Thursday , December 9 2021
Home / Agama / Improvisasi Salik / Ilâhî Anta Maqshûdi wa Ridlhâka Mathlûbî

Ilâhî Anta Maqshûdi wa Ridlhâka Mathlûbî

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, suatu kalimat “sakti” yang mendedahkan hubungan fisis-metafisis manusia dengan Tuhan telah menegaskan sebuah “pola” yang memetakan sikap dan prilaku fisik manusia.

Sebuah kalimat “sakti” yang menjadi statement kesadaran yang kemudian berlaku sebagai “kompas” dalam memandang dan memperlakukan keanekaragaman dunia (katsrah).

Sebuah kalimat “sakti” yang oleh para sufi sering digandeng (sebelum atau sesudahnya) dengan kalimat negasi-afirmasi, lâ ilâha illâ Allâh, sehingga ‘aman’ dari sikap ambigu dan mendua dalam menjalankan titah. Bahkan semakin menegaskan sebuah kenyataan tentang sifat nisbiynya manusia dan mansubnya Allah SWT. Kalimat itu berbunyi:

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِي، وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ، آتِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ ۞

Ilâhî Anta Maqshûdi wa Ridlhâka Mathlûbî, Ȃtinî Mahabbataka wa Ma’rifataka

“Tuhanku, Engkaulah Maksudku, dan Ridha-Mu permohonanku, datangkanlah kepadaku rasa mencintai-Mu dan mengenal-Mu”.

Transliterasi Jawanya kurang lebih:

“Duh Pengeran ingsun, Utawi Tuan iku Dzat kang den sejo ingsun, lan utawi ridlone Tuan iku Barang kang den suprih ingsun, mugi paring Tuan ing ingsun ing roso demen ing Tuan ing roso demen Tuan (ing ingsun) lan ing ma’rifat ing Tuan”.

Kata-kata ini merupakan dzikir utama dari Prinsip Keenam Tarekat Naqsybandi yang disebut Baz Gasht atau “Kembali” (kepada Allah SWT). Diriwayatkan oleh Hadhrat Mawlana Syekh `Abd al-Khaliq al-Ghujduwani (semoga Allah mensucikan rahasianya) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW secara langsung melalui keadaan spiritual tanpa hijab (kasyf) dengan tanpa melalui mata rantai transmisi.

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (semoga Allah mensucikan rahasianya) mengatakan di dalam bukunya The Golden Chain:

Baz Gasht adalah suatu keadaan di mana seorang salik, yang berzikir dengan negasi dan afirmasi (penyangkalan dan penegasan), sampai pada pemahaman akan ungkapan Nabi Suci; Ilâhî Anta Maqshûdi wa Ridlhâka Mathlûbî”.

Pembacaan dari ungkapan ini akan meningkatkan kesadaran sang salik tentang Ke-Esaan Allah, sampai ia mencapai keadaan di mana keberadaan semua ciptaan (makhluk) lenyap dari pandangan matanya. Semua yang dilihatnya, ke manapun ia memandang, adalah Allah ash-Shamad.

Jika dipreteli secara literal, akan nampak sebuah kesadaran dimana Tuhan dan hamba hanyalah dibatasi dengan “kain tipis” yang disebut sebagai barzakh (alam antara). Karena itu, muncullah subyek ana (aku) dan obyek anta (Engkau). Padahal sebenarnya, subyek dan obyek itu, keduanya bukanlah sebuah dualitas ganda. Hakikat Wujud tetaplah satu.

Dualitas ganda adalah kenyataan makhluk yang tetap diperlukan sebagai konskwensi logis dari munculnya prilaku-prilaku manusiawi di dunia yang dinisbahkan kepada Allah SWT. Dari sisi makhuk, dualitas ganda yang memunculkan subyek dan obyek tersebut pada kenyataannya tetaplah antar-makhluk (katsrah).

Jika dipreteli, pemerincian kalimat itu menampakkan alam antara (barzakh) yang terdapat pada kata “Anta”. Sebab kata “Anta” adalah ism al-isyarah (kata tunjuk) yang menunjukkan dualitas ganda, dan itu hanya ada antar-alam antara (antar-barzakh: makhluk dengan makhluk). Namun, tidak semua makhluk mencapai titik barzakh, sebab titik itu berada pada kesadaran tertinggi manusia. Hal inilah yang perlu disadari.

