Home / Agama / Kajian / Idul Fitri, Meniti Jalan ke dalam Diri

Idul Fitri, Meniti Jalan ke dalam Diri

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sekurang-kurangnya, jalan menuju hari raya ‘idul fitri adalah berpuasa di Bulan Ramadan. Disebut jalan, sebab di dalam puasa, memungkinkan dan tercakup makna bahwa seseorang akan menjumpai ‘idul fitri, yang umumnya dipahami sebagai kembali ke kesucian, atau suci kembali.

Meskipun, memang, bukan hanya berpuasa, cara untuk memasuki ‘idul fitri. Namun, puasa, ibarat strategi, adalah jalan utama menembus dan bergerak ke alam ke-‘idul fitri-an.

Di dalam konteks tulisan ini, mengikuti Hans Georg Gadamer, bahwa “kesalahpahaman bermula dari kesepahaman. Jadi, problem utama penafsiran terhadap realitas bukan pada kesalahpahaman, melainkan pada kesepahaman” (F. Budi Hardiman, dalam “Kelas Filsafat”, Seni Memahami: Hermeneutika Filosofis Hans Georg Gadamer, di Serambi Salihara, Jakarta, 25 Februari, 2014).

Lantas, mengapa manusia justru berambisi punya kehendak untuk mencapai kesepahaman? Bukankah hasrat akan kesepahaman, malah menyorongnya gagap untuk bertatapan dengan realitas?

Di dalam tulisan ini, saya justru berharap, bahwa pembaca untuk tidak sepaham dengan apa yang saya pikirkan perihal makna ‘idul fitri. Di samping bertolak belakang dengan senyatanya antar individu dengan yang lain, yang adalah unik. Juga malah akan mendangkalkan kebermaknaan peristiwa ‘idul fitri sebagai momen eksistensialnya, bagi tiap individu. Karena setiap manusia itu tercipta khas, maka perbedaan pemahaman dan penafsiran, justru itu yang patut dan layak untuk dirayakan.

Sebab, hal itu akan memperkaya pemahaman kita tentang realitas. Dengannya, dimungkinkan gairah menjelajahi cakrawala pengetahuan yang tiada batas. Termasuk, mendiami untuk tahan (Jawa: kerasan) momen atas rasa dikejar-kejar, akan membuat tahu terhadap realitas makna hidup. Itulah kenyataan dari primordialitas jiwa manusia. Juga, hal tersebut sebagai strategi memasuki ke-‘idul fitri-an dari dalam diri kita masing-masing.

Istilah ‘idul (Arab: ‘âda: kembali, mengulangi, mengunjungi) dan fitri (Arab: fa-tha-ra: merobek, membelah, tumbuh), kiranya menarik untuk ditelaah lebih mendalam. Sehingga, makna ‘idul fitri, bukan hanya soal perayaan pesta-pora, baju baru, kunjungan ke sanak-saudara, tempat wisata, yang sudah jadi klise, melainkan sebagai wahana meningkatkan ketaqwaan.

Dalam sebuah syair Arab dikatakan,

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدُ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

laisal ‘îd li man labisal jadîd. Innamal ‘îd li man thâ’atuhû tazîd

“Bukanlah disebut idul fitri itu yang berbaju fenomenal, melainkan yang disebut idul fitri itu yang kepatuhannya senantiasa aktual”.

‘Idul fitri secara klise diartikan sebagai ‘kembali ke kesucian’. Apa yang suci? Dan mengapa meski kembali suci? Kalau ada pengandaian terhadap yang suci, tentu sebelumnya ada yang kotor. Kotor dari apa? Mengapa bisa menjadi kotor?

Nah, dalam tulisan ini, saya berupaya memaknainya lebih lanjut. Mudah-mudahan dapat menyegarkan pemahaman. Pertama, tulisan ini akan menyingkap makna ‘idul. Kedua, membahas makna fitri. Ketiga, cara untuk terus merawat ke-‘idul-fitri-an sebagai bekal di dalam keseharian hidup, yang bukan hanya pada perayaan hari raya ‘idul fitri saja.

