Home / Ensiklopedia / Analisis / Fakta-fakta Ilmuwan Johann Wolfgang von Goethe Seorang Muslim

Fakta-fakta Ilmuwan Johann Wolfgang von Goethe Seorang Muslim

Johann Wolfgang von Goethe adalah seorang ilmuwan ber-IQ tinggi, lahir di Frankfurt, 28 Agustus 1749 M., dan meninggal di Weimar, 22 Maret 1832 pada umur 82 tahun.

Beliau adalah seorang novelis, sastrawan, humanis, ilmuwan, dan filsuf Jerman.

Goethe adalah salah satu dari tokoh terpenting dalam dunia sastra Jerman dan Neoklasisme dan Romantisisme Eropa pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Ia adalah pengarang Faust dan Zur Farbenlehre (“Tentang Teori Warna”), serta merupakan inspirasi bagi Darwin dengan penemuan terpisahnya terhadap tulang rahang pramaksilia manusia dan fokusnya kepada evolusi.

Pengaruh Goethe tersebar di sepanjang Eropa, dan selama seabad ke depan karyanya merupakan sumber inspirasi utama dalam musik, drama, dan puisi.

Namanya diabadikan menjadi nama universitas negeri di kota kelahirannya, Universitas Goethe Frankfurt. Stanford University Press pernah merilis berdasarkan data Catharine Morris Cox tahun 1926 tentang urutan IQ para ilmuwan, dan Johann Wolfgang von Goethe berada di urutan pertama.

Masa Kecil

Johann Wolfgang von Goethe dilahirkan pada 28 Agustus 1749 di kota Frankfurt sebagai anak sulung dari delapan bersaudara, namun hanya dia dan adik perempuannya yang bertahan hidup. Ayahnya adalah Johann Caspar Goethe, seorang ahli hukum, cendikiawan, pecinta seni, dan ilmu pengetahuan yang kaya raya. Sejak kecil, Goethe tidak pernah masuk ke dalam sekolah umum, tetapi dia belajar di rumah oleh guru privat dan ayahnya sendiri. Pada usia 8 tahun, Goethe mulai menulis puisi dan dia menunjukkan ketertarikan pada teater sehingga ayahnya rutin mengadakan pertunjukan teater boneka di rumahnya.

Di usia 16 tahun, Goethe mulai berkuliah di Jurusan Hukum Universitas Leipzig, namun lebih banyak menghabiskan waktu untuk melukis dan menulis sastra. Pada tahun 1767, dia menerbitkan kumpulan puisinya yang pertama, Anette (kekasih Goethe di Leipzig). Kumpulan puisi bergaya rokoko tersebut diterbitkan secara anonim. Tahun 1768, Goethe kembali ke Frankfurt karena menderita sakit dan ayahnya kurang puas dengan perkembangan sekolah Goethe. Pada tahun 1770, Goethe kembali mempelajari hukum di kota Strassburg dan lulus dengan gelar Litentatius Juris (sepadan dengan doktor).

Karier

Ketika Goethe berkuliah di Strassburg, dia bertemu dengan Johann Gottfried Herder, seorang teologi, filsuf, budayawan, dan kritikus seni terkenal pada masa itu. Herder membuat Goethe menjadi prbadi yang terbuka pada keberagaman dunia sastra, berbagai genre, dan sastra semua bangsa. Sebelum ulang tahunnya yang ke-22, Goethe kembali ke Frankfurt dan bekerja sebagai pengacara. Ia juga mulai bergaul dengan kalangan sastrawan dan budayawan, hingga akhirnya menerbitkan drama Götz von Berlichingen (tokoh sejarah abad ke-16) yang dianggap sebagai revolusi sastra. Goethoe dan Herder juga dikenal sebagai penggerak utama aliran Sturm und Drang (Badai dan Desakan).

Patung Goethe di Taman Istana Kaisar, Burggarten, Wina, Austria.

