Home / Agama / Kajian / Hidup dan Matinya Seseorang Terlihat dari Dzikir

Hidup dan Matinya Seseorang Terlihat dari Dzikir

Oleh: Nashih Nashrullah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Dzikir mempunyai sejumlah keutamaan untuk Muslim

Dzikir adalah puji-pujian kepada Allah SWT yang diucapkan berulang-ulang. Dengan berdzikir, seseorang mengingat Allah SWT. Dzikir juga sebagai sarana manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa orang yang tidak berdzikir bagaikan orang mati. Sebaliknya orang yang berdzikir disebut sebagai orang yang hidup.

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ »

Dari Sayyidina Abu Musa radhiyallahu anhu, baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah SWT dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah SWT seperti orang yang hidup dan orang yang mati (orang yang berdzikir adalah seperti orang yang hidup, dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang mati).” (HR Imam Bukhari, Muslim, dan Baihaqi dari Kilab Durrul Mantsur dan Misykat)

Dilansir dari buku Fadhail Dzikr yang disusun Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi rahmatullah alaih dan diterjemahkan Tim Penerjemah Kitab Fadhilah Amal Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta, diterbitkan Pustaka Ramadhan, disebutkan bahwa setiap orang sangat menyukai kehidupan dan takut kematian.

Sebagian ulama mengatakan, hadits di atas menjelaskan tentang keadaan hati, yakni, orang yang selalu berdzikir hatinya hidup, sedangkan orang yang tidak berdzikir hatinya mati.

Sebagian ulama menulis bahwa analogi dalam hadits di atas adalah dari segi untung dan ruginya. Siapapun yang menyakiti orang yang berdzikir, seolah-olah dia menyakiti orang hidup yang mampu membalas, sehingga orang yang menyakitinya akan menerima balasan. Siapapun yang menyakiti orang yang tidak berdzikir, seolah-olah ia menyakiti orang mati yang tidak mampu membalas.

Ahli Dzikir akan Selalu Hidup

Para ulama tasawuf mengatakan bahwa yang dimaksud seperti orang yang hidup adalah orang ahli dzikir akan selalu hidup tidak akan mati. Maksudnya, orang yang memperbanyak dzikir dengan ikhlas tidak akan mati, kematiannya hanya perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Sebagaimana firman Allah SWT.

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللّٰهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ۞

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 169)

Demikianlah orang-orang yang ahli berdzikir memiliki kehidupan yang khusus setelah kematian.

lmam Hakim Tirmidzi rahmatullah alaih berkata, “Dzikrullah membasahi hati dan melembutkannya. Jika hati kosong dari dzikrullah, maka gejolak hawa nafsu dan api syahwat akan menyebabkan hati kering dan keras, dan anggota badan yang lain pun akan ikut mengeras, sehingga ketaatan kepada Allah SWT akan terhenti. Jika anggota badan itu ditarik, akan patah seperti kayu kering, yang kegunaannya hanya untuk dipotong kemudian dibakar.”

Wallãhu A‘lamu bish-Shawãb

____________

Source: Iqra Republika

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...