Thursday , December 9 2021
Home / Agama / Improvisasi Salik / Hakikat Pena dalam Surat Al-Qalam

Hakikat Pena dalam Surat Al-Qalam

Oleh: Prof. Dr. Nasaruddin Umar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn”.

Allah SWT befirman dalam QS. Al-Qalam:

نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ ۞

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” (QS. Al-Qalam: 1)

Bagi para sufi, ayat pertama surah al-Qalam tersebut maknanya begitu amat dahsyat. Misteri ayat ini diungkap para sufi dengan perspektif sangat berbeda dibanding makna dalam kitab-kitab tafsir kontemporer.

Ternyata, tiga komponen dalam ayat ini, yaitu Nûn, Qalam, dan lembaran (Lauh Mahfudz) menjadi asal usul segala ciptaan Tuhan. Aziz Al-Din Nasafi (Wafat 695H/1295M), seorang sufi dari Bani Kubrawi, yang pikirannya banyak dipengaruhi oleh Syeikh Ibnu ‘Arabi, menjelaskan bahwa Nûn adalah ‘bak tinta’.

Sedangkan qalam adalah pena, yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai akal pertama, dan lembaran (mâ yasthurûn) ialah lembaran yang terpelihara (Lauh Mahfuz) atau Ummul Kitâb. Nûn sebagai bak tinta adalah tempat menyimpan tinta, merupakan kelengkapan pena untuk menulis.

Nûn dihubungkan dengan QS. Al-Kahfi: 109:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا ۞

“Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’.”

Berbeda dengan Syeikh Ibnu Arabi yang mengartikan Nûn dengan Malaikat yang diperintah untuk menggunakan pena itu untuk menulis. Pendapat sama juga dikemukakan Imam Ja’far. Sebagian lagi mengartikan Nûn sebagai sungai di surga dan sejenis ikan yang pernah menyelamatkan Nabi Yunus.

Bagi Syeikh Ibnu Arabi, Nûn ialah malaikat yang melukis semua kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam. Nûn dan penanya aktif memberi pengaruh, sedangkan lembaran atau kanvas tempat menuangkan tulisan bersifat reseptif. Jadi, menurutnya, Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn adalah hierarki antara Tuhan dan makhluk-Nya.

Wal-qalami adalah sumpah Tuhan (qasm) pertama dalam Al-Qur’an yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama: Iqra’ bi ismi Rabbikalladzî khalaq, khalaqa al-insâna min alaq, iqra’ warabbuka al-akram, alladzî ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insâna mâ lam ya’lam.

ٱِقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ۞ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ۞ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ۞ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ۞ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۞

Pena atau qalam, sebagaimana juga disinggung dalam ayat keempat tadi, merupakan ciptaan Allah yang pertama dari tiada menjadi ada melalui kun fayakûn. Dalam sebuah hadits yang sering muncul dalam kitab-kitab tasawuf, pena ini diperintah dengan kata-kata, “Tulislah pada lingkaran pertama ini, yaitu lembaran Tuhan.” Pena lalu menjawab, “Wahai Tuhan, apa yang harus aku tulis?

Perintah berikutnya muncul, “Tulislah segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi hingga hari kebangkitan.” Pena menulis semuanya, sesudah itu pena menjadi kering. “Tuhan telah selesai dengan penciptaan, persediaan, dan ketentuan-ketentuan yang pasti.

Bunyi lengkap Hadits di atas adalah:

إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَ اللّٰهُ الْقَلَمَ ثُمَّ خَلَقَ النُّوْنَ وَهِيَ الدَّوَاةُ ثُمَّ قَالَ لَهُ أُكْتُبْ قَالَ وَمَا أَكْتُبُ قَالَ أُكْتُبْ مَا يَكُوْنُ أَوْ مَا هُوَ كَائِنٌ مِنْ عَمَلٍ أَوْ رِزْقٍ أَوْ أَثَرٍ أَوْ أَجَلٍ. فَكَتَبَ ذٰلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَذٰلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى (نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ) ثُمَّ خَتَمَ عَلَى فَمِ الْقَلَمِ فَلَمْ يَنْطِقْ وَلَا يَنْطِقُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ خَلَقَ اللّٰهُ الْعَقْلَ فَقَالَ وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِي لَأُكَمِّلَنَّكَ فِيْمَنْ أَحْبَبْتُ وَلَأَنْقُصَنَّكَ فِيْمَنْ أَبْغَضْتُ ۞

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Abu Abdullah Maula Bani Umayyah, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah al-qalam, kemudian Allah menciptakan Nûn yaitu tinta, lalu Allah berfirman kepada al-qalam, “Tulislah!” Al-qalam bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi, atau segala sesuatu yang akan ada, dari amal perbuatan, atau rezeki atau jejak atau ajal.” Maka al-qalam menulis semuanya itu sampai hari kiamat. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah SWT; “Nûn, demi qalam dan apa yang mereka tulis, (Al-Qalam: 1).” Kemudian al-qalam dikunci, maka ia tidak berbicara sampai hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan akal, lalu Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku, sungguh Aku benar-benar akan menyempurnakanmu terhadap orang yang Aku sukai, dan sungguh Aku benar-benar akan mengurangimu terhadap orang yang Aku murkai.”

Menurut Nasafi, pena Tuhan ialah akal pertama. Pena menulis pada dirinya sendiri dan lingkaran pertama dalam sekejap mata. Ia mengaitkan hadits di atas dengan QS. Yâsîn: 82: “Sesungguhnya perintah-Nya bila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ۞

Mekanisme dan cara kerja pena dapat pula dihubungkan dengan hadits yang sering dirujuk dalam kitab-kitab Syiah, bahwa kesimpulan Al-Qur’an ialah surah Al-Fatihah. Kalau dipadatkan, kesimpulannya terdapat pada ayat pertamanya, Bi ismi Allâh al-Rahmân al-Rahîm.

Jika dipadatkan lagi, pemadatannya terletak pada titik di bawah huruf pada kata bismillâh. Mulanya, pena menggoreskan ujungnya dalam sebentuk titik, lalu meledak dan lahirlah kepingan-kepingan yang kian besar dan mengalami expanding universe atau wa innâ lamûsi’ûn menurut istilah Al-Qur’an.

Kejadian ini juga dapat dihubungkan dengan QS. Al-Anbiyâ’: 30:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ۞

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, lalu Kami pisahkan antara keduanya. Dan, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapa mereka tiada juga beriman?

Wa mâ yasthurûn, tidak lain adalah lembaran-lembaran atau kanvas tempat pena itu menuliskan huruf-hurufnya. Lembaran itu kemudian disebut dengan Lauh Mahfûdz. Lauh Mahfûdz ini sering juga disebut dengan blueprint dari penciptaan dan kejadian seluruh makhluk.

Tidak ada satupun makhluk dapat tercipta dan tidak ada satu pun peristiwa terjadi tanpa tercatat di lembaran terpelihara ini. Dalam QS. Al-An’âm: 59, disebutkan:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ ۞

Dan, pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûdz).

Lauh Mahfûdz sering juga disebut Al-Kitab atau ada yang menyebutnya Umm Al-Kitâb. Al-Kitab dalam arti Lauh Mahfûdz inilah yang disebut di dalam QS. Al-Baqarah: 1-2, Alif Lâm Mîm, Dzâlika al-Kitâbu lâ raiba fîhi hudan lilmuttaqîn (Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa).

Perhatikan redaksi ayat ini, menggunakan kata dzâlika al-kitâb (kitab di sana) bukan hâdza al-kitâb (kitab ini). Dengan demikian, maksud Al-Kitab pada ayat kedua surah Al-Baqarah ini ialah Lauh Mahfûdz atau wa mâ yasthurûn, bukannya Al-Qur’an seperti umumnya dipahami dalam perspektif tafsir eksoteris.

Menurut Syeikh Ibnu Arabi, pena (qalam) adalah akal dan lembaran (Lauh Mahfûdz) adalah jiwa. Hubungan antara akal dan jiwa sama dengan hubungan antara pena dan lembaran. Ilustrasi lain, menurutnya, hubungan antara akal dan jiwa seperti hubungan antara kecemerlangan bulan dan cahaya matahari.

Sementara itu, hubungan antara akal dan Sang Pencipta seperti hubungan cahaya matahari dan matahari itu sendiri. Ia menyamai matahari dalam cahayanya. Juga ketika jiwa menerima limpahan akal sehingga keunggulan-keunggulannya menjadi sempurna, menyamai akal dalam tindakan-tindakannya.

Dengan demikian, pena bersifat reseptif dalam hubungannya dengan Tuhan, namun bersifat aktif dalam hubungannya dengan lembaran. Hubungan antar makhluk, baik makhluk makrokosmos maupun makhluk mikrokosmos, dapat dengan mudah dipahami melalui pendekatan seperti ini.

Untuk lebih jelasnya, pembahasan misteri qalam akan dilanjutkan dalam artikel mendatang dengan mengungkapkan perkawinan makrokosmos dan mikrokosmos. Pendapat para sufi tentang Nûn wa al-qalami wa mâ yasthurûn bisa memberikan wawasan sedemikian luas akan kemahakuasaan Allah SWT.

Pembahasan yang lebih bersifat esoteris seperti ini juga bisa membebaskan Al-Qur’an dari lingkaran pemahaman eksoteris yang terkesan kering dan menjenuhkan. Dengan segala kelemahannya, pendekatan esoteris terhadap ayat-ayat Al-Qur’an sudah merupakan suatu keniscayaan. Minimal pada ayat-ayat tertentu yang bisa memberikan perspektif baru di dalam dunia kosmologi Islam kontemporer.

Source: Republika.Co.Id

 

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...