 

Weimar

Pada tahun 1744, Goethe yang baru saja patah hati dengan Lili Schönemann, mendapatkan tawaran sebagai pejabat kehertogan di kota Weimar dari Carl August, hertog Weimar-Sachsen-Eisenach. Sejak November 1775, Goethe melakukan tugasnya dengan baik dan akhirnya menjadi perdana menteri dengan gelar kebangsawanan. Selama 10 tahun pertama menjadi politikus, Goethe hanya sempat meluangkan waktu untuk menulis puisi dan sisanya diberikan untuk ilmu alam, khususnya biologi anatomi. Pada tahun 1784, dia menemukan sebuah tulang kecil (os intermaxillare) pada kepala manusia yang mengejutkan para ahli karena dulunya tulang tersebut dianggap hanya ditemukan pada hewan. Pada tahun 1786, karena jenuh akan tugasnya, Goethe meminta cuti kepada Carl August untuk pergi ke Italia yang sejak dulu ingin dikunjunginya.

Italia

Dalam kurun waktu 2 tahun, Goethe mempelajari kesenian dan arsitektur klasik dari zaman Romawi dan Yunani, serta renaissance. Di Italia, Goethe menulis beberapa karya, antara lain: Iphigenie auf Tauris (Ifigenia di Semenanjung Tauris), drama Egmont, drama sejarah Torquato Tass, dan kumpulan puisi Römische Elegien (Elegi-elegi Roma). Perjalanan Goethe di Italia banyak mempengaruhi aliran zaman klasik Jerman yang dipelopori oleh Goethe.

Kembali ke Weimar

Tahun 1788, ketika Goethe kembali ke Weimar sebagai menteri, dia memutuskan untuk menangani bidang budaya dan ilmu pengetahuan. Selain itu dia juga menjadi pemimpin dan sutradara teater Kehertogan, Inspektur Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan di Weimar dan kota Universitas Jena. Pada tahun yang sama, dia bertemu dengan Christiane Vulpius, yang setahun kemudian melahirkan August, anak dari Goethe. Pada tahun 1806, Goethe resmi menikah dengan Christiane dan mereka hidup berdampingan hingga istrinya meninggal pada tahun 1815.

Selanjutnya, Goethe bertemu dengan Friedrich von Schiller dan bersama-sama menulis kumpulan epigram berjudul Xenien dan Tabulae Votivae. Goethe dan Schiller merupakan puncak zaman klasik Jerman (Klasik Weimar) hingga Schiller meninggal pada tahun 1805. Karya-karya lainnya ditulis oleh Goethe adalah novel trilogi Wilhelm Meister (1796), epos satiris Reineke Fuchs(1793), dan karya-karya ilmiah Metamorphose der Pflanzen (Metamorfosis Tumbuh-Tumbuhan) (1790), Beiträge zur Optik (Sumbangan pada ilmu optik) (1791), dan Farbenlehre (teori warna) (1810).

Akhir hidup

Pada usia 66 tahun, Goethe melepaskan jabatan terakhirnya sebagai pemimpin Teater Kehertogan, kemudian dia hidup bersama putranya dan dirawat oleh menantunya. Pada masa tuanya, Goethe masih sempat menulis otobiografi dirinya, Dichtung und Wahrheit (Fiksi dan Kebenaran), West-Östlicher Diwan (Diwan Barat-Timur), dan Faust, salah satu drama panjang terpenting dalam dunia sastra. Pada tahun 1822, Goethe mengalami serangan jantung dan selama satu tahun sakit-sakitan. Setelah itu, pada tahun 1828, Herzog Carl August, teman sekaligus pendukung Goethe meninggal dunia. Diikuti dengan meninggalnya August, putra tunggal Goethe dalam perjalanan ke Italia pada tahun 1830. Hal ini membuat Goethe semakin merasa kesepian dan terus sakit-sakitan. Hingga pada Maret 1832, dia mengalami serangan jantung kedua yang diperparah dengan timbulnya infeksi paru-paru. Pada 22 Maret 1832, Goethe meninggal dunia di Weimar dan dikuburkan di samping makam sahabatnya, Friedrich Schiller.

Fakta-Fakta Kemusliman Goethe

Goethe mengenal Islam sejak usia muda. Hal itu berawal dari minatnya di bidang studi ketimuran. Ia membaca al-Qur’an melalui terjemahan Bahasa Jerman karya JP. Heimer dan terjemahan dalam Bahasa Inggris karya George Seale. Ia juga membaca sya’ir-syair karya ulama sufi, seperti al-Hafidz, al-Sa’adi, al-‘Atthar dan Jalaluddin Rumi. Goethe begitu terpesona dengan karya-karya mereka hingga kisah hidupnya.

Goethe juga diketahui belajar membaca dan menulis Arab hingga ia tertarik untuk mencoba menulis beberapa karyanya dalam Bahasa Arab. Hal ini diketahui setelah wafatnya, bahwa telah ditemukan sebuah dokumen salinan al-Qur’an Surat-Surat pendek hasil tulisan tangannya sendiri. Bahkan telah ditemukan sebuah dokumen tulisan sendiri dalam bahasa Jerman yang di atasnya tertulis kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” dalam bahasa Arab.

Dalam beberapa karyanya, Goethe juga mengemukakan pandangannya tentang Islam, bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang benar. Goethe meyakini keesaan Allah dan meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, serta meyakini akan kebenaran al-Qur’an. Semua keyakinannya itu ia transkripsikan dalam sebuah buku puisinya yang berjudul “West Oestlicher Divan” atau “West Easterly Divan” (Diwan Barat dan Timur) yang diselesaikannya pada tahun 1819. Ia juga menuangkan karyanya itu dalam bahasa Arab yang berjudul “al-Diwanu al-Syarqiyyu al-Muallifi al-Gharbiyyi“.

“West Oestlicher Divan” (von Goethe)

 

Dalam bukunya itu ia mengatakan dengan bahasa puitis:

“Apakah al-Qur’an abadi?
Itu tak kupertanyakan.
Apakah al-Qur’an ciptaan?
Itu tak kutahu.
Bahwa ia Kitab dari segala kitab,
Sebagai Muslim wajib kupercaya”.

Dalam tulisan lain ia juga mengungkapkan tentang Islam dengan bahasa puitis:

“Alangkah pandir menganggap diri istimewa.
Mengira keyakinan sendiri benar belaka.
Bila Islam berarti berserah diri kepada Tuhan,
maka dalam Islam kita hidup dan mati”.

Goethe juga menulis syair khusus tentang kekagumannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan judul, “Mahomet Gesang”:

“Dia adalah seorang Rasul dan bukan Penyair. Dan karenanya, al-Qur’an ini adalah hukum Tuhan, bukan buku karya manusia yang dibuat sekedar bahan pendidikan atau hiburan”.

“Jadi, kebangkitan Muhammad yang gagah berani, penyebaran agamanya yang cepat dan berkumpulnya semua orang di bawah satu agama telah berhasil digambarkan melalui simbol sungai yang kuat”.

“Juga kalian, mari, dan kini lebih ajaib, ia membesar-meluas, seluruh ras menyanjung Pangeran ini”.

“Kami masyarakat Eropa dengan semua konsep dan ide-ide belum mencapai apa yang telah dicapai oleh Muhammad, dan tak seorang pun yang akan melampauinya. Saya mempelajari sejarah, orang yang paling mulia untuk diikuti, dan saya menemukannya pada diri Nabi Muhammad. Dengan demikian, kebenaran itu harus diakui dengan agung, karena Muhammad berhasil dalam menundukkan seluruh dunia melalui pesan Keesaan Tuhan”.

Pada suatu malam yang unik, saat masyarakat Jerman sedang riuh gempita merayakan hari Natal, Goethe malah menulis syair tentang tauhid yang dibawa Nabi Muhammad:

“Dan kebenaran sudah menyingsing. Apa yang diakui Muhammad hanya ada Satu Tuhan. Dialah Penguasa semesta alam”.

Dalam tulisannya yang lain, secara blak-blakan, Goethe menuliskan sebuah pernyataan yang bersebarangan dengan kebanyakan masyarakat Jerman:

“Puisi ini tidak menolak kebenaran, bahwa diri ini adalah Muslim”.

Kemudian, dalam surat Goethe yang dituliskannya untuk anaknya yang tunggal, August, pada tanggal 17 Januari 1814, mengatakan:

“Beberapa agama telah mengecoh kita, hingga kemudian datang al-Qur’an ke perpustakaan kita”.

Demikianlah saudaraku, tentang ilmuwan yang mendapatkan hidayah Allah SWT di tengah-tengah masyarakatnya yang justru phobia terhadap Islam. Semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam.

Source: Dihimpun dari berbagai sumber.

 

 

About admin

Check Also

Syaikh Jalaluddin Rumi Berbicara Cinta (2)

“Akal yang mencoba menjelaskan tentang cinta tak ubahnya seekor keledai dalam payah dan pena yang ...