sebagaimana Rasulullah SAW dan keluarganya yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, Imam Ali bin Abi Thalib hijrah dari Hijaz ke Iraq, yang diikuti oleh anak dan cucunya setelahnya seperti Imam al-Husein bin Ali, Zaid bin Ali bin Husein, Muhammad al-Nafsu al-Zakiyah bin Abdullah al-Mahdh bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib serta saudaranya Ibrahim dan Idris, kakek Bani Adarisah di Maghrib dan lainnya.

Sedangkan al-Muhajir hijrah dari Basrah ke Hadramaut disebabkan timbulnya fitnah, bencana dan kedengkian yang telah mewabah pada masyarakat Iraq. Berkuasanya para ahli bid’ah dan banyaknya penghinaan terhadap para Syarif Alawiyin dan beratnya berbagai tekanan yang mereka rasakan. Banyaknya para pencuri dari kalangan orang-orang hitam, dan perbuatan yang tidak pantas terhadap wanita kaum muslimin serta banyaknya pembunuhan.

Di samping itu, mereka juga mencaci maki khalifah Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah, maka pada tahun 317 hijriyah, Imam al-Muhajir hijrah ke Hadramaut berserta keluarganya yang berjumlah 70 orang. Ikut serta dalam perjalanan beliau anaknya yang bernama Ubaidillah dan ketiga cucunya Alwi, Jadid dan Basri. Anak Imam Ahmad yang bernama Muhammad tetap tinggal di Iraq untuk menjaga harta Imam Ahmad al-Muhajir, sampai beliau mendapat keturunan dan meninggal di sana.

Dalam majalah al-Rabithah, jilid 5 halaman 296 dijelaskan bahwa Imam Ahmad bin Isa hijrah ke Hadramaut tidak untuk mencari kekayaan dunia, karena di Hadramaut tidak ada sesuatu untuk dicari. Barangsiapa mendengar berita tentang negeri Hadramaut, maka dapat dikatakan bahwa Sayyid Ahmad bin Isa dan keturunannya tidaklah hijrah dari negeri Iraq yang subur ke negeri yang tandus dan tidak dapat ditemukan adanya banyak makanan, akan tetapi beliau hijrah bersama keluarga dan anaknya karena menjaga diri dan agamanya dari fitnah dan kekejaman bala tentara kerajaan.

Sebelum ke Hadramaut, beliau melakukan perjalanan melalui Hijaz pada tahun 317 H. (896 M), bersama sebagian maula dan anak pamannya seperti kakek dari keluarga al-Ahadilah dan al-Qudaim. Lalu pada tahun 318 H. (897 M) ke Madinah melalui Syam, disebabkan jalan ke Makkah dan Madinah dari Iraq kurang aman. Mereka tinggal di Madinah sampai musim haji untuk menunaikannya dan saat itu kaum Qaramithah telah mengambil Hajar al-Aswad dari tempatnya. Dalam perjalanan haji, al-Imam al-Muhajir bertemu dengan rombongan haji Hadramaut.

Setelah itu al-Muhajir berangkat ke Yaman dan memilih sayyid Muhammad bin Sulaiman bin Ubaidillah bin Isa bin Alwi bin Muhammad bin Dhohman bin Auf bin al-Imam Musa al-Kadzim untuk tinggal di Wadi Saham, sebagaimana al-Muhajir memilih seorang dari keluarga al-Qudaim untuk tinggal di Wadi Surdud.

Ketika sampai di Wadi Du’an, al-Muhajir tinggal di Jubail, kemudian pindah lagi ke Hajrain daerah yang mempunyai pemandangan yang indah. Dengan ilmu dan bukti-bukti beliau memberikan pemahaman kepada ahlu bid’ah dan ahlu sunnah di sana sehingga Allah swt mempertemukan kedua kelompok yang bertikai itu di bawah kemuliaan al-Muhajir.