***

Ungkapan ‘idul fitri telah menjadi pernyataan umum. Bahkan, begitu seringnya istilah ‘idul fitri, peristiwa tersebut terasa klise dan lebih mengemuka kepada soal pesta-pora layaknya festival. Memang, hari raya ‘idul fitri tidak salah kalau dirayakan dengan berpesta-pora. Namun, bila mau berefleksi sejenak, apakah inti utama makna ‘idul fitri tersebut? Dalam kata‘idul (Arab: ‘âda) terkandung tiga makna, yakni; kembali, mengulangi, dan mengunjungi. Juga, istilah fitri (Arab: fa-tha-ra) tercakup tiga ungkapan makna yakni, merobek, membelah, dan tumbuh. Kita singkap makna tersebut satu persatu.

Pertama, kita jelajahi kata ‘idul dalam makna kata kembali, yang coba kita komparasikan kata fitri dalam makna kata merobek. Manusia di dalam perjalanan hidupnya, hari demi hari, minggu, bulan dan tahun, tidak lekang oleh batu sandungan yang bernama dosa atau kekeliruan. Makna dosa di dalam hadis dinyatakan bahwa al-ism ma khaka fi qolb (dosa adalah yang membuat gelisah di dalam hati).

Nah, apa sesungguhnya yang memungkinkan hati manusia merasakan ketidak-nyaman? Ketidak-tenangan qalb (Arab: qa-la-ba: yang berbolak-balik) itu berakar dari noda yang bernama rasa aku atau merasa ada aku, yang mendorong manusia untuk mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Itulah akar dari segala dosa dan kekeliruan.

Rasa akan diri atau rasa akan aku merupakan pemicu pelbagai penyakit batin; takkabur (mengagungkan diri, sehingga merebut keagungan-Nya), ‘ujub (mengagumi diri sendiri), riya (tidak merasa cukup dilihat-Nya), sum’ah (tidak merasa cukup di dengar-Nya) dan seterusnya.

Karenanya, nafs (jiwa) manusia mesti di-’idul-kan (dikembalikan) ke posisi awal. Posisi bahwa yang ber-haq meng-aku ada dan yang ber-haq atas semua kepentingan nafs sudah semestinya seirama dengan qudrah (kehendak) dari Sang Pemilik segala Jiwa (rabbul ‘âlamîn).

Karenanya, perlu dirobek (fitri) sang aku yang berkecenderungan kepentingan akan diri sendiri, sehingga menjadi sempit nafs seseorang. Akar dari segala perselisihan, pertentangan, dan pergesekan, dan pertengkaran antar individu manusia dengan yang lain, terletak kepada soal sang aku yang condong ke-diri-an dan ke-ego-an. Inilah yang harus dirobek, sehingga kembali menjumpai posisi semula, di saat awal penciptaan. Itulah, yang disebut menjumpai ‘idul fitri.

Kedua, kita telaah kata ‘idul dengan makna mengulangi, yang dikomparasikan dengan istilah fitri dalam arti membelah. Keikhlasan bisa bermakna, mengikuti ungkapan seorang guru, “hati senang melakukan, dada lapang menerima”. Memang, hakikat keikhlasan itu rahasia Allah,

الْإِخْلَاصُ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِيْ أَسْتَوْدِعُهُ قَلْبَ مَنْ أَحَبَّ مِنْ عِبَادِيْ ۞

Al-ikhlâshu sirrun min asrârî, astaudi’uhû qalba man ahabba min ‘ibâdî

“Keikhlasan itu adalah salah satu dari rahasia-rahasia-Ku, Aku titipkan pada hati yang mencinta dari kalangan hamba-hamba-Ku”. (Hadits Qudsiy)

Namun sekurang-kurangnya, kesadaran kita bisa mencicipi rasa ikhlas tersebut, bila ke-aku-an kita terbelah, sehingga perlu untuk mengulangi peristiwa membelah atau pembelahan diri tersebut.

Aktivitas ber-puasa (Sansekerta; upa: mendekati, Wasa: Yang Maha Kuasa. Maka, puasa itu mendekat terus ke Yang Maha Kuasa) merupakan upaya untuk terus-menerus ke jalan-Nya dengan pendekatan berupa pengabaian rasa akan aku, mengurangi makan, mau peduli kepada orang lain, dan sekaligus mengingat-Nya, untuk mengulangi peristiwa, bahwa seluruh jiwa manusia berasal dari dan akan kembali kepada-Nya.

