Friday , April 23 2021
Home / Agama / Kajian / Hati-hati, Jangan Berburuk Sangka Kepada Allah SWT

Hati-hati, Jangan Berburuk Sangka Kepada Allah SWT

Oleh: Muhamad Zain Aziz (1974-2018)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Jamaknya orang berburuk sangka kepada sesama. Mencurigai saudaranya secara berlebihan, tidak lagi punya trust/kepercayaan, hilang respek bahkan dendam. Itulah mengapa Islam sangat tegas memperingatkan kita agar tidak terjatuh pada perilaku buruk sangka atau berpikiranan buruk kepada sesama. Nabi bersabda: tinggalkanlah buruk sangka, sebab sebagian besar buruk sangka adalah dosa (kesalahan).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12)

Namun, yang tidak jamak adalah berpikiran negatif/buruk sangka kepada Allah, Tuhannya sendiri, Penciptanya sendiri, Pemberi rezekinya sendiri. Tidak jarang kita mengeluh, meratap, bahkan diam-diam memprotes “keputusan” Tuhan, menuduh Tuhan tidak adil, tidak memperhatikan kita, membiarkan kita, padahal klaim kita ribuan doa sudah dipanjatkan dan aneka ibadah sudah ditegakkan. Itulah sedikit potret tentang su’uddzon kepada Allah, yang ternyata efeknya justru lebih berbahaya daripada buruk sangka kepada sesama makhluk, meski sama-sama dilarang.

Dalam sebuah riwayat, Rasul pernah mewanti-wanti agar jangan sampai dicabut nyawa kita kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah SWT. Artinya, karena kita tidak tahu kapan nyawa kita akan dicabut, maka sepanjang hidup, kita harus berpikiran positif kepada Allah, jangan sekali-kali pernah punya prasangka jelek kepada Tuhan, apa pun kondisi kita.

Nah, mari kita mengenali sejak dini, gejala penyakit suuddzon billah (prasangka buruk kepada Allah) ini, dengan harapan kita bisa memahami hakikat menjadi hamba yang ikhlas dalam  menjalani hidup dengan ringan dan tanpa beban.

Imam Syafi’ie mendiagnosis ada tiga indikasi seseorang terkena gejala suuddzan billah dalam kehidupannya.

Pertama, Rasa Waswas.

Ragu-ragu adalah sesuatu yang manusiawi, akan tetapi jika overdosis atau berlebihan, maka ia berubah menjadi was-was. Selalu merasa ada yang kurang, ada yang salah, ada yang tidak sesuai, tidak pas, selalu gelisah dan serupanya, baik ketika beraktivitas, berinteraksi, terlebih ketika beribadah.

Kadangkala kita menjumpai seseorang berwudhu tidak selesai-selesai, hingga menghamburkan air wudhu berliter-liter, gegara rasa waswas saat berniat. Begitu juga ada seseorang memulai shalat dengan takbir yang diulang-ulang mirip shalat ‘Ied, tidak beres-beres, akibat waswas dan ragu yang berlebihan hingga ketinggalan imam yang sudah ruku’. Dalam ibadah, waswas dicela oleh syari’at.

Dalam kehidupan, ada orang yang selalu waswas saat meninggalkan rumah. Ia merasa apakah sudah mematikan kompor, menutup keran air, mengunci pintu dsb. Ketika bekerja pun demikian, tidak ada kemantapan, hilang percaya diri, minder berlebihan, selalu ada yang salah dalam pekerjaannya.

Sejumlah perilaku di atas adalah gejala suuddzan kepada Allah, berpikiran negatif kepada Tuhan. Kenapa? Karena ia merasa tidak yakin bahwa Allah ada untuk melindunginya. Seakan-akan ia hidup sendiri tidak ada Yang mengaturnya. Seakan-akan tidak ada celah bagi Allah untuk menoleransinya ketika ia harus salah, lupa, dan alpa. Secara tidak sadar ia sudah terjebak pada gejala awal berburuk sangka kepada Allah.

Kedua, Perasaan Takut Secara Terus Menerus atas Terjadinya Suatu Musibah.

Pernah mendengar ada orang yang tidak mau naik pesawat takut jatuh, tidak mau naik kapal takut tenggelam, tidak mau naik kereta api takut terguling dsb?

Dalam ilmu psikologi terdapat selusin jenis fobia atau ketakutan yang berlebihan atas terjadinya sesuatu atau paranoid. Dari fobia ketinggian hingga fobia terhadap jenis makanan tertentu.

