Tuesday , September 28 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / “Garuda Shield” Antisipasi “Dragon Shield”?
Dalam rangka "Latihan Bersama Garuda-Shield 2021", 330 Tentara Amerika tiba di Kota Palembang.

“Garuda Shield” Antisipasi “Dragon Shield”?

Latihan Bersama besar-besaran Tentara Amerika dengan TNI AD dengan sandi “Garuda Shield” akan dilaksanakan tanggal 1 hingga 14 Agustus 2021 di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Tak bisa dipungkiri Latihan Bersama saat ini berkaitan dengan ketegangan global antara Amerika dengan China. Khususnya klaim China soal Laut China Selatan.

Publik dalam negeri memandang Latihan Bersama ini ada hubungannya dengan menguatnya cengkeraman RRC atas negara Indonesia baik program jalan sutera OBOR (One Belt One Road) maupun dominasi ekonomi termasuk TKA asal China yang membanjir. TNI AD bermanuver di tengah hangatnya kondisi politik global dan nasional tersebut.

Secara formal “Garuda Shield”, sebagaimana penjelasan KSAD Jenderal Andika, adalah kerjasama rutin tahunan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personal TNI AD, namun sebagaimana penegasan pihak US Army kerjasama ini memberi bobot khusus pada tekad AS untuk mendukung kepentingan keamanan teman dan sekutu di kawasan.

Commanding General of USARPAC, Charles A Flyn, menyatakan “program ini seperti latihan multinasional Pasifik menjelajah ke wilayah negara lain”.

Nampaknya, Latihan Bersama “Garuda Shield” kali ini agak istimewa bahkan menjadi Latihan Bersama terbesar dalam sejarah. Sejumlah 2.282 personal tentara Angkatan Darat AS akan terlibat.

Peningkatan ketegangan global yang berimbas pada ketegangan nasional berefek politik. Pemerintahan Jokowi yang terlalu dekat dengan RRC tentu menjadi kurang nyaman.

Lalu, demi kebijakan politik luar negeri yang “bebas aktif” mungkinkah setelah ini akan diadakan Latihan Bersama “Garuda Shield” lain dengan Tentara China yang bisa saja bersandi “Dragon Shield”? Jawabannya adalah sulit dan kemungkinan kecil untuk terjadi, dengan alasan:

Pertama, Tentara China tidak terbiasa “bersekutu” apalagi melalui Latihan Bersama. Hegemoninya senantiasa mengandalkan kekuatan sendiri. Berbeda dengan politik militer AS yang gemar keroyokan sejak dulu, karenanya sebutan populer untuk ini adalah tentara sekutu (allied army).

Kedua, hegemoni China selalu berbasis ekonomi, sehingga unjuk kekuatan militer bersama dengan negara “sahabat” akan berpengaruh pada stabilitas penguasaan ekonomi dan bisnis. Menekankan pada kerjasama politik dan militer menakutkan pelaku bisnis China.

Ketiga, rakyat Indonesia tidak mudah menerima kehadiran Tentara China walau sekadar Latihan Bersama. Di samping trauma pada sejarah pemberontakan PKI yang dikendalikan RRC, juga masyarakat beragama khususnya umat Islam akan bereaksi keras menentang Latihan Bersama yang dipandang bagian dari penguatan penyebaran ideologi Komunis. Musuh agama.

Latihan Bersama US Army dengan TNI AD saat ini strategis dan dapat mempengaruhi istana. Mengevaluasi persahabatan erat dengan RRC atau menyerah. “Garuda Shield” Agustus adalah todongan senjata ke arah Istana. Berlebihankah?

Mungkin iya, mungkin tidak, maybe yes, maybe no.

Oleh: M. Rizal Fadillah, Pemerhati politik dan kebangsaan
Source: nkriku.com

About admin

Check Also

Cola dan Tiongkok Bawahan Sriwijaya

PEDAGANG dari Sriwijaya, Cola, dan Arab beramai-ramai mendatangi pelabuhan milik Dinasti Song di Tiongkok. Banyaknya ...