Sehingga, makna ber-puasa adalah cara untuk membelah diri sebagai jalan mengulangi peristiwa ke ‘idul fitri. Sebab di dalam keterbelahan diri, yang isinya adalah jiwa semua umat manusia, bisa bertemu dan berjumpa di dalam rasa kasih-sayang, keugaharian, kejujuran dan seterusnya.  Itulah hakikat makna ‘idul fitri.

Ketiga, istilah ‘idul dalam makna mengunjungi dan fitri dalam arti tumbuh. Karena sang diri di dalam keseharian hidup berputar-putar di jalan yang sempit (artinya urusan kepentingan diri membuat jiwa manusia sempit). Kiranya perlu mengunjungi dan berselancar di alam keluasan yang memang asal mula dari segala roh yang tertanam di tubuh kita masing-masing. Oleh sebab terlalu lekat dengan kepentingan tubuh, yang merupakan kepentingan nama diri, harga diri, membuat roh manusia tidak bisa tumbuh (fitri).

Karenanya, ‘idul fitri di dalam makna yang ketiga ini memungkinkan untuk mengunjungi kembali alam keluasan, ketidak-terbatasan, yang darinyalah roh manusia menjadi tumbuh. Nah, soal yang muncul adalah, bagaimana agar terus-menerus roh manusia itu tumbuh, sehingga menjumpai ke-‘idul fitri-an secara kontinu tetap bisa terawat?

***

Di dalam kitab Syarhul Hikam karya Ibnu ‘Ubbad an Nafari ar Raundy (Jus-2, hlm. 4) atas karya al-Hikam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandary, dinyatakan bahwa ada lima rahmat atau akhlak ilâhiyah (perilaku Ketuhanan), yang bila dipraktekkan, seseorang akan mendapatkan keselamatan dari ujian (fitnah) tentang hawa-nafs (kecondongan akan nama diri, bangga diri).

Dalam konteks ini, bisa bermakna bahwa, seseorang akan menjumpai ke-‘idul-fitri-an atas dirinya, bila mencerap lima akhlak ilahiyah. Apa itu akhlak ilahiyah? Ialah perilaku ketuhanan yang menyata di dalam kehidupan ini.

Pertama, yarhamul mudznibîn. Maknanya, punya rasa welas-asih kepada orang-orang yang berbuat salah dan dosa. Ia tidak membenci orang-orang yang diposisikan oleh Allah di dalam kubangan dosa. Dirinya justru diberi rasa welas-asih oleh-Nya, sehingga terdorong untuk mengajak dan merangkul para pendosa, yang telah bertindak melawan kodrat nuraninya sendiri, untuk diajak kembali ke pintu ampunan-Nya dengan jalan hikmah, lemah-lembut, dan penuh kesantunan, tanpa sama sekali terbersit kebencian.

Ungkapan yarhamu (Arab: ra-hi-ma: kasih) berbelas-kasih kepada mudznibîn (Arab: dza-na-ba: bersalah), yang sesungguhnya memang ditampakkannya orang yang bersalah dihadapannya, sebagai bukti bahwa manusia yang diperlihatkannya, juga tidak luput dari kesalahan. Berbelas kasih-sayang kepada mudznibîn merupakan jalan untuk menempuh ke-‘idul-fitri-an dari sang diri. Inilah sebetulnya tanda orang yang beriman kepada-Nya. Surat Maryam (19): ayat 96, menyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا ۞

Innal ladzîna âmanu wa ‘amilush shâlihâti, sayaj’alu lahumur rahmânu wuddâ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”.

Kedua, yahlumu ‘aladz dlimîn. Bersikap sabar dan mudah memaafkan (halîm) atau bertindak, dalam istilah bahasa Jawa disebut bersikap arif, kepada orang-orang yang berlaku dzalim (Arab: dza-la-ma: orang yang berlaku buruk, sebab terhijab oleh sifat buruk yang ada pada dirinya, sehingga gelap kepada dirinya). Bagaimana bertindak halîm itu dimungkinkan?

Orang yang berbuat dzalim kepada kita (contohnya, ada barang milik kita yang dicuri), hakikatnya dia sedang memasuki wilayah gelap oleh sebab dorongan hawa-nafs yang mengajaknya bertindak keliru. Mengapa disebut gelap? Sebab semua manusia diciptakan dari Nur Muhammad (cahaya kemuliaan), yang kodratnya bersikap Shiddîq, Amanah, Tabligh, dan Fathânah.