Ketakutan adalah hal wajar yang dialami manusia. Menjadi tidak wajar jika sudah dihinggapi rasa cemas dan ketakutan yang di luar logika, tidak beralasan dan di luar kewajaran. Hanya karena melihat mendung hitam, berhari-hari ia tidak mau keluar rumah, bahkan perjalanan penting pun ia batalkan. Seakan-akan musibah besar akan menghadang, kecelakaan dan tragedi akan terjadi, padahal tidak ada apa-apa. Termasuk dalam hal ini adalah percaya pada hari-hari sial, angka-angka sial dan situasi-situasi lainnya yang menyurutkan keimanan kita kepada Sang Maha Pengatur alam semesta.

Mengapa hal ini dianggap berburuk sangka kepada Allah?

Sebab ia sudah terkikis kepercayaannya bahwa yang menciptakan aman dan mara bahaya adalah Allah semata. Ketika ia belum apa-apa sudah berprasangka buruk akan terjadi suatu bencana, entah itu kecelakaan, kebakaran, atau yang lainnya, maka ia sudah “memvonis” Tuhan telah merencanakan hal yang buruk baginya. Tuhan telah disangkanya hendak berbuat jahat kepadanya. Naudzubillah.

Ketiga, Mengintai Larinya Kenikmatan.

Dalam sebuah hadis, Nabi menyatakan bahwa nikmat ibarat hewan liar, maka harus diikat dengan mensyukurinya. Rasa syukur adalah tali pengikat yang kuat sehingga nikmat tidak gampang lari meninggalkan kita. Begitulah cara kita menjaga nikmat, mensyukurinya.

Namun, tidak jarang sebagian dari kita menjaga nikmat dengan cara menonjolkan sisi materi fisiknya secara absurd. Karena khawatir hilangnya nikmat tersebut, lalu mengawasinya dengan rasa kecemasan di luar logika. Ia memantaunya dengan ketat, mengintai agar jangan sampai lari. Sebentar-bentar dilihat dompetnya, memastikan bahwa uangnya aman. Sebentar-bentar mengecek saldo atm-nya, sebentar-bentar ditengok mobilnya dari ujung ke ujung, adakah yang tergores, lecet dsb. Ada rasa takut kehilangan nikmat materi.

Kekayaan materi dunia selalu menggelayut di hatinya, bahkan ketika berkomunikasi dengan Tuhannya (sembahyang), yang ada di pikirannya adalah kecemasan akan hilangnya harta, jabatan, profesi, karier, dan kenikmatan dunia lainnya.

Ia jadi tidak khusyuk dalam bermunajat, sebab terbayang motornya yang terparkir di pinggir jalan raya, terbayang sepasang sepatu seharga ratusan ribu yang ia taruh di depan masjid, jangan-jangan hilang, tertukar, dicuri dsb.

Langsung atau tidak langsung, sikap selalu memantau hilangnya nikmat adalah perilaku buruk sangka yang akut terhadap Allah SWT. Ia seakan sudah tidak lagi mempercayai bahwa kenikmatan datangnya dari Allah, lebih dari itu, ia tidak lagi percaya bahwa Allah Maha Penjaga, Maha Pelindung.

Pembaca, mari kita merenung adakah di antara kita terjangkit penyakit suuddzan kepada Allah, berpikiran negatif terhadap ketentuan dan takdir-Nya? Mari kita diagnosis sesuai resep analisis Imam Syafi’ie di atas. Jika memang ada, segera mari kita singkirkan dan kikis habis perasaan itu.

Caranya adalah pertama, dengan memperkuat totalitas kepasrahan kita, tawakkal kita kepada Allah, Dzat yang Maha Pengatur alam semesta. Kedua, dengan senantiasa mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan. Ketiga, menghilangkan rasa waswas semaksimal mungkin. Pasrahkan semua kepada Allah. Hilangkan keragu-raguan. Waspada penting dan harus, tetapi waswas wajib dihapus. Keempat, usaha riyadhah bathiniyah dengan senantiasa memperbanyak membaca Surah Mu’awwidzatain (an-Naas dan al-Falaq) agar dijauhkan dan dijaga Allah dari sikap waswas, gelisah, cemas dan ragu-ragu, yang datang baik dari jin maupun manusia (minal jinnati wan naas).

Wallahu a’alam.

Source: Madaninews.Id

About admin

Check Also

Telaah Sekilas Kitab “Zubdatul Asrar fii Tahqiiqi Ba’dhi Masyaribil Akhyar” Syekh Yusuf al-Makassari

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...