Menurut Muhammad bin Salim al-Bijani, daerah yang pertama kali disinggahi Imam Ahmad adalah Jubail di mana penduduknya mempunyai sifat yang baik dan mereka menerima dengan senang hati kedatangan Imam al-Muhajir. Negeri Jubail terletak di Wadi Du’an yang penduduknya bermadzhab Ahlussunnah dan Syi’ah yang dikelilingi oleh penganut madzhab Ibadiyah. Penduduk Jubail berasal dari suku Kindah dan Sodap.

Tidak lama kemudian Imam Ahmad pindah ke Hajrain dan tinggal di sana selama satu tahun. Di Hajrain beliau membeli perkebunan kurma dengan harga 1.500 dinar dan menghadiahkan perkebunan tersebut kepada mawalinya. Kemudian beliau pergi ke desa Bani Jasir dan kemudian ke Husaisah. Di Husaisah beliau menetap sampai wafat.

Pengembaraan beliau di Hadramaut di mulai dari tahun 320 hijriyah sampai tahun 345 hijriyah. Beliau hidup pada zaman Daulah Ziyadiyah (Bani Umayah) dan pada zaman Daulah Zaidiyah (al-Hasyimi) di Yaman. Selama di Hadramaut, beliau memerangi kaum Ibadhiyah dan kaum Qaramithah tanpa senjata.

Kemudian beliau pindah lagi ke Husaisah, yang jaraknya setengah marhalah dari Tarim. Di tempat itulah beliau menghabiskan sisa umurnya untuk berda’wah menuju kesatuan pandangan dan kekuatan Madrasah al-Quran dan sunnah berdasarkan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah seorang mujtahid dalam ilmu ushul, maka kuatlah manhaj yang membawa kebahagiaan di Hadramaut atas usahanya, sehingga muncul madzhab Imam Syafii yang kemudian menjadi madzhab anak keturunannya dalam bidang furu’. Al-Muhajir wafat dan dikuburkan di Husaisah tahun 345 H. (924 M.)

Nasab Al-Imam Muhajir Sayyid Ahmad bin Isa ra

Sayyidina al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina al-Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina al-Imam Ali al-‘Uraydhi bin Sayyidina al-Imam Ja’far As-Shadiq bin Sayyidina al-Imam Muhammad al-Baqir bin Sayyidina al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina al-Husein, radiyallahu ‘anhum ajma’in.

Hadramaut di Yaman, Khususnya di kota Tarim, terkenal sebagai “Gudang” Para Ulama besar, Aulia dan Sufi. Mereka semuanya bermuara/keturunan Imam Muhajir Ahmad bin Isa.

Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir adalah sesepuh para Ahli ibadah dan Mujahid, pemegang aqidah yang lurus, dengan ahlaq terpuji, mempesona setiap kali menyampaikan tausiah. Pesona itu terpancar, misalnya ketika beliau menasehati saudaranya, Imam Muhammad bin Isa, yang berkedudukan tinggi dan kaya raya, agar mengalihkan kesibukannya pada urusan-urusan akhirat, dan diterima dengan baik.

Imam Ahmad al-Muhajir sendiri juga berkedudukan tinggi dan kaya, namun hal itu tidak memalingkan hatinya dari ibadah. Justru sebaliknya, beliau semakin kuat beribadah, dan rajin menyampaikan tausiah kepada orang-orang yang sesat. Sejak kecil, wajahnya sudah mengguratkan kepiawaian, kedamaian, dan kebahagiaan. Beliau juga berkemauan keras, terutama dalam beramal kebajikan. Jauh sebelum terjadi kekacauan politik maupun perbedaan paham di bidang agama yang terjadi di Iraq. Allah SWT telah memberitahukannya agar memalingkan diri dari urusan dunia, dan lebih memperhatikan urusan akhirat.

Perang Terhadap Bencana Fitnah dan Kerusakan Akhlaq

Pada tahun 255 H. (869 M), di masa pemerintahan Khalifah al-Muhtadi dari Dinasti Abbasiyah telah terjadi bencana fitnah, kedengkian, berkuasanya para ahli bid’ah dan kerusakan moral lainnya. Peristiwa itu sebagaimana telah digambarkan oleh Ash-Shuli:

“Sesungguhnya jumlah orang yang terbunuh pada musibah yang terjadi sebanyak 1,5 juta orang, diantaranya seorang pembesar dari mereka yaitu Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin. Mereka juga mencaci maki khalifah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah”.