Dalam Hadits Qudsiy dinyatakan bahwa,

أَنَا مِنَ اللّٰهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ مِنِّيْ ۞

Anâ minallâhi wal mu’minûna minnî

“Aku (Muhammad) berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku”

Artinya, cahaya mukmin itu tercipta atau bagian dari percikan Nur Muhammad. Sedangkan Nur Muhammad itu dari Allah. Karena cahaya mukmin yang bersemayam di dalam setiap dada manusia itu terhalang oleh hawa-nafs (dorongan akan ke-ego-an), syaitan (kehendak untuk menyimpang), dan nafs duniawi (kehendak akan yang material), memungkinkan orang bertindak dzhalim, kepada dirinya sendiri (mengingkari sifat mukmin) juga bertindak dzhalim kepada orang lain (fasik), sehingga merusak roh mukmin yang tertanam di dadanya.

Karenanya, bertindak sabar (Arab: sha-ba-ra: berlaku cermat, tidak menggeneralisir) dan kehendak mudah memaafkan, merupakan jalan untuk kembali meng-‘idul fitri-kan dirinya sekaligus diri kita. Sebab dirinya dan diri kita itu dari yang satu (Nur Muhammad/cahaya kemuliaan).

Ketiga, yafshakha ‘anil jâhillin. Ini bermakna, bersikap lapang dan luas hati (Arab: sha-fa-kha: melebarkan) kepada orang-orang yang belum tahu. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad, bahwa;

اللّٰهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ۞

Allâhummahdi qaumî fa innahum lâ ya’lamûn

“Wahai Allah, tambahkanlah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka belum mengerti”.

Sifat kenabian yang mudah memaklumi, tidak memaksakan kehendak bagi yang belum tahu, juga memungkinkan jiwa kita kembali ke ‘idul fitri. Ke-jahil-an atau orang yang jahil (Arab; ja-hi-la: belum tahu) bukan diukur oleh intelektualitas. Jahil di sini bermakna orang, atau siapa saja, termasuk diri kita, yang melawan suara hati, atau cahaya iman, yang selalu jujur.

Suara iman yang ditanam oleh Allah di dalam roh diri manusia itu mempunyai empat sifat; Shiddîq, Amanah, Tabligh, dan Fathânah. Jadi, tingginya pangkat akademik, cakapnya tingkat intelektualitas seseorang, masih sangat mungkin terkena noda sifat jahil tersebut.

Artinya, sifat jahil itu senantiasa mengancam diri kita sendiri. Di sinilah, fungsi utama ber-dzikr. Itulah perlunya bertindak lapang kepada siapa saja yang terjebak sifat jahil, untuk diajak kepada sikap dasar dari roh keimanannya, atau suara hatinya yang jujur.

Bertindak shafhah (berlapang hati) kepada orang jahil, merupakan kategori ‘ibâdurrahmân. Sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an (al-Furqan [25]; ayat 63),

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ۞

Wa ‘ibâdur-raḥmânilladzîna yamsyûna ‘alal-ardhi haunaw wa idzâ khâthabahumul jâhilûna qâlû salâmâ

Hamba-hamba Tuhan Pemurah, ialah yang berjalan di atas bumi dengan hati yang rendah. Dan bila ditegur orang yang jahil, mengucapkan salam (dengan baik)”.

Bertindak salam kepada orang jahil, memungkinkan kita berefleksi bahwa orang tersebut tentunya digerakkan oleh Allah, justru untuk menunjukkan ke-jahil-an diri kita sendiri. Itulah sebabnya, kita diperintah oleh al-Qur’an itu bersifat salam kepada jahil. Karena hakikatnya, kita bersikap salam, bukan kepada orang yang jahil di hadapan kita, melainkan kepada yang menggerakkan dia (Tuhan kita semua) untuk menegur ke-jahil-an kita sendiri dan orang yang dihadapan kita.

