Sunday , May 9 2021
Home / Agama / Kajian / Ihwal Ibadah Puasa Menurut Ibnu Arabi

Ihwal Ibadah Puasa Menurut Ibnu Arabi

Oleh: Harun Nur Rosyid

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Rasulullah Saw. bersabda meriwayatkan dari Allah Ta‘ala bahwasanya Dia berfirman,

كُلُّ عَمَلٍ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمُ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya”. (Shahih Muslim).

Rasulullah Saw. juga bersabda kepada seseorang,

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya” (an-Nasa’i, Shiyam 2220).

Allah Swt. juga berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ

Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11).

Puasa adalah sifat Samdaniyyah (sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah Swt. sebagai Maha Tempat Bergantung), yakni pelepasan dan penyucian dari makanan. Hakikat makhluk menuntut adanya makanan. Ketika hamba hendak menyifati sesuatu yang bukan termasuk bagian dari hakikatnya untuk bisa ia sifati, dan ia menyifatinya hanya karena tuntunan syari‘at berdasarkan firman Allah swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“…Telah ditetapkan bagi kalian puasa sebagaimana telah ditetapkan bagi orang-orang sebelum kalian…” (QS. 2: 183), maka Allah Swt. berfirman padanya, “Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu!”—dengan kata lain, “Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum. Dan jika puasa adalah seperti itu dan yang membuatmu memasukinya adalah karena Aku mensyari‘atkannya padamu, maka Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.

Seakan-akan Allah swt. mengatakan kepada orang yang berpuasa, “Akulah yang menjadi imbalannya, karena Akulah yang dituntut oleh sifat pelepasan dari makanan dan minuman, tetapi engkau melekatkan sifat itu padamu wahai orang yang berpuasa, padahal sifat itu bertentangan dengan hakikatmu dan bukan milikmu. Karena engkau bersifat dengannya ketika engkau berpuasa, maka sifat itu memasukkanmu kepada Diri-Ku. Kesabaran (yang ada dalam puasa) adalah pengekangan bagi jiwa, dan engkau telah mengekangnya atas perintah-Ku dari mengonsumsi makanan dan minuman yang diperbolehkan oleh hakikatnya.”

Karenanya Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka”— ini adalah kegembiraan untuk ruh hewaninya, bukan yang lain—“dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabbnya”—dan ini adalah kegembiraan untuk jiwa rasionalnya (an-nafs an-nāṭiqah), yakni sisi lembut Rabbaninya (al-laṭīfah ar-rabbāniyyah). Puasa memberinya pertemuan dengan Allah Swt., yakni musyahadah atau penyaksian.

Berdasarkan hal ini, puasa lebih tamam dan lengkap dibandingkan shalat, karena puasa menghasilkan pertemuan dengan Allah dan penyaksian-Nya. Shalat adalah munajat, bukan musyahadah, dan terdapat hijab yang menyertainya.

Sesungguhnya Allah swt. berfirman,

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَآءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Tidak ada seorang manusia pun yang Allah berbicara dengannya kecuali dalam bentuk wahyu atau dari belakang hijab…” (QS. 42: 51).

Allah Swt. menyertai pembicaraan dengan-Nya melalui hijab, dan munajat adalah percakapan serta pembicaraan. Dia berfirman, “Aku membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Hamba berkata: Alḥamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’.”

Sementara itu, tidak ada pembagian dalam puasa. Ia hanya milik Allah swt. dan bukan milik hamba. Tetapi hamba memperoleh imbalan dan ganjarannya dikarenakan puasa itu sendiri adalah milik Allah swt.

Di sini terdapat sebuah rahasia nan mulia, yakni musyahadah dan munajat tidak akan pernah bisa bersatu. Musyahadah membuat orang terpana, sementara percakapan memberikan pemahaman. Dalam sebuah perbincangan, engkau lebih memperhatikan apa yang sedang dibincangkan, bukan orang yang sedang berbicara, siapapun atau apapun itu. Karena itu, pahamilah Al-Qur’an niscaya engkau akan memahami Al-Furqan.

اللّٰهُمَّ سَلِّمْنَا إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لَنَا رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, antarkanlah kami hingga sampai kepada Ramadhan, antarkanlah Ramadhan kepada kami, dan terimalah amal-amal kami di bulan Ramadan.”

Dinukil dari: Al-Futuhat Al-Makkiyyah, Syeikh Ibnu ‘Araby, jilid 4 bab 47, terjemahan Harun Nur Rosyid
Source: Alif.Id

About admin

Check Also

Makna “Tampak Saking”

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...