Karena banyaknya kerusakan akhlaq di tahun itu, maka pada tahun 317 H. (897 M), Imam Ahmad al-Muhajir pun memutuskan berhijrah dari Basrah ke Madinah. Ikut bersamanya juga anaknya, Ubaidillah dan ketiga cucunya Alwi (kakek dari Bani Alawi), Jadid (kakek dari Bani Jadid) dan Basri (kakek dari Bani Basri). Mereka semua adalah orang-orang yang mulia, ulama yang mengamalkan ilmunya.

Menurut al-‘Allamah Muhammad bin Salim al-Bijani dalam kitabnya al-Asy’ah al-Anwar, jilid 2 halaman 82 mengatakan bahwa “sesungguhnya dari kalangan keluarga Ali yang pertama kali datang ke Hadramaut adalah al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau hijrah dari Basrah menuju Madinah bersama keluarganya yang berjumlah 70 orang”.

Ikut serta juga bersamanya hijrah dari kota Basrah ke kota Madinah kakek dari Bani Ahdal (keturunannya antara lain Ali bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubaid bin Isa bin Alwi bin Muhammad bin Jamzam bin Auf bin Imam Musa al-Kadzim) dan kakek dari Bani Qudaim (diantara keturunannya adalah Muhammad Jawad bin Ali Ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim). Sedangkan anak Imam Ahmad yang bernama Muhammad tetap tinggal di Iraq untuk menjaga harta Imam Ahmad al-Muhajir, sampai beliau mendapat keturunan dan meninggal di sana.

Dengan iringan ratap tangis penduduk Basrah, Khalifah besar itu menuju Hijaz, nama kawasan Mekkah, Madinah dan sekitarnya kala itu. Ketika beliau berangkat hijrah dari Iraq ke Hijaz pada tahun 317 H beliau ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali al-‘Uraidhy, bersama putera bungsunya bernama Abdullah, yang kemudian dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu beliau yang bernama Ismail bin Abdullah yang dijuluki dengan Bashriy.

Sesampainya di Madinah, mereka bermukim selama setahun. Ketika itu bulan Dzulhijah 317 H. (897 M.), di Mekkah terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh kaum Qaramithah pimpinan Abu Thahir bin Abi Sa’id. Mereka berhasil menjebol Hajar Aswad dari tempatnya di salah satu pojok Ka’bah. Tapi 23 tahun kemudian, mereka mengembalikan Hajar Aswad tersebut.

Dalam kerusuhan itu, kaum Qaramithah tidak segan-segan merampok, merampas harta benda dan membunuh penduduk Mekkah. Setahun kemudian, setelah keadaan tenang, Imam Ahmad Al-Muhajir dan pengikutnya berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Dari Makkah beliau pergi ke Hajrain Hadramaut dan membeli perkebunan kurma dengan harga 500.000 dinar dan menghadiahkan perkebunan tersebut kepada mawalinya. Kemudian beliau pindah ke daerah Husaisah yang jaraknya kira-kira setengah marhalah dari Tarim dan terletak sebelah Timur Syibam.

Di Yaman beliau meninggalkan anak pamannya yang bernama Sayyid Muhammad bin Sulaiman, datuk kaum Sayyid al-Ahdal. Imam al-Muhajir menetap di Hadramaut atas dasar pengarahan dari Allah SWT, sebab kenyataan menunjukkan, setelah beliau hijrah ke negeri itu, di sana memancar cahaya terang sesudah beberapa lama gelap gulita. Penduduk yang awalnya bodoh berubah menjadi mengenal ilmu. Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan kaum khawarij dengan dalil dan argumentasi.