Keempat, yuhsinu ila al-musî’în. Artinya, bertindak muhsin (Arab: ha-sa-na: bersikap baik) kepada orang-orang yang bertindak buruk kepada kita (Arab: sâ-a: tindakan buruk). Membalas tindakan baik kepada orang yang bertindak buruk kepada kita. Makna kebaikan di dalam terminologi Arab itu menarik untuk dijelajahi lebih mendalam.

Bila mengikuti epistemologi dari Emha Ainun Nadjib, terdapat beberapa hal makna kebaikan. Pertama, khair. Kebaikan universal yang bersifat cair. Ini tugas ulama (yad’ûna ilallâh  bil-khair). Kedua, ma’ruf. Kebaikan yang sudah disimulasikan menjadi undang-undang. Itulah tugas pemerintah (ya’murûna bil-ma’rûf). Ketiga, al-birru. Kebaikan yang bersifat vertikal, dicapai setiap orang (lan tanâlul birra hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn). Keempat, ihsân. Kebaikan yang lahir dan muncul dari kesadaran diri (inna allâha yuhibbul muhsinîn). Kelima, sholeh. Kebaikan yang dihitung akan kemungkinan minimalisasi keburukan. Semakin kecil kemungkinan keburukannya, semakin tinggi derajat kesalihan seseorang. Semakin besar kemungkinan keburukannya, semakin rendah derajat kesalihannya.

Bertindak ihsân kepada orang yang berlaku buruk (al-musî’în), dimungkinkan muncul dari rasa iman yang dipicu oleh roh mukmin (inner voice) di dalam diri kita. Membalas keburukan dengan kebaikan itulah kuncinya. Sebab orang yang berbuat buruk, hakikatnya muncul dari kurangnya pengetahuan akan yang baik. Akibat minusnya kesadaran tentang kebaikan, mendorongnya bertindak buruk, termasuk kepada dirinya sendiri, juga buruk kepada orang lain. Hanya dengan sikap baik, yang didorong oleh roh mukmin di dalam diri, sikap buruk seseorang akan bisa ditepis dan pelan-pelan akan memudar. Lantas, kembali menyadari kekeliruannya. Inilah, juga jalan untuk berkunjung ke ‘idul fitri  di dalam diri kita, yang disebut roh keimanan.

Kelima, yur’afu bi ‘ibâdillâhi ajma’în. Menaruh rasa belas-kasihan (Arab; ra-a-fa: belas kasihan atau santun) atau bersikap santun kepada seluruh makhluk Allah. Artinya, terhadap semua hamba Allah siapapun saja, direngkuhnya sekaligus diajak untuk memasuki rahmat dan kasih-sayang Allah yang tiada terbatas.

Ini bermakna, kalau menjumpai hamba Allah yang dalam kubangan dosa dan kesalahan, diajak dan dikabarkan, bahwa ampunan dari Allah lebih luas dan lebih besar dari dosa yang dilakukan, sehingga terhindar dari rasa putus asa. Bila bertemu orang-orang yang bertindak baik, diajak untuk tetap bersyukur bahwa karunia bertindak baik itu hakikatnya muncul dari kehendak Allah. Sehingga, akan tetap bisa rendah hati dan santun kepada siapa pun.

Sebagai penutup, mengutip ungkapan Imron Jamil, di dalam ulasannya tentang kitab al-Hikam karya Ibnu ‘Athâillah as-Sakandary, dengan meringkas dari kelima akhlak ilâhiyyah (perilaku ketuhanan) tersebut, sebagai jalan memasuki ke alam peristiwa ‘idul fitri, untuk terus-menerus dirayakan, di dalam praktek keseharian hidup.

Kesiji. Nek enek uwong doso, dewe e gak gething tapi welas. Keloro, nek enek uwong dzolim dewe e gak kepingin males tapi aris. Ketelu, nek enek uwong bodo gak ngerti, dewe e gak terlalu menuntut tapi malah ngapuro neng ngone uwong seng gak ngerti kuwi. Kepapat, nek enek uwong seng berbuat jahat marang dewe e, dewe e males apik. Kelimo, terhadap hambanya Allah siapa pun saja, dia berusaha untuk merengkuh mereka, diajak bersama-sama memasuki kasih-sayang Allah”.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

Oleh: Ahmad Jauhari, Penulis dan Editor Freelance, Dosen Tamu di UPY PGRI, STAI ALMA-ATTA, dan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Asisten Dosen di Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...