Home / Agama / Improvisasi Salik / Ilmu Laduniy dalam Surat Ar-Rahman

Ilmu Laduniy dalam Surat Ar-Rahman

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang budiman, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, sepanjang hayatnya tidak akan pernah mampu menghitung betapa banyak nikmat yang ia dapatkan. Betapa banyak karunia yang diberikan oleh Allah SWT, mulai ia lahir ke bumi ini, hingga ia pindah ke alam barzakh.

Meskipun begitu, sebagai insan yang beriman, sudah seharusnya ber-tadabbur, ber-tafakkur seberapa besar nikmat yang diberikan oleh Tuhannya, sebagai langkah awal untuk menuju rasa syukur kepada-Nya.

Surat Ar-Rahman menyampaikan betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, oleh sebab itu surat ini mengulang sebanyak 31 kali ayat:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  ۞

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Beberapa nikmat besar disampaikan pada Surat Ar-Rahman ayat 1-4:

اَلرَّحْمٰنُۙ ۞ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ ۞ خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ ۞ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ ۞

“(Allah) Yang Maha Pengasih (1), Yang telah mengajarkan Al-Qur’an (2), Dia menciptakan manusia (3), mengajarnya pandai berbicara (4)”. (Q.S. Ar-Rahman [55]: 1-4)

Syekh Ahmad As-Shawi dalam Hasyiyah As-Showi ‘ala Tafsir Jalalain menyampaikan :

وَافْتَتَحَ هَذِهِ السُّوْرَةَ بِلَفْظِ ( الرَّحْمَنُ ) إِشَارَةً اِلَى أَنَّهَا مُشْتَلِمَةٌ عَلَى نِعَمٍ عَظِيْمَةٍ، وَذَالِكَ لِأَنَّ الرَّحْمَنُ هُوَ الْمُنْعِمُ بِجَلَائِلِ النِّعَمِ كَمًا وَكَيْفًا

Artinya : ‘Surat ini dimulai dengan lafadz الرَّحْمَنُ menunjukkan bahwa surat ini mencakup banyak nikmat yang besar, karena lafadz الرَّحْمَنُ bermakna Dzat yang memberi nikmat-nikmat besar, baik secara kualitas maupun kuantitas.’ (Syekh As-Shawi, Hasyiyah Showi ‘ala Tafsir Jalalain. [Beirut: Dar Al-Fikr, 2014] juz 4, hal. 125)

Imam Fakhrudin Ar-Razi, mengisahkan bahwa suatu hari Ibrahim bin Adham melihat ada burung Gagak mengambil potongan roti. Beliau pun terheran dan mengikuti burung tersebut, ternyata burung tadi membawa potongan roti dan memberikannya pada seorang lelaki yang kedua tangannya terikat.

Dari kisah ini Imam Ar-Razi menggarisbawahi, bahwa sifat الرَّحْمَنُ sangat luas, bahkan terhadap burung gagak pun Allah Swt memberinya sifat rahmat(kasih sayang). Dan sifat الرَّحْمَنُ adalah salah satu asmaul husna yang khusus hanya bagi Allah Swt. (Imam Ar-Roziy, Tafsir Kabir, [Kairo : Dar Al-Hadits,2012] juz 1, hal. 261)

Dua Nikmat Besar Pada Manusia

Pertama, nikmat terbesar yang disampaikan dalam surat Ar-Rahman adalah diajarkannya Al-Quran, karena Al-Quran adalah wahyu Allah Swt yang paling mulia, dan diberikan kepada Nabi yang paling mulia pula. Menurut Syekh Sulaiman Al-Jamal di dalam Tafsir Jamal menjelaskan lafadz علم mempunyai dua objek; Al-Quran, dan objek yang satunya dibuang (mahdzuf), yaitu lafadz الإنسان (yang bemakna semua manusia). (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Tafsir Jamal, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, 2013] juz 7, hal. 361)

Walhasil, ayat kedua ini menyampaikan ; Allah Swt, dengan sifat Maha Kasih sayangNya menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw, untuk kemudian diajarkan kepada semua umat manusia, guna dijadikan pedoman dalam kehidupan mereka.