Kalimat Ilâhî Anta Maqshûdi harus dibawa pada kesadaran barzakh, atau setidaknya memotivasi prilaku manusia untuk sampai pada kesadaran itu. Kalimat tersebut bukanlah ucapan kosong yang tanpa prilaku. Ia akan mewujud sebagai prilaku manusia yang sadar total (fully aware). Walhasil, dalam kenyataan tauhid, prilaku manusia tersebut adalah sebagai Af’alullah (prilaku Allah).

Ambilah sebagai contoh konkret dari sebuah prilaku yang dinisbahkan pada kesadaran “Ilâhî Anta Maqshûdi”, misalnya shadaqah. Pada kenyataannya, prilaku memberi dalam shadaqah adalah dari makhluk diberikan kepada makhluk. Pada kenyataan inilah, kata “Ana-Anta” sebagai subyek-obyek menunjukkan dualitas ganda, tapi pada kesadaran barzakh, subyek-obyek itu menjadi tiada; si pemberi dan yang diberi (subyek-obyek) hanyalah satu, yakni Allah juga. Kenyataan ini dapat diungkap dengan kata-kata: “Aku memberi shadaqah dengan Aku kepada Aku”. Jadi lieur kitu nyak. Tapi, itulah fakta tauhidnya.

Dalam kesadaran tauhid, ketika muncul krenteg ati (suara hati) yang memerintahkan untuk bershadaqah, maka hal itu adalah perintah-Nya. Dia yang memerintahkan untuk bershadaqah, Dia pula yang memberikan daya untuk melakukan perbuatan bershadaqah, Dia pula yang menunjukkan obyek yang diberi. Dari Dia, oleh Dia, kepada Dia. Semua prilaku manusia, baik dari segi ucapan maupun perbuatan, dalam kesadaran tauhidnya harus dikonsepsikan pada barzakh.

Sebab makna kata “Ilâhî” dan “Maqshûdi” dalam penglihatan makhluk takkan pernah tampak, yang tampak justru adalah “Ana” dan “Anta”. Begitu juga makna dalam kata “Ridlhâka” dan “Mathlûbî”, semua berada pada kegaiban, yang tampak nyata di mata makhluk adalah “aku” dan “engkau”. Aku yang memberi dan engkau yang menerima, aku yang melihat dan engkau yang dilihat, aku yang menolong dan engkau yang ditolong. Jika prilaku tersebut tanpa disertakan kesadaran barzakh, sungguh manusia telah terjebak pada prilaku sombong.

Saudaraku terkasih, dalam kesadaran barzakh, manusia diajarkan secara perlahan dan penuh kelembutan untuk mencintai-Nya dan mengenal-Nya. Hal ini pun tak terlepas dari konsep barzakh juga; Dia yang mendatangkan hasrat cinta, Dia yang memberikan daya untuk mencinta, Dia yang mencinta dan Dia pula yang dicinta. Dia yang mendatangkan hasrat untuk mengenal, Dia yang memberikan daya untuk berada pada prilaku mengenal, Dia yang mengenal dan Dia pula yang dikenal. Ȃtinî Mahabbataka wa Ma’rifataka.

Syaikh Abu Yazid al-Bisthami mengatakan: “Ketika aku mencapai Dia aku melihat bahwa ingatan Dia (kepadaku) mendahului ingatanku kepada-Nya.”

Saudaraku terkasih, semoga Allah subhânahû wata’âlâ mengaruniai kita rahmat dan berkah dari Maqam Mahabbah yang dicapai oleh guru-guru kita dan semoga Allah subhânahû wata’âlâ mensucikan rahasianya yang tinggi dan mulia, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِيْ يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ ۞

Allâhumma innî as`aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal ladzî yuballighunî hubbaka. Allâhummaj‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa minal mâ’il bârid

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin (di padang yang tandus)”. (HR. Tarmidzi)

Wallâhu A’lam.

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...