Kesaksian Akan Nasab Ahlul Bait Nabi

Kaum Khawarij tidak mengakui atau mengingkari Imam al-Muhajir berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Untuk memantapkan kepastian nasabnya sebagi keturunan Rasulullah saw sayyid Ali bin Muhammad bin Alwi berangkat ke Iraq. Di sanalah ia beroleh kesaksian dari seratus orang terpercaya dari mereka yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji. Kesaksian mereka yang mantap ini lebih dimantapkan lagi di makkah dan beroleh kesaksian dari rombongan hujjaj Hadramaut sendiri.

Dalam upacara kesaksian itu hadir beberapa orang dari kaum Khawarij, lalu mereka ini menyampaikan berita tentang kesaksian itu ke Hadramaut. Dengan demikian mantaplah sudah pengakuan masyarakat luas mengenai keutamaan para kaum ahlul-bait sebagai keturunan Rasulullah SAW melalui puteri beliau Siti Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Al-‘Allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam kitabnya, Riyadhul Jannah, mengatakan; “Kaum Sayyid Alu Ba ‘Alawiy oleh umat Muhammad SAW sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pekertinya”.

Mengapa beliau memilih Hadramaut, yang panas, tandus dan kala itu terputus hubungan dari dunia luar? Pemilihan kawasan tersebut didorong oleh hasratnya untuk hidup tenang dan tenteram bersama keluarga dan pengikutnya. Tapi juga untuk membentuk komunitas masyarakat baru di suatu kawasan baru yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun kehadirannya di Hadramaut bukan berarti berakhirnya tantangan berdakwah.

Pada tahun-tahun pertama di Hadramaut, beliau menghadapi ancaman para pengikut Mazhab Ibadhiah. Karena tidak berhasil mencapai kesepahaman dan perdamaian, beliau pun terpaksa mengangkat senjata melawan mereka. Meskipun jumlah pengikutnya tidak terlalu besar, semangat perjuangan mereka cukup tinggi. Apalagi penduduk Jubail dan Wadi Dau’an juga mendukungnya, sehingga Kaum Ibadhiah tersingkir.

Dakwah Imam Ahmad al-Muhajir, yaitu hidup sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah yang lambat laun diamalkan oleh penduduk. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka kaum Ba’alawi menjalani hidup sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat di zaman Rasulullah SAW. Ini berpengaruh positif kepada masyarakat Hadramaut di kemudian hari. Mereka inilah yang dibelakang hari dikenal sebagai Ulama Salaf, yakni para Ulama terdahulu yang saleh.

Ketika itu peran keluarga Ba’alawi dalam berdakwah dan memberi contoh hidup sesuai dengan syari’at merupakan modal besar dalam syi’ar islam. Sampai-sampai Ulama besar, al-Imam Fadhl bin Abdullah berkata: “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah SWT. Barangsiapa yang tidak menaruh rasa husnudzdzan (baik sangka) kepada keluarga Ba’alawi, tidak ada kebaikan padanya.”

Mengenai hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir ke Hadramaut, Habib Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan; “Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, dengan maksud memelihara keturunan dari pengaruh buruk dan kesesatan yang nyata yang telah mewarnai kehidupan kekhalifahan Bani Abbas, berhijrah dari Basra ke Hadramaut pada tahun 317 H dan wafat di Husaisah pada tahun 345 Hijriah. Imam Ahmad bin Isa mempunyai dua orang putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy)”.

Dalam tahun-tahun terakhir abad ke-6 H., keturunan Ismail (salah satu keturunannya ialah Syekh Salim Bin Bashriy) dan Jadid (salah satu keturunannya ialah al-Imam Abi Jadid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Jadid) punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal dengan kaum Sayyid Alawiyin.

Sedemikian tinggi penghargaan masyarakat kepada keluarga Ba’alawi, sampai-sampai Sulthanah binti Ali Az-Zabidy, Penguasa Hadramaut, konon bermimpi melihat Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah salah seorang keluarga Ba’alawi sambil berkata; ”Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta”.

Dan itu semua berkat kerja keras penuh kesabaran Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir ila Allah dalam mengembangkan dakwah Islam di Hadramaut. Beliau wafat pada tahun 345 H. (956 M.), dan dimakamkan di Husaiseh, Hadramaut.

 

 

About admin

Check Also

Misi Hidup

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...