Kedua, setelah menyampaikan nikmat terbesar berupa diajarkannya Al-Quran, ayat ketiga dan keempat dalam Surat Ar-Rahman menjelaskan nikmat besar selanjutnya, yaitu tercipta sebagai manusia. Syekh Wahbah Az-Zuhailiy menjelaskan sebagai berikut :

اَلنِّعْمَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ خُلِقَ جِنْسُ الْإِنْسَانِ لِإِعْمَارِ الْكَوْنِ، وَتَعْلِيْمُهُ الْبَيَانَ أَيْ اَلْكَلَامَ وَالنًّطْقَ وَالْفَهْمَ، وَهُوَ مِمَّا فَضَّلَ بِهِ الْإِنْسَانَ عَلَى سَائِرِ الْحَيَوَانِ

“Nikmat yang kedua dan ketiga adalah diciptakan sebagai manusia, untuk meramaikan dunia, dan mengajarkannya bayan, yaitu berbicara dan kefahaman, hal itu termasuk salah satu yang dianugerahkan kepada manusia, tidak kepada hewan.” (Syekh Wahbah Az-Zuhailiy, Tafsir Munir, [Beirut : dar Al-Fikr, 2018], juz 14, hal. 215)

Dari sini kita bisa mengampil kesimpulan bahwa surat Ar-Rahman ayat 1-4 menjelaskan dua nikmat besar yang diberikan kepada kita, yaitu Al-Quran, sebagai pedoman hidup, dan diciptakan sebagai manusia yang mampu berfikir guna memahami ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyyah.

Telaahan Mendalam atas Ayat 1-4

Saudaraku yang terkasih, bahwa Surat Ar-Rahman secara keseluruhan membeberkan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia agar manusia bersyukur. Allah tegaskan nikmat-nikmat tersebut berkenaan sifat manusia yang cenderung kufur atasnya.

Padahal sebenarnya, dalam fi’il (perbuatan) syukur terdapat rahasia-rahasia ilmu yang Allah bukakan bagi mereka yang melakukannya. Allah membuka Surat Ar-Rahman dalam ayat 1 dengan kata “Ar-Rahman” (Maha Pengasih). Dalam ayat 2-nya, Allah menegaskan bahwa “Ar-Rahman“-lah yang mengajarkan Al-Qur’an.

Lalu dalam ayat 3-nya Allah menegaskan kembali bahwa “Ar-Rahman” pulalah yang menciptakan manusia (Insan). “Ar-Rahman” pulalah yang membeberkan penjelasan (bayan) tentang alam semesta secara rinci (ayat 4). Kata “bayan” dalam ayat 4 itu memunculkan secara ijmali (global) bunyi ayat selanjutnya yang berbicara tentang matahari, bulan, buah-buahan, pepohonan, lautan, dst., hingga akhir surat.

Lalu bagaimana penjelasan-penjelasan rinci dalam kata “bayan” bisa dipahami menjadi sebuah ilmu?

Pertanyaan tersebut tidaklah dapat dijawab kecuali seseorang diajarkan langsung oleh “Ar-Rahman“, berkaitan dengan prilaku “syukur” yang dicontohkan “Ar-Rahman“. Karena akhlaq “Ar-Rahman” adalah kata kunci untuk bisa mencerap ilmu.

Dalam Nama “Ar-Rahman” melekat kepada-Nya sifat-sifat kepengasihan. Af’al (Perbuatan) “Ar-Rahman” adalah wujud pengajaran dan bimbingan “syukur” bagi hamba-Nya. Menyelaraskan diri dengan “af’al Ar-Rahman” akan mendatangkan bimbingan-bimbingan yang akan membuka rahasia-rahasia keanekaragaman alam semesta.

Betapapun metode ibadah yang dijalankan oleh seorang hamba, jika ia tidak meneladani sifat-sifat dari “Ar-Rahman“, maka ibadahnya tidak dikategorikan sebagai bentuk “syukur”. Berhubung sifat syukur itu membutuhkan implementasi yang di dalamnya ada nilai-nilai pengorbanan yang tulus dan sifat-sifat kepengasihan yang ikhlas.

Al-Qur’an adalah ijmali (universal), sedangkan “Bayan” adalah tafshili (pemerincian)nya yang terdiri dari seluruh alam semesta. Insan adalah mikro-kosmos sedangkan alam semesta adalah makro-kosmos. Mikro-kosmos dan makrokosmos secara mekanis sama saja. Di dalam mikro-kosmos akan dapat menampung keanekaragaman dalam makro-kosmos.

Di dalam diri Insan terdapat kesemestaan yang dapat mempengaruhi gerak mekanis alam semesta. Bukan alam semesta yang mengajarkan Insan, tapi Ar-Rahman. Melalui pengajaran itulah, maka pandangan mata (‘ainul bashirah) Insan dapat memproyeksikan alam semesta secara terperinci. Karena itu, akhlaq “Ar-Rahman” sebagai kata kunci untuk bisa membuka khazanah itu harus bisa diimplementasikan oleh seorang Insan.

Khazanah ilmu yang diajarkan oleh Ar-Rahman kepada Insan yang meneladani sifat-sifat-Nya adalah realitas ilmu laduniy yang diajarkan langsung. Mengapa demikian? Karena Insan yang “bersyukur” adalah Insan yang tidak lagi mengklaim tentang keberadaan dirinya sendiri. Ia telah tenggelam dalam Ar-Rahman yang menjadikan pengorbanan dan kepengasihan sebagai teladan.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...