Home / Agama / Kitab Klasik / Hakikat Hati dalam Petikan Kitab Syurûth al-‘Ârif al-Muhaqqiq Syaikh Yusuf al-Makassari (1)

Hakikat Hati dalam Petikan Kitab Syurûth al-‘Ârif al-Muhaqqiq Syaikh Yusuf al-Makassari (1)

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Guruku yang Mulia Syaikh Yusuf al-Tâj al-Khalwati al-Makassari ketika berdialog dengan sahabatnya menjelaskan tentang hati secara maknawi.

Sebuah kisah yang dipetik dari naskah Kitab Syurûṭ al-‘Ârif al-Muḥaqqiq tulisan Syaikh Yusuf sendiri. Berikut kutipan lengkapnya.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang / dan kepada-Nya aku percaya bukan kepada selain-Nya, segala puji bagi Allah yang tiada menyerupai-Nya sesuatupun. Salawat serta salam semoga tercurah atas Muhammad yang / hartanya adalah fai’ dan atas keluarganya, para sahabat dari kaum anṣâr dan muhâjirîn dan atas seluruh umat pemeluk Islam / semuanya.

Adapun setelahnya: Maka ketika Allah Ta’âlâ membawaku dengan hikmah dari pengetahuan-Nya dengan sampainya aku ke desa Rantubetaa, lalu ke / desa Baeubul di negeri Mandala yang diberkahi, semoga Allah Ta’âlâ menjaganya dari segala bencana, aku menemui seorang laki-laki / bernama ‘Abd al-Jalîl dari penduduk desa-desa tersebut dan dia termasuk dari beberapa murid al-akh al-‘Ârif billâh Ta’âlâ, seorang mursyid, / dan sesungguhnya ia adalah keberkahan bagi bagi orang-orang pada zamannya tuan kami Haji ‘Abd al-Muḥyi yang tinggal di desa Karang yang diberkahi semoga Allah memanjangkan umurnya dan menolongnya / di setiap urusannya. Âmîn.

Lalu al-akh yang (telah) disebut Abd al-Jalîl al-Mazbûr yang telah meminta dariku/ supaya aku menulis baginya untuk menjelaskan yang dimaksud dari makna hadits: “Hati seorang yang beriman termasuk singgasana (‘arsy) Allah” dan menjelaskan yang di maksud makna hadits: / ”Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya” juga dan ia meminta juga untuk menulis baginya seluruh silsilah masyâyīkh kami para penempuh jalan (al-Ṭarîq) / maka Allah mempermudah atas hal itu, silsilah para tuan Tarekat Syaṭṭâriyyah, semoga Allah memberikan kita manfaat dengan keberadaan mereka. Âmîn.

Maka aku beristikhârah kepada Allah Ta’âlâ / beberapa kali dan kuulangi hal tersebut pengulangan demi pengulangan maka aku mendapat izin dari-Nya Ta’âlâ, dan kukatakan aku bukan ahli / untuk hal itu dan aku juga bukan penunggang kuda di medan ini (bukan bidangku), sebenarnya ada orang lain (yang layak) selain bahwa aku melaksanakan amanah para syekh kita yang mereka berhak / dari apa yang ada di sana. Dengan sebab izin dari mereka dan tiada daya bagi kita dan tiada kekuatan bersama kita kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Menambahkan dan Maha Menolong dan diantara tanda / izin-Nya adalah kemudahan. Wahai yang mempermudah urusan mudahkanlah dan jangan Kau sulitkan wahai yang Maha Mulia.

Semoga Allah memberi petunjuk yang sempurna. Dan menjadikannya In syâ Allah termasuk dari penjelasan. Âmîn.

Dan sungguh para syekh kami telah memberi faedah dan mereka telah memutuskan sebuah keputusan bahwa yang dimaksud dengan hati / di sini adalah hati yang hakiki yang maknawi yang ruhani yang meluaskan al-Ḥaqq (Allah) Ta’âlâ pada cahaya penampakan di dalamnya. / Dan hal itu ditunjukkan dengan perkataan-Nya Ta’âlâ dalam hadits qudsi:

”Langit-Ku dan bumi-Ku tidak meluaskan-Ku akan tetapi telah meluaskan-Ku hati hamba-Ku yang mukmin yang bertaqwa, bersih dan wara’ yaitu meninggalkan apa-apa selain-Nya Ta’âlâ”.

Dan tidaklah disifati dengan hati yang hakiki ini / kecuali hamba-Nya Ta’âlâ yang disebut dengan Al-Insân al-Kâmil (manusia yang sempurna) bukan manusia yang kurang (al-Nâqiṣ) yang dia adalah hewan yang ẓâhir (jelas) / dalam bentuk manusia. Maka pahamilah dan jangan kau salah paham.

Dan jangan pula kau mengira bahwa ‘arsy Allah Ta’âlâ dalam hadits ini adalah hati / yang kiasan, yang inderawi, yang berbentuk daging yang zalim yang berbentuk sanubari (sejenis buah), bukan dan sekali-kali tidak, Maha tinggi Allah tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang zalim tentang kesombongan mereka yang besar / dan jika tidak maka tiada bagimu kecuali (pergi) ke neraka, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Jika (yang dimaksud) hati sanubari (maka) termasuk di dalamnya orang kafir dan Muslim dan orang soleh dan / orang pembangkang dan hewan dan burung dan keadaan, Sesungguhnya Allah Ta’âlâ telah menjelaskan dalam perkataannya (yaitu) hati seorang mukmin yang bertakwa yang bersih yang wara’ / yaitu meninggalkan apa-apa selain-Nya Ta’âlâ, bukan hati orang kafir yang fasik dan selain itu.

Maka ia membangun dari hal itu bahwasanya yang dimaksud dengan ‘arsy / Allah Ta’âlâ ia adalah hati yang hakiki yang ia adalah sifat seorang hamba yang mukmin yang hakiki yang disebut di seluruh dunia sebagai /  al-Insân al-Kâmil (manusia yang sempurna) bukan manusia yang kurang yang dia adalah hewan yang ẓâhir dengan bentuk manusia ini / pahamilah dan jangan salah paham.

Lalu sesungguhnya yang dimaksud dengan orang mukmin di sini adalah seorang mukmin yang kâmil (sempurna) dari manusia bukan mutlak manusia / sebagaimana disebutkan dan mukmin yang kâmil ini dia disifatkan dengan hati yang hakiki nurani sebagaimana / telah disampaikan. Maka pahamilah jika engkau mempunyai pemahaman.

Dan dia adalah yang disebut dengan hamba Allah Ta’âlâ yang hakiki dan rahasia-Nya Ta’âlâ dalam akhlak, / sebagaimana bahwa Tuhannya juga menjadi rahasia hamba yang berakhlak dengan akhlak Tuhannya, dan disebut dengan nama-Nya Ta’âlâ. Apakah / kau tak pernah mendengar bahwa nama seorang mukmin (termasuk dari) nama-Nya Ta’âlâ, hamba ini juga disebut dengan al-Mu’min dan yang selainnya / dari nama-nama(-Nya). Maka pahamilah hal itu, maka oleh karena itu Allah berkata dalam hadis qudsi:

”Manusia itu adalah rahasia-Ku / dan Aku rahasianya” dan bersabda Nabi SAW: ”Orang mukmin itu cerminnya orang mukmin”, yaitu mukmin yang pencipta (Khâliq) adalah cermin mukmin / yang diciptakan (makhlûq) dan sebaliknya, dan oleh karena itu dikatakan bahwa seorang mukmin adalah rahasia seorang mukmin (lainnya) yakni orang mukmin yang pertama menjadi rahasia orang mukmin yang lain dan sebaliknya, maka ketahuilah tentang hal itu. Dan di dalam maqam ini telah bersabda Rasul SAW; ”berakhlaklah dengan Akhlak Allah”.

Demikianlah penjelasan singkat dari kitab langka yang ditulis oleh Mursyid kami, Yang Mulia Syaikh Yusuf al-Tâj al-Khalwati al-Makassari, di mana hati secara hakiki adalah merujuk kepada sesuatu yang bukan materil seperti seketul daging yang berada di dalam jasad manusia.

Sebuah penjelasan singkat yang menghantarkan kita kepada kesadaran bahwa keluasan hati orang beriman adalah Singgasana dimana Allah SWT bersemayam. Semoga ketinggian ilmu dan rahasia Tuan Syaikh dapat menjadi sebab berlimpahnya keberkahan Allah SWT kepada kita semua, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

أَلْفَاتِحَةَ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى رُوْحِ خُصُوْصًا الشَّيْخِ يُوْسُفَ التَّاجِّ الْخَلْوَتِيِّ الْمَكَسَّارِيِّ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِي الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ، أَنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ، وَيَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ وَنَفَحَاتِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَلْفَاتِحَةَ أَثَابَكُمُ اللّٰهُ …

Al-fâtihata ilâ hadhratin nabiyyil mushthafâ rasûlillâhi muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam, wa ilâ rûhi khushûshan  asy-syaikh yûsuf al-tâj al-khalwatiyyi al-makassariy wa ushûlihim wa furû’ihim wa dzawil huqûqi ‘alaihim ajma’în, annallâha yaghfiru lahum wa yarhamuhum wa yu’lî darajâtihim fil-jannah, wa yanfa’unâ bi asrârihim wa anwârihim wa ‘ulûmihim wa nafahâtihim wa barakâtihim fid-dîni wad-dunyâ wal-âkhirah, al-fâtihata atsâbakumullâh…

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...