Home / Agama / Kajian / Gusti Allah Mboten Sare

Gusti Allah Mboten Sare

Oleh: H Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sahabatku, di hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan ini ijinkanlah aku membeberkan sedikit keilmuan tentang Allah yang tak mengenal lelah dan mengantuk dalam mengurus alam ini. Dengan kisah Nabi Musa AS berikut ini mungkin akan bisa membuat kesimpulan yang tepat bagi yang membacanya.

Nabi Musa ‘alaihissalâm merupakan Nabi yang namanya paling banyak disebut dalam Al-Qur’an yaitu 136 kali. Beliau dijuluki Kalîmullah atau orang yang diajak bicara langsung oleh Allah.

Beliau diutus untuk Bani Israel, umat yang sering bertanya hal yang aneh-aneh. Dikisahkan bahwa Nabi Musa pernah bertanya kepada para Malaikat: “Apakah Allah ‘Azza wa Jalla pernah tidur?” Riwayat lain menyebut bahwa yang bertanya itu adalah kaum Bani Israel, umatnya Nabi Musa.

Kapankah Nabi Musa diutus oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul? Menurut keterangan Sami al-Maghluts, Nabi Musa diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul sekitar tahun diutus 1450 SM.

Adapun pengukuhan kenabian dan kerasulannya saat Musa berangkat dari Madyan menuju Mesir. Sedangkan lokasinya, dalam Al-Qur’an disebutkan berada di suatu tempat yang diberkahi, yakni Thuwa (Muqaddasi Thuwâ).

Berikut ceritanya.

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ حَدَّثْنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ أُمَيَّةَ بْنِ شِبْلٍ عَنِ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ، قَالَ: “وَقَعَ فِي نَفْسِ مُوسَى: هَلْ يَنَامُ اللَّهُ؟ فَأَرْسَلَ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا فَأَرَّقَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَعْطَاهُ قَارُورَتَيْنِ فِي كُلِّ يَدٍ قَارُورَةٌ وَأَمَرَهُ أَنْ يَحْتَفِظَ بِهِمَا”. قَالَ: “فَجَعَلَ يَنَامُ تَكَادُ يَدَاهُ تَلْتَقِيَانِ فَيَسْتَيْقِظُ فَيَحْبِسُ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، حَتَّى نَامَ نَوْمَةً فَاصْطَفَقَتْ يَدَاهُ فَانْكَسَرَتِ الْقَارُورَتَانِ” قَالَ: “ضَرَبَ اللَّهُ لَهُ مَثَلًا عَزَّ وَجَلَّ: أَنَّ اللَّهَ لَوْ كَانَ يَنَامُ لَمْ تَسْتَمْسِكِ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ”

Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abu Israil, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Umayyah ibnu Syibl, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW yang ada di atas mimbarnya mengisahkan kejadian yang dialami oleh Musa: Timbul pertanyaan di dalam hati Nabi Musa, apakah Allah tidur?

Maka Allah mengutus Malaikat kepadanya dan Musa dibuatnya mengantuk selama tiga hari. Sebelumnya Malaikat itu memberikan dua buah botol kepadanya, pada masing-masing tangan satu botol; dan memerintahkan kepadanya agar kedua botol itu dijaga (jangan sampai pecah).

Lalu Musa tertidur dan kedua tangannya hampir saja bertemu satu sama lainnya, tetapi ia keburu bangun, lalu ia menahan keduanya supaya jangan beradu dengan yang lainnya.

Akhirnya Musa tertidur sejenak dan kedua tangannya beradu hingga kedua botol itu pecah. Nabi bersabda:

Allah membuat suatu perumpamaan; seandainya Allah tidur, niscaya langit dan bumi tidak dapat dipegang-Nya.”

Sementara keterangan dari Ibnu Abbas, orang-orang Bani Israil pernah bertanya: “Hai Musa, apakah Tuhanmu tidur?” Nabi Musa menjawab: “Bertakwalah kalian kepada Allah.” Maka Tuhan berseru kepadanya:

Hai Musa, mereka menanyakan kepadamu, apakah Tuhanmu tidur? Maka ambillah dua buah botol, lalu peganglah pada kedua tanganmu dan janganlah kamu tidur pada malam harinya.”

Nabi Musa melakukan hal itu. Ketika sepertiga malam hari lewat, Musa merasa mengantuk hingga ia jatuh terduduk. Tetapi ia terbangun, lalu dengan segera ia membetulkan letak kedua botol itu. Tetapi ketika malam hari berada pada penghujungnya, Nabi Musa mengantuk dan kedua botol itu jatuh, lalu pecah. Maka Allah berfirman:

Hai Musa, seandainya Aku mengantuk, niscaya terjatuhlah langit dan bumi dan hancur berantakan, sebagaimana kedua botol yang ada pada kedua tanganmu itu terjatuh.”

Kemudian Allah menurunkan Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah Ayat 255) kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dalam Hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِيْ لَهُ أَنْ يَنَامَ

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak tidur dan tidak sepatutnya bagi-Nya untuk tidur.”

Di dalam Ayat Kursi, Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah mengantuk dan tidak tidur. Berikut firman-Nya:

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS Al-Baqarah [2]: 255)

Di antara kesempurnaan sifat Qayyum-Nya ialah Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah pula tidur. Semua amal perbuatan manusia dilaporkan kepada-Nya siang hari sebelum amal perbuatan malam hari, dan amal perbuatan malam hari sebelum amal perbuatan siang hari. Hijab (penghalang)-Nya adalah Nur atau api.

Seandainya Dia membuka hijab-Nya, niscaya Kesucian Zat-Nya akan membakar semua makhluk sejauh pandangan-Nya